GalaPos ID, Lembata.
Berangkat dari kegelisahan atas rendahnya minat baca generasi muda, tujuh pemuda Desa Pantai Harapan, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, membuka lapak baca gratis bertajuk “Teman Duduk”. Inisiatif ini lahir dari diskusi sederhana, namun menyasar persoalan serius: krisis literasi di wilayah pesisir.
Inilah ceita Tujuh pemuda Desa Pantai Harapan, Lembata, dengan lapak baca gratis “Teman Duduk” di kawasan pesisir.
![]() |
| Anak-anak dan pemuda pesisir Lembata membaca buku di lapak baca Teman Duduk, inisiatif swadaya pemuda desa yang lahir dari kegelisahan atas rendahnya minat baca masyarakat. Foto: A Boro Huko |
"Di tengah alarm rendahnya literasi di Kabupaten Lembata, tujuh pemuda desa pesisir memilih bergerak diam-diam. Tanpa proyek, tanpa anggaran, hanya bermodal buku pribadi dan panggilan hati."
Baca juga:
- Terseret Ombak, Pemancing 17 Tahun Ditemukan Meninggal 1,6 Km dari Lokasi
- Bencana di Sumatra: Alam atau Gagal Tata Kelola Negara?
- Drama Angkat Besi, Lifter Luluk Diana Juara Kelas 48 Kg SEA Games
Gala Poin:
1. Inisiatif literasi lahir dari kegelisahan pemuda desa pesisir.
2. Lapak baca gratis diakses lintas usia tanpa dukungan anggaran pemerintah.
3. Menjadi embrio taman baca dan literasi keliling di Lembata.
Penggagas lapak baca tersebut, Hamdan Hamado, lulusan Magister Humaniora asal Makassar, bersama enam rekannya mengumpulkan buku dari koleksi pribadi. Tanpa dukungan dana pemerintah, mereka membuka ruang baca terbuka yang bisa diakses siapa saja.
"Hari ini cukup banyak masyarakat yang ikut membaca adik-adik sekolah dari SD, SMP, Mts, pemuda maupun masyarakat yang pulang dari kebun dan laut juga singgah untuk membaca dan juga melihat-lihat langsung koleksi buku yang ada," jelas Hamdan, Sabtu 13 Desember 2025.
Lapak baca ini tidak hanya menyasar pelajar, tetapi juga warga dewasa yang selama ini jauh dari akses bacaan. Fenomena ini mencerminkan kebutuhan literasi lintas usia di Lembata, daerah yang masih menghadapi persoalan buta huruf, terutama di kalangan orang tua.
Hamdan menegaskan, gerakan ini tidak berhenti di satu titik.
"Sekarang ini untuk menarik minat baca kami nanti pakai sistem keliling dari desa- desa se kabupaten Lembata, untuk menarik minat baca. Kami berharap nantinya ada taman baca, agar menjadi nafas baru di dalam ritme baru kehidupan masyarakat," tutur Hamdan.
Baca juga:
SEA Games 2025: Ubed vs Alwi, Indonesia Kunci Emas Tunggal Putra
Saat ini, keterbatasan koleksi buku menjadi tantangan utama. Mayoritas bacaan masih didominasi buku dewasa, fiksi dan nonfiksi, hasil kumpulan pribadi para penggagas yang sebagian besar berlatar belakang akademik.
Jika mendapat respons positif dari masyarakat, Hamdan dan rekan-rekannya berencana membangun koordinasi dengan tokoh adat dan pemerintah desa, sekaligus membuka jalur donasi buku untuk memperkaya koleksi bacaan anak dan remaja.
"Taman baca Teman duduk sendiri, berawal dari ide kami bertuju. Saat duduk diskusi di warung kopi. Ketika berdiskusi di warung kopi yang bernaman teman duduk menjadi inspirasi untuk menggagas taman baca gratis Teman duduk ini," kata Hamdan.
Gerakan ini menjadi contoh bahwa literasi tidak selalu menunggu kebijakan, tetapi bisa lahir dari kesadaran warga yang membaca realitas sekitarnya.
Inisiatif tujuh pemuda Desa Pantai Harapan membuka lapak baca gratis “Teman Duduk” merupakan contoh nyata gerakan akar rumput yang lahir dari kegelisahan intelektual dan kepedulian sosial. Di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan dan rendahnya capaian literasi di Kabupaten Lembata, langkah swadaya ini menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu program formal pemerintah.
Namun demikian, gerakan ini sekaligus menjadi cermin absennya peran negara dalam menyediakan ruang baca yang layak dan berkelanjutan, terutama bagi masyarakat pesisir yang selama ini kerap berada di pinggiran pembangunan pendidikan.
Baca juga:
Scamming dan Online Gambling, Kemlu Pulangkan 54 WNI dari Myanmar–Thailand
Di sisi lain, keterbatasan koleksi buku dan dominasi bacaan untuk orang dewasa menegaskan bahwa semangat idealisme saja tidak cukup tanpa dukungan sistemik. Harapan para penggagas untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa dan tokoh adat seharusnya segera ditindaklanjuti secara konkret, bukan sekadar wacana.
Jika tidak, lapak baca ini berisiko berhenti sebagai gerakan temporer yang bergantung pada energi sukarela. Padahal, dengan data literasi Lembata yang masih berada di zona merah dan level sedang, pemerintah daerah semestinya menjadikan inisiatif seperti “Teman Duduk” sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada generasi muda.
Baca juga:
Fakta Mengejutkan di Balik Rematik
"Tujuh pemuda Desa Pantai Harapan, Lembata, membuka lapak baca gratis “Teman Duduk” sebagai respons krisis literasi. Gerakan swadaya ini menyasar anak hingga orang dewasa."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Literasi #Lembata #PemudaPesisir
.jpg)
.jpg)
.jpeg)