Integrated Farming Jadi Solusi Warga Ditengah Kenaikan Harga Cabai

GalaPos ID, Bantul.
Di lereng perbukitan Padukuhan Srunggo 2, Selopamioro, Imogiri, Bantul, ketekunan Mbah Ngadiyo merawat cabai rawit menjadi potret ketahanan petani kecil di tengah gejolak harga pangan nasional.
Menjelang Ramadan, harga cabai di Kota Mataram, NTB, melonjak hingga Rp60 ribu per kilogram—dipicu cuaca, distribusi yang belum efisien, dan lemahnya pengawasan pasar—menegaskan pentingnya penguatan produksi lokal dan perbaikan tata niaga untuk menjaga stabilitas harga.

Dari Buruh Bangunan ke Petani Mandiri Lewat Pertanian Terpadu
Di lereng perbukitan Padukuhan Srunggo 2, Kalurahan Selopamioro, Imogiri, Bantul, sepasang suami istri lanjut usia terus menggantungkan hidup pada cabai rawit. Foto: BAZNAS
 

"Di tengah naik-turunnya harga cabai nasional, sepasang suami istri di lereng Imogiri memilih bertahan dengan cara mereka sendiri: menyatukan cabai dan ternak dalam satu ekosistem hidup."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Integrated farming menyatukan cabai dan ternak dalam satu sistem berkelanjutan.
2. Pendampingan menjadi kunci peningkatan produktivitas petani kecil.
3. Kisah Mbah Ngadiyo mencerminkan ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga.


Bagi Mbah Ngadiyo, menyiram cabai bukan sekadar rutinitas. Setiap tetes air menjadi penentu keberlangsungan tanamannya. Bersama sang istri, ia merawat cabai sekaligus memelihara ternak dengan penuh kesabaran. Kekompakan mereka menjadi kekuatan utama menghadapi keterbatasan ekonomi.

Namun perjuangan itu tidak mudah. Lahan yang berada di dataran tinggi membuat akses air menjadi persoalan serius. Keterbatasan sumber air kerap menjadikan penyiraman sebagai pekerjaan berat. Meski demikian, Mbah Ngadiyo tidak menyerah.

Ia terus menjaga tanaman tetap hidup, sembari memastikan ternaknya tetap sehat dan produktif. Perubahan mulai terasa ketika ia bergabung dalam program pemberdayaan ekonomi berbasis integrated farming system.

Melalui pendampingan dan pelatihan, Mbah Ngadiyo belajar mengelola pertanian dan peternakan secara terpadu dalam satu ekosistem.

Baca juga:
Mahasiswa KKN-T Unhas Sulap Abu Sekam Padi Jadi Batu Ringan di Amparita

Dengan sistem ini, limbah ternak dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman cabai, sementara hasil pertanian mendukung kebutuhan pakan ternak. Pola ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menekan biaya produksi dan lebih ramah lingkungan.

“Alhamdulillah, dengan pendampingan BAZNAS, saya jadi lebih paham bagaimana mengatur tanaman dan ternak supaya bisa saling menguntungkan,” ujar Mbah Ngadiyo, dikutip dari BAZNAS, 25 September 2025.

Sebelum mengikuti program tersebut, Mbah Ngadiyo mengandalkan penghasilan harian sebagai buruh bangunan. Kini, meski masih sederhana, pertanian cabai dan ternak terpadu memberi tambahan penghasilan yang lebih stabil. Bagi Mbah Ngadiyo, kemandirian ini adalah langkah kecil menuju kehidupan yang lebih bermartabat.

Bertani Cabai dan Beternak: Kisah Mbah Ngadiyo Melawan Keterbatasan
Menjelang Ramadan, harga cabai di Mataram, NTB, kembali bergejolak. Pasokan terganggu akibat cuaca, pemerintah diminta memperketat pengawasan pasar, Jumat, 30 Januari 2026.

 

Diketahui, harga cabai di sejumlah pasar tradisional Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mengalami kenaikan signifikan menjelang bulan Ramadan. Komoditas yang sebelumnya dijual sekitar Rp25 ribu per kilogram kini melonjak hingga Rp60 ribu per kilogram.

Kenaikan harga ini dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kondisi cuaca hingga berkurangnya pasokan. Curah hujan yang tinggi disebut berdampak langsung terhadap hasil panen petani, sehingga distribusi cabai ke pasar menjadi terbatas di tengah meningkatnya permintaan masyarakat.

Roh, salah seorang pedagang cabai di Kota Mataram, mengungkapkan bahwa musim hujan membuat produksi cabai menurun, sehingga distributor mengurangi pasokan ke pedagang.

“Musim hujan ini sangat berpengaruh. Panen petani berkurang, otomatis pasokan ke kami juga turun, jadi harga terpaksa naik,” ujar Roh, Jumat, 30 Januari 2026.

 

 

Baca juga:
Rieke Diah Pitaloka Soroti Banjir Karawang, Solusi Bukan Sekadar Sembako

"Kisah Mbah Ngadiyo di Bantul membuktikan bahwa integrated farming mampu menjadi solusi ekonomi berkelanjutan bagi petani kecil cabai dan peternak di lahan terbatas."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #IntegratedFarming #Cabai #KetahananPangan

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال