GalaPos ID, Serang.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menegaskan pentingnya peran santri dan pondok pesantren dalam menjaga moral bangsa di tengah tantangan era digital, maraknya judi online, korupsi, dan persoalan keteladanan di ruang publik.
"Indonesia punya pesantren untuk mendidik akhlak dan santri untuk menjaga nilai kebangsaan. Sayangnya, urusan moral bangsa bukan sekadar soal siapa yang paling fasih memberi nasihat, melainkan siapa yang benar-benar menjalankannya."
Baca juga:
- 120 Siswa SMPN 2 Cisarua Diduga Keracunan MBG, 1 Masih Dirawat
- Industrialisasi Prabowo Digenjot, Bagaimana Nasib Kesejahteraan Buruh?
- Enam Tahun Kasus Pembakaran Camp PT Unggul, DPO Ditangkap
Gala Poin:
1. Santri sebagai benteng moral bangsa: Yandri menyoroti peran pesantren dalam menghadapi judi online, korupsi, tantangan digital, dan krisis keteladanan.
2. Pesantren dalam sejarah Indonesia: Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dan kontribusi santri dalam perjalanan bangsa menjadi bagian penting dari pesan Hari Santri Nasional 2026.
3. Keteladanan harus diwujudkan bersama: Penguatan moral tidak bisa dibebankan kepada pesantren saja, tetapi membutuhkan integritas pemerintah, pemimpin, keluarga, dan masyarakat.
Dalam momentum Hari Santri Nasional 2026, Yandri menekankan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan keagamaan, melainkan bagian penting dari perjalanan sejarah, pembentukan karakter generasi muda, dan penguatan nilai kebangsaan.
Pesan tersebut disampaikan mantan Wakil Ketua MPR RI itu saat memberi sambutan pada Resepsi Hari Santri Nasional 2026, di Aula Pondok Pesantren Bai Mahdi Sholeh Makmun, Kabupaten Serang, Banten, saat memberikan sambutan dalam Resepsi Hari Santri Nasional 2026 di Aula Pondok Pesantren Bai Mahdi Sholeh Makmun, Kabupaten Serang, Banten, Kamis, 22 Oktober 2026.
"Hari Desa Nasional ini bentuk keberpihakan negara Bapak/Ibu, untuk memastikan bahwa pondok pesantren itu harus dijaga. Maka kalau ada orang yang memojokkan menghina Pondok Pesantren, itu adalah musuh kita Bapak/Ibu," jelas Yandri dalam keterangan yang diterima, Jumat, 23 Oktober 2026.
Menurut Yandri, disiplin pendidikan pesantren dan bimbingan para kiai memiliki peran dalam membentuk generasi yang berkarakter serta mampu menghadapi berbagai persoalan sosial. Tantangan tersebut antara lain penyalahgunaan teknologi digital, perjudian daring, korupsi, dan melemahnya etika dalam kehidupan publik.
Baca juga:
Jelang Dua Tahun Pemerintahan, Prabowo Minta KSP Kawal Program Prioritas
Namun, upaya menjadikan santri sebagai benteng moral bangsa juga membutuhkan keteladanan nyata dari seluruh elemen masyarakat. Nilai integritas dan tanggung jawab tidak cukup disampaikan melalui pendidikan, tetapi perlu tercermin dalam tindakan para pemimpin dan penyelenggara negara.
Yandri mengingatkan bahwa kontribusi santri terhadap Indonesia telah berlangsung sejak masa kolonialisme hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Santri dan para kiai, menurutnya, menjadi bagian dari kekuatan masyarakat yang ikut memperjuangkan kemerdekaan serta merawat cita-cita kebangsaan.
Salah satu tonggak sejarah yang disorot adalah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, yang digelorakan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari sebagai seruan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya kolonialisme.
Ia juga menyinggung berbagai gejolak politik yang pernah menguji perjalanan bangsa, termasuk peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Dalam pandangannya, pesantren terus memberikan kontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah berbagai perubahan sejarah.
