GalaPos ID, Jakarta.
Di tengah meningkatnya tekanan akademik, persaingan prestasi, hingga maraknya budaya membandingkan anak di media sosial, muncul pertanyaan yang semakin relevan bagi publik: apakah anak sedang dipersiapkan menjadi manusia yang utuh atau sekadar memenuhi ekspektasi orang dewasa?
"Kalau setiap nilai 100 masih dianggap kurang, mungkin yang perlu naik kelas bukan anaknya, melainkan cara pandang orang tuanya.
Baca juga:
- Ancaman Bom SDN Srengseng Sawah Bikin Panik, Ungkap Fakta Baru Soal Pelaku
- Makanan Hotel Tak Jadi Sampah, Food Bank Bandung Salurkan untuk Warga
- Harga Cabai Melonjak, Petani Hanya Nikmati Rp17 Ribu per Kilogram
Gala Poin:
1. Morinaga mengajak orang tua menghentikan budaya menuntut anak menjadi sosok yang sempurna menjelang Hari Anak Nasional 2026.
2. Kampanye Beyond Nutrition menekankan pentingnya keseimbangan antara nutrisi, stimulasi, dan pola asuh untuk mendukung tumbuh kembang anak.
3. Melalui film edukasi dan acara Door of Future, Morinaga mengingatkan bahwa anak berhak menikmati masa kecilnya tanpa tekanan berlebihan.
Menyambut Hari Anak Nasional 2026, Morinaga melalui Kalbe Nutritionals mengangkat isu tersebut dengan mengajak para orang tua menghentikan budaya menuntut anak menjadi sosok yang sempurna.
Perusahaan menilai setiap anak berhak menikmati masa kecilnya sambil mengembangkan potensi unik yang dimiliki, bukan tumbuh di bawah tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik.
Dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Senin, 13 Juli 2026, menurut Morinaga, tantangan masa depan tidak hanya membutuhkan anak yang unggul secara akademik, tetapi juga generasi yang kreatif, tangguh, mampu berkolaborasi, serta memiliki empati. Karakter tersebut dinilai tumbuh melalui lingkungan yang mendukung eksplorasi, bukan melalui tuntutan kesempurnaan.
Gregorius Daru, selaku Brand Group Manager Morinaga, menuturkan, "Sebagai orang tua, kita sering kali ingin memastikan anak memiliki semua yang terbaik. Namun, mendukung masa depan anak bukan berarti menuntut mereka menjadi sempurna. Anak membutuhkan kesempatan untuk menikmati masa kecilnya, mengenali dirinya, dan menemukan potensi yang membuatnya unik. Peran kita adalah memberikan fondasi terbaik melalui nutrisi, stimulasi, dan dukungan yang tepat agar mereka tumbuh percaya diri dan siap menghadapi masa depan."
Baca juga:
Dayak Deah Gelar Mesiwah Pare Gumboh, Tradisi Leluhur di Lereng Meratus
Di sisi lain, kampanye tersebut juga hadir melalui film edukasi yang dirilis di kanal YouTube resmi Morinaga Indonesia. Film itu mengisahkan seorang ibu yang berharap putrinya tumbuh sempurna—selalu tertib, tidak pernah salah, dan selalu mengikuti aturan. Namun, ketika harapan itu terwujud, sang ibu justru menyadari bahwa keceriaan, rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan spontanitas anak ikut menghilang.
Melalui narasi tersebut, Morinaga menyampaikan pesan bahwa proses belajar anak tidak dapat dipisahkan dari kesalahan, eksplorasi, dan pengalaman yang membentuk karakter mereka.
Pesan utama kampanye ini dirangkum dalam kalimat, "Children aren't meant to be perfect. They're meant to be children."
Isu ini menjadi refleksi bagi publik Indonesia, terutama ketika tekanan terhadap anak kerap muncul bukan hanya dari lingkungan pendidikan, tetapi juga dari ekspektasi keluarga dan budaya kompetisi yang semakin menguat. Di balik keinginan menghadirkan generasi unggul, pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah ruang untuk menjadi anak-anak masih benar-benar tersedia?
Baca juga:
Defisit Neraca Dagang Jadi Alarm, Christiany Paruntu Desak Penguatan Ekspor dan Hilirisasi
Anak belum masuk SD, targetnya sudah seperti calon direktur. Lalu kapan mereka sempat benar-benar menjadi anak?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #HariAnakNasional #ParentingIndonesia #TumbuhKembangAnak #AnakBukanRobot #BeyondNutrition

