GalaPos ID, Batu Bara.
Jalan rusak, becek, dan berlumpur menyambut kedatangan Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan atau Zulhas di Desa Durian, Kecamatan Sei Balai, Kabupaten Batu Bara, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Kondisi akses jalan menuju lokasi panen raya itu memunculkan ironi di tengah agenda pemerintah mendorong swasembada pangan.
Panen raya disambut, jalan berlumpur menghadang. Menko Pangan datang membawa agenda swasembada, tetapi warga Desa Durian, Batu Bara, masih harus berjibaku dengan kubangan. Kalau hasil panen harus melewati jalan rusak, kapan infrastruktur petani ikut naik kelas?
Baca juga:Gala Poin:
- DPO Penganiayaan Berat di Puncak Jaya, Satgas Damai Cartenz Dalami Jaringan Senjata
- Hari Santri 2026, Yandri Soroti Judi Online dan Korupsi
- 120 Siswa SMPN 2 Cisarua Diduga Keracunan MBG, 1 Masih Dirawat
1. Jalan rusak saat kunjungan Menko Pangan: Akses menuju lokasi panen raya di Desa Durian, Sei Balai, dikeluhkan rusak, becek, dan berlumpur.
2. Warga mempertanyakan dukungan swasembada pangan: Kondisi jalan dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan infrastruktur untuk mendukung aktivitas dan distribusi hasil pertanian.
3. Pemerintah daerah diminta memberi kepastian: Warga berharap ada perbaikan permanen, sementara penyebab kerusakan, alokasi anggaran, dan jadwal pekerjaan masih perlu dikonfirmasi kepada pihak berwenang.
Zulhas, yang juga menjabat Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), datang untuk menghadiri panen raya dan menyerahkan bantuan pertanian. Namun, di balik agenda tersebut, kondisi infrastruktur jalan yang dikeluhkan warga justru memperlihatkan persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat di kawasan pertanian.
Berdasarkan pantauan warga yang disampaikan dalam informasi yang diterima, mobil rombongan pejabat dan kader PAN harus melaju perlahan saat melewati kubangan lumpur. Jalan yang semestinya mendukung aktivitas pertanian itu menjadi sulit dilalui, terutama ketika hujan turun.
Kerusakan jalan bukan sekadar persoalan kenyamanan perjalanan. Bagi petani, akses jalan yang buruk berpotensi menghambat mobilitas dan pengangkutan hasil panen. Kondisi tersebut pun memunculkan pertanyaan mengenai dukungan infrastruktur terhadap target swasembada pangan.
Warga setempat, Kuswandi Hasibuan, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi jalan yang dinilai memalukan ketika seorang pejabat pusat datang mengunjungi wilayah mereka.
"Kami malu sama Pak Zulhas. Beliau jauh-jauh dari Jakarta mau lihat panen kami, tapi jalannya kayak gini. Tiap hujan becek,. Gimana mau swasembada pangan kalau jalan tani saja rusak?" ujar warga Kuswandi Hasibuan.
Baca juga:
Industrialisasi Prabowo Digenjot, Bagaimana Nasib Kesejahteraan Buruh?
Keluhan tersebut menyoroti kesenjangan antara agenda peningkatan produksi pangan dan kondisi infrastruktur yang menopang kegiatan petani di lapangan. Panen raya dapat menjadi simbol keberhasilan produksi, tetapi akses untuk mengangkut hasil pertanian juga menjadi bagian penting dari rantai pangan yang tidak boleh diabaikan.
Warga berharap kunjungan Zulhas tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Mereka meminta agar pemerintah pusat mendorong Pemerintah Kabupaten Batu Bara dan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) untuk menangani kerusakan jalan di Desa Durian.
Harapan itu disampaikan warga lain melalui sindiran yang menggambarkan kejenuhan mereka terhadap kondisi jalan yang disebut telah lama rusak.
"Jangan cuma panennya saja yang dipanen, Pak. Jalan kami juga tolong dipanen lumpurnya. Kami butuh jalan mulus, bukan janji mulus," sindir warga lain.
Sindiran tersebut menjadi pesan terbuka kepada pemerintah bahwa keberhasilan pembangunan pertanian tidak cukup diukur melalui panen raya dan penyaluran bantuan. Infrastruktur dasar yang menunjang kegiatan produksi hingga distribusi hasil panen juga membutuhkan perhatian nyata.
Desa Durian disebut sebagai salah satu kawasan lumbung pangan di Kabupaten Batu Bara. Namun, akses jalan yang rusak dikabarkan telah dikeluhkan warga selama bertahun-tahun tanpa perbaikan permanen.
Persoalan ini menyisakan pertanyaan yang layak dijawab oleh pemerintah daerah: kapan jalan tersebut akan diperbaiki secara menyeluruh, siapa yang bertanggung jawab atas penanganannya, dan bagaimana kepastian anggarannya?
Baca juga:
Enam Tahun Kasus Pembakaran Camp PT Unggul, DPO Ditangkap
Panen raya disambut, jalan berlumpur menghadang. Menko Pangan datang membawa agenda swasembada, tetapi warga Desa Durian, Batu Bara, masih harus berjibaku dengan kubangan. Kalau hasil panen harus melewati jalan rusak, kapan infrastruktur petani ikut naik kelas?
.jpg)
.jpg)