"Karena pesantren memberikan sumbangsih dan kontribusi yang sangat nyata dan sangat besar dalam proses hidup berbangsa dan bernegara. Mulai dari era kolonial, di zaman proklamasi, gejolak tanah air, ada G30S PKI, peristiwa Resolusi Jihad, pondok pesantren selalu on the track-jalan lurus," papar Menteri asal Bengkulu Selatan ini.
Pernyataan tersebut menegaskan posisi pesantren dalam narasi sejarah kebangsaan yang disampaikan Yandri. Pada saat yang sama, pembahasan sejarah tetap penting ditempatkan dalam konteks yang akurat agar kontribusi berbagai kelompok masyarakat dapat dipahami secara proporsional.
Apresiasi untuk kiai dan ulama
Selain menyoroti peran santri, Yandri menyampaikan apresiasi kepada para kiai, ulama, guru, dan tokoh agama yang dinilai berkontribusi dalam pembentukan karakter generasi muda serta pemeliharaan nilai kebangsaan.
Menurutnya, perjalanan Indonesia tidak hanya ditopang oleh kebijakan dan kerja pemerintahan, tetapi juga oleh pendidikan, pengabdian sosial, dan perjuangan moral yang diwariskan melalui lembaga pendidikan, termasuk pesantren.
"Oleh karena itu, kami atas nama pribadi maupun atas nama pemerintah, mengucapkan terima kasih kepada para alim, para ulama, para kiai, para guru kami, yang sudah selalu membersamai perjuangan perjalanan hidup berbangsa dan bernegara ini," pungkasnya.
Dalam kegiatan tersebut, hadir Abdurahman Mahfal, delegasi Yayasan Timur Tengah/Kuwait. Yandri juga didampingi sejumlah pejabat Kemendes PDT, yakni Dirjen PEID Tabrani, Kepala BPSDM Kemendes PDT, serta Kepala BPI Kemendes PDT Mulyadin Malik.
Baca juga:
Data Ibu Hamil Masih Manual, Mahasiswa UNPAM Hadirkan Solusi Digital
Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk kembali membicarakan kontribusi pesantren terhadap kehidupan bangsa. Di tengah tantangan judi online, korupsi, dan persoalan etika publik, pendidikan karakter menjadi salah satu aspek yang relevan untuk diperkuat.
Akan tetapi, penguatan moral bangsa tidak dapat dibebankan kepada santri dan pesantren semata. Pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk membangun lingkungan yang menjunjung integritas dan keteladanan.
Pesan Yandri menempatkan santri sebagai bagian penting dari upaya tersebut. Tantangan ke depan adalah memastikan nilai-nilai yang diajarkan di pesantren memperoleh dukungan nyata dalam kehidupan sosial, kebijakan publik, dan perilaku para pemegang kekuasaan.
Catatan verifikasi redaksi: Kutipan langsung dipertahankan sebagaimana materi yang diberikan, termasuk frasa “Hari Desa Nasional”. Frasa tersebut tampak tidak selaras dengan konteks Hari Santri Nasional sehingga perlu dikonfirmasi melalui rekaman atau sumber asli sebelum publikasi. Nama dan jabatan pejabat pendamping, nama acara, serta penulisan singkatan instansi juga sebaiknya diperiksa kembali. Jangan membetulkan kutipan langsung secara diam-diam.
Baca juga:
98 Kasus Karhutla Diusut, Polri Telusuri Jejak Korporasi Asing
Santri diminta menjadi benteng moral bangsa. Namun, ketika judi online merajalela dan korupsi terus menjadi sorotan, publik juga patut bertanya: siapa yang menjaga moral para pemegang kekuasaan?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #HariSantriNasional2026 #MendesYandri #SantriIndonesia #PondokPesantren #MoralBangsa #KemendesPDT
.jpg)
.jpg)