Harga Cabai Melonjak, Petani Hanya Nikmati Rp17 Ribu per Kilogram

GalaPos ID, Cirebon.
Kenaikan harga cabai rawit merah di pasar ternyata belum berpihak kepada petani. Saat konsumen harus membeli cabai hingga Rp63.900 per kilogram, petani di Kabupaten Cirebon justru hanya menerima Rp17 ribu per kilogram.
Selisih harga yang mencapai hampir Rp47 ribu per kilogram memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas rantai distribusi dan tata niaga komoditas hortikultura di Indonesia.

Selisih Harga Cabai Rp46 Ribu per Kg, Siapa yang Paling Untung?
Cabai makin pedas, tapi yang paling terasa justru nasib petani. Konsumen membeli hampir Rp64 ribu per kilogram, petani hanya menerima Rp17 ribu. Jika semua mengeluh, siapa sebenarnya yang menikmati selisih harganya? Foto: MH

 

"Selisih hampir Rp47 ribu per kilogram bukan sekadar angka. Itu pertanyaan yang belum terjawab: mengapa cabai mahal di pasar, tetapi murah saat keluar dari kebun?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Petani cabai di Cirebon hanya menerima Rp17 ribu per kilogram, sementara harga di tingkat konsumen mencapai Rp63.900 per kilogram.
2. Produktivitas menurun akibat cuaca dan serangan penyakit, sehingga hasil panen belum mampu menutup biaya produksi.
3. Lebarnya selisih harga menunjukkan perlunya pembenahan rantai distribusi dan tata niaga agar petani ikut menikmati kenaikan harga pasar.


Ironi tersebut dialami petani cabai rawit di Desa Blender, Kecamatan Karangwareng, Kabupaten Cirebon. Di tengah harga pasar yang terus merangkak naik, mereka masih kesulitan memperoleh keuntungan karena harga jual rendah, hasil panen menurun, serta biaya produksi yang belum tertutupi.

Jaelani, petani cabai rawit di Desa Blender, mengatakan musim panen kali ini baru memasuki pemetikan kedua. Namun hingga kini harga jual di tingkat petani masih bertahan di angka Rp17 ribu per kilogram.

"Ini baru dua kali melakukan pemetikan. Harga jualnya masih bertahan di angka Rp17 ribu per kilogram," kata Jaelani, Sabtu, 11 Juli 2026.

Jaelani mengelola lahan cabai rawit seluas sekitar lima hektare. Namun produktivitas tanaman menurun akibat cuaca yang tidak menentu dan serangan penyakit. Dalam sekali panen, lahan seluas dua hektare hanya menghasilkan sekitar dua kuintal cabai.

Baca juga:
Puspa Nuswantara 2026: Batik Butuh Aksi Nyata, Bukan Sekadar Seremoni Tahunan

Kondisi tersebut semakin berat karena keterbatasan tenaga buruh petik membuat proses panen tidak berjalan optimal.
 
Meski hasil panen minim, petani tetap memetik cabai agar buah yang sudah matang tidak membusuk di lahan.

"Kalau sekali petik dua hektare hanya dapat sekitar dua kuintal, itu sudah sangat minim. Daripada cabainya tidak dipetik dan rusak, tetap kami panen meski sebenarnya masih rugi karena belum menutup modal," ujarnya.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia, harga cabai rawit merah di tingkat konsumen mencapai Rp63.900 per kilogram. Sementara itu, cabai merah keriting dijual Rp30 ribu hingga Rp51.600 per kilogram, cabai merah besar Rp44 ribu hingga Rp51.800 per kilogram, dan cabai rawit hijau berkisar Rp31 ribu hingga Rp50.150 per kilogram.

Jauhnya selisih harga antara tingkat petani dan konsumen menunjukkan masih adanya persoalan serius dalam rantai distribusi, tata niaga, hingga mekanisme pembentukan harga komoditas hortikultura. Ketika harga di pasar melonjak, keuntungan justru belum sepenuhnya dinikmati oleh petani sebagai pelaku utama produksi.

Harga Cabai Tembