GalaPos ID, Aceh.
Siapa sangka, di balik dinding Museum BPKS Sabang yang biasanya hening, hari itu terdengar suara tawa, klik kamera, dan diskusi serius.
Para penyuluh agama dan dai muda dari seluruh Kota Sabang berkumpul bukan untuk mengaji atau khutbah, melainkan untuk belajar menjadi kreator konten digital.
“Di antara layar dan algoritma, pesan-pesan spiritual kini harus bersaing dengan hiburan instan dan konten viral. Di Sabang, sekelompok penyuluh agama mencoba menjawab tantangan ini—dengan kamera, naskah, dan niat yang sama: menyebarkan kebaikan dalam balutan digital.”
Baca juga:
- Stop Kekerasan Wartawan! Iwakum Adukan Pasal Multitafsir ke MK
- Husnan Bey Siap Pimpin PPP, Targetkan Kebangkitan di 2029
- RUU Hak Cipta Disorot, BCL Minta Regulasi Jangan Sepihak
Gala Poin:
1. Penyuluh agama dan dai di Kota Sabang dilatih membuat konten dakwah digital yang menarik, efektif, dan berbasis nilai-nilai keagamaan.
2. Pelatihan ini menekankan pentingnya adaptasi dakwah terhadap perkembangan teknologi digital, termasuk pemanfaatan AI yang tetap harus dikendalikan secara etis.
3. Para peserta, termasuk tokoh muda seperti Tgk. Muchtar Andhika, menyambut positif kegiatan ini sebagai langkah strategis menjangkau generasi muda melalui media sosial.
Acara bertajuk Pelatihan Pembuatan Konten Kreatif Materi Penyuluhan ini digelar oleh Kantor Kementerian Agama Kota Sabang, melalui Seksi Bimbingan Masyarakat Islam.
Sebuah langkah adaptif yang patut dicermati: agama tidak boleh tertinggal dari zaman, apalagi dalam menyampaikan pesan kebaikan.
“Konten penyuluhan harus mampu memberikan pengetahuan yang jelas dan terarah, sesuai dengan sasaran yang dituju. Jika targetnya remaja, maka konten harus dikemas dengan gaya yang sesuai dengan karakter mereka. Yang terpenting, konten yang kita hasilkan harus membawa dampak baik bagi masyarakat,” ujar Samsul Bahri, Kepala Kantor Kemenag Kota Sabang, saat membuka pelatihan, Selasa 26 Agustus 2025.
Baca juga:
Hipotermia di Pos 5, Pendaki Diselamatkan Setelah 10 Jam
Dalam pelatihan ini, para peserta tidak hanya diajarkan cara menyusun pesan dakwah, tetapi juga dilatih bagaimana memvisualisasikan pesan itu dengan pendekatan yang lebih “menyentuh”—melalui video, audio, storytelling, bahkan AI.
Materi utama disampaikan oleh Khairul Umami, Editor Website Kanwil Kemenag Aceh yang juga pernah bertugas di Tanah Suci.
Dengan pengalaman di dunia digital dan komunikasi keagamaan, Khairul tak hanya berbicara soal teknis, tapi juga etika.
“Konten bisa dikembangkan dengan visual, audio, maupun cerita pendek yang inspiratif. AI boleh digunakan, tetapi kendali tetap berada di tangan kita. Jangan sampai teknologi mengendalikan kita,” tegasnya.
Khairul menyampaikan langkah-langkah strategis mulai dari menentukan tema, merancang pesan, menyusun naskah, desain produksi, hingga penyebaran konten secara efektif.
Baginya, penyuluh agama bukan sekadar komunikator spiritual, tapi kini juga dituntut menjadi produser konten yang relevan dan bertanggung jawab.
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Tgk. Muchtar Andhika, Imam Besar Masjid Al-Falah Gampong Ujong Kareung dan juga seorang dai muda yang dikenal aktif berdakwah di kalangan milenial.
Baginya, pelatihan ini menjadi momen penting untuk menguatkan strategi dakwah di era yang berubah.
“Kita tidak bisa lagi berdakwah dengan cara lama. Anak muda ada di media sosial, maka kita juga harus hadir di sana—dengan cara mereka, tapi tetap dengan pesan yang lurus,” ujar Muchtar Andhika, usai sesi pelatihan.
Baca juga:
Golaga dan Curug Sumba: Dua Destinasi Alami Penuh Pesona
Menurut Murdani, Kasi Bimas Islam sekaligus penyelenggara kegiatan, pelatihan ini diikuti oleh 35 peserta yang terdiri dari penyuluh agama Islam dan dai lokal.
“Harapannya, para penyuluh tidak hanya menyampaikan pesan agama secara lisan, tetapi juga mampu mengemasnya dalam bentuk konten digital yang kreatif, inspiratif, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” jelasnya.
Di akhir pelatihan, para peserta diajak membuat simulasi konten dakwah digital.
Baca juga:
DJ Panda Bungkam, Syntia Menuntut Keadilan
Dari mulai menulis naskah singkat, memilih musik latar, hingga merekam video pendek dengan pesan-pesan keagamaan yang disesuaikan dengan karakter anak muda.
Di tengah semangat pelatihan ini, perlu dicatat bahwa tantangan bukan hanya soal membuat konten, tapi bagaimana konten itu tetap menyentuh nurani, tidak sekadar ikut tren atau gaya populer yang kehilangan substansi.
Masih banyak pekerjaan rumah: akses perangkat, pelatihan berkelanjutan, hingga ekosistem digital yang mendukung.
Namun, pelatihan ini menunjukkan bahwa dakwah tidak harus gagap teknologi. Justru, di tengah gempuran algoritma dan hoaks, suara kebaikan yang jernih harus lebih lantang terdengar.
Baca juga:
Tragedi di Kantor Camat, Pemuda Tewas Dikeroyok Remaja
“Di tengah arus digitalisasi yang cepat, para dai dan penyuluh agama di Sabang dilatih membuat konten dakwah digital. Bukan sekadar teknis, pelatihan ini menjadi cermin tantangan zaman: mampukah dakwah bertahan di era algoritma dan kecerdasan buatan?”
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #DakwahDigital #PenyuluhZamanNow #AIuntukDakwah #DaiMudaBerkonten