GalaPos ID, Bandung.
Lembur Katumbiri di kawasan Dago, Kota Bandung, tengah menjadi destinasi wisata gratis yang viral di media sosial. Deretan rumah berwarna-warni, mural artistik, hingga spot swafoto di kawasan permukiman menjadi magnet baru bagi wisatawan.
Namun, di balik pesona visual tersebut, muncul kritik agar pemerintah tidak berhenti pada mempercantik tampilan kampung, sementara persoalan lingkungan di bantaran Sungai Cikapundung dinilai belum tertangani secara menyeluruh.
"Selfie berlatar rumah warna-warni bisa selesai dalam hitungan menit. Memulihkan Sungai Cikapundung membutuhkan keberanian yang jauh lebih lama daripada sekadar mengecat tembok.
Baca juga:
- Ancaman Bom 11 Titik di SDN Srengseng Sawah, Polisi Bongkar Rekam Jejak Pelaku
- Hilirisasi Blok Andaman Dilirik Investor, KEK Arun Bangkitkan Ekonomi Aceh?
- 'Padakno Karo Bapak', Kode Dugaan Setoran yang Dibongkar KPK di Sukoharjo
Gala Poin:
1. Lembur Katumbiri di Dago Bandung menjadi destinasi wisata gratis yang viral berkat rumah warna-warni, mural, dan spot swafoto yang menarik wisatawan.
2. Transformasi kampung lahir dari kolaborasi warga dan berhasil membuka peluang ekonomi melalui pariwisata berbasis komunitas.
3. Aktivis lingkungan mengingatkan agar pemerintah tidak hanya mengejar estetika kawasan, tetapi juga menyelesaikan persoalan sanitasi dan pemulihan Sungai Cikapundung.
Kawasan yang berada di Jalan Siliwangi, RT 03 RW 12, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, ini diresmikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pada tahun lalu sebagai bagian dari penataan kawasan berbasis masyarakat. Berdiri di lereng Sungai Cikapundung, Lembur Katumbiri mengubah wajah permukiman menjadi ruang publik penuh warna yang kini ramai dikunjungi wisatawan.
Lorong-lorong kampung dipenuhi mural bertema budaya, lingkungan, hingga kehidupan masyarakat. Atap rumah yang dicat warna-warni menjadi daya tarik tersendiri dan banyak dibagikan di media sosial. Selain menikmati suasana kampung yang bersih dan tertata, pengunjung juga dapat berinteraksi langsung dengan warga.
Transformasi tersebut lahir dari kolaborasi warga, komunitas, dan berbagai pihak yang bersama-sama membangun kawasan wisata berbasis gotong royong.
Salah seorang warga, Wasto (68), mengatakan perubahan kampung merupakan hasil kerja bersama masyarakat.
"Kami ingin menunjukkan bahwa kampung bisa menjadi destinasi wisata yang nyaman, bersih, dan membanggakan. Semua perubahan ini terwujud berkat semangat gotong royong warga," ujar Wasto, Senin, 13 Juli 2026.
Baca juga:
Panasonic Pamer Desain Kelas Dunia di IndoBuildTech 2026, Inovasi atau Strategi Rebut Pasar?
"Tempatnya menarik, banyak spot foto yang estetik, lingkungannya juga bersih. Selain berwisata, kita bisa melihat bagaimana masyarakat menjaga kampungnya dengan baik," kata Reza, Senin, 13 Juli 2026.
Meski demikian, Aktivis Lingkungan Sungai Cikapundung Aqil Syahbana mengingatkan agar pembangunan kawasan wisata tidak berhenti pada aspek visual semata. Menurutnya, penataan permukiman harus berjalan seiring dengan pemulihan kualitas Sungai Cikapundung.
Mang Aqil menilai pembangunan yang hanya mengedepankan estetika berpotensi mengabaikan persoalan lingkungan yang lebih mendasar.
"Kenapa? Seolah-olah melegitimasi warga bantaran untuk buang air ke sungai, karena mayoritas warga di sepanjang bantaran baik Kampung Pelangi atau kampung Tjibarani masih banyak buang air sembarangan, meskipun tidak jongkok langsung di pinggir sungai atau di atas batu seperti zaman dulu, ini pembiaran ketika pemerintah mendahulukan kosmetik, sisi estetika, sementara sisi etik masih kurang," ungkapnya.
Menurutnya, infrastruktur sanitasi dan pemulihan sungai seharusnya menjadi prioritas sebelum memperkuat daya tarik wisata.
Ia juga mengingatkan bahwa kawasan wisata kampung kota jangan sampai hanya menjadi ruang bagi wisatawan untuk menikmati pemandangan permukiman tanpa diikuti penyelesaian persoalan tata ruang dan kualitas lingkungan.
Baca juga:
Cinta Quran Foundation Dorong Wakaf 99 Masjid dari Sabang hingga Merauke
Di tengah popularitas Lembur Katumbiri sebagai destinasi wisata gratis yang viral, tantangan sesungguhnya bukan sekadar mempertahankan warna-warni dinding kampung. Yang jauh lebih penting adalah memastikan pembangunan menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik bagi warga sekaligus menjaga kelestarian Sungai Cikapundung agar manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dapat berjalan beriringan.
Baca juga:
Legenda Portugal Luis Figo Bikin Pesta Bola HGI 2026 Jakarta Meriah
Cat baru memang mudah viral. Sungai yang bersih justru belum tentu masuk algoritma. Lembur Katumbiri menjadi cantik, tetapi benarkah persoalan lingkungan ikut dipercantik? Kampung Warna-warni Lembur Katumbiri Bandung Viral, Wisata Tumbuh tetapi Sungai Cikapundung Masih Menunggu Perhatian
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Bandung #LemburKatumbiri #WisataBandung #Cikapundung #PariwisataBerkelanjutan
.jpg)
.jpg)