GalaPos ID, Jakarta.
Forum Peduli Literasi Masyarakat melahirkan wadah baru berbasis audio visual bernama Komunitas Luminesa. Komunitas ini hadir dengan tujuan menjadi medium edukasi sekaligus produksi pengetahuan melalui pendekatan sinema.
Pada perayaan Tahun Baru, Luminesa menggelar pemutaran layar tancep sebagai upaya kultural menghidupkan kembali tradisi menonton bersama di ruang publik Jakarta.
![]() |
| Dok FILeM: FILeM menghadirkan Layar Tancap dan Taman Bacaan Rakyat sebagai langkah nyata menumbuhkan budaya literasi dan minat baca masyarakat. Foto: istimewa |
"Di tengah dominasi hiburan digital yang serba personal, Komunitas Luminesa memilih jalan berbeda dengan menghidupkan kembali layar tancep sebagai ruang literasi, kebersamaan, dan dialog sosial."
Baca juga:
- Hetifah Sjaifudian Dorong Pemulihan Pascabencana Berbasis Riset
- Prabowo: Negara Serius Tangani Bencana Meski Tak Berstatus Nasional
- Dari Batu Bara ke Bareskrim, Rekam Jejak Jose DC Fernandes
Gala Poin:
1. Luminesa menghidupkan kembali layar tancep sebagai praktik literasi audiovisual dan ruang sosial.
2. Film Benyamin Sueb digunakan sebagai media literasi budaya bagi generasi muda.
3. Layar tancep dinilai mampu memperkuat kohesi sosial di tengah dominasi hiburan digital.
Pemutaran layar tancep tersebut bukan sekadar hiburan malam, melainkan upaya mengaktifkan kembali memori kolektif masyarakat terhadap praktik menonton bersama yang pernah tumbuh subur di masa lampau.
Inisiatif ini muncul di tengah perubahan pola konsumsi hiburan yang kini semakin individual dan berbasis gawai.
“Di tengah perubahan pola konsumsi hiburan yang semakin individual dan berbasis gawai, komunitas Luminesa menghadirkan kembali layar tancep sebagai ruang bersama untuk menonton film, membangun literasi, serta memperkuat keakraban sosial di tengah masyarakat,” ujar Dahlan, founder Luminesa, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Kamis, 1 Januari 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Luminesa memutar film Buaye Gile dan Musuh Bebuyutan yang dibintangi Benyamin Sueb, sosok legendaris dan ikon kebudayaan Betawi.
Baca juga:
TVRI Pastikan Siaran Piala Dunia 2026 Gratis
Kehadiran film-film Benyamin Sueb dinilai relevan sebagai sarana literasi budaya, khususnya bagi generasi Z dan orang muda, untuk memahami sejarah serta dinamika sosial Jakarta melalui medium sinema.
Kegiatan layar tancep ini dirancang sebagai praktik literasi audiovisual. Film diposisikan sebagai teks budaya yang dapat dibaca, dimaknai, dan didiskusikan secara kolektif oleh masyarakat.
“Menonton film bersama adalah pengalaman sosial. Ia membuka ruang dialog, menumbuhkan empati, dan mempererat rasa kebersamaan. Layar tancep memungkinkan masyarakat kembali berkumpul, saling menyapa, dan berbagi makna,” tutur Dahlan.
Lebih dari sekadar tontonan, layar tancep memiliki fungsi penting sebagai medium kohesi sosial. Aktivitas menonton bersama di ruang terbuka mendorong interaksi antarwarga, membangun semangat gotong royong, serta memperkuat ikatan sosial yang kerap tergerus oleh hiburan digital yang bersifat personal.
![]() |
| Gelaran Layar Tancap Luminesa dipindahkan ke Sekretariat Forum Peduli Literasi Masyarakat, Petamburan IV, akibat hujan. Foto: istimewa |
Warga terlibat sejak tahap persiapan, mulai dari penataan ruang, penyediaan perlengkapan, hingga makan bersama setelah pemutaran film. Dari sisi literasi, film menjadi sarana pembelajaran yang kontekstual dan mudah diakses.
Melalui narasi visual, masyarakat diajak membaca realitas sosial, memahami nilai-nilai kemanusiaan, serta mengasah kemampuan berpikir kritis.
Diskusi ringan pascapemutaran menjadi bagian integral kegiatan, membuka ruang pertukaran pandangan secara setara. Inisiatif ini sejalan dengan pendekatan literasi kontemporer yang menekankan pentingnya literasi visual dan media sebagai pelengkap literasi baca-tulis.
Di tengah derasnya arus informasi audiovisual, kemampuan memahami pesan film dan gambar menjadi kompetensi penting bagi masyarakat.
Baca juga:
Masyarakat Tonton Piala Dunia 2026 Gratis, Saleh Daulay: Momentum TVRI
Luminesa menilai layar tancep sebagai bentuk literasi yang membumi dan inklusif, menjembatani hiburan, pendidikan, dan interaksi sosial dalam satu ruang egaliter.
Ke depan, Luminesa merencanakan workshop film bagi orang muda sebagai pelatihan intensif produksi film, sekaligus melanjutkan program layar tancep literasi sebagai upaya membangun masyarakat yang kritis, berempati, dan solid secara sosial.
Baca juga:
Durian, Lezat Tapi Berisiko untuk Bayi dan Balita
"Komunitas Luminesa menggelar layar tancep di Jakarta sebagai praktik literasi audiovisual, menghadirkan film Benyamin Sueb untuk membangun keakraban sosial dan kesadaran budaya masyarakat."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #LayarTancep #LiterasiVisual #RuangPublik
.jpeg)
.jpeg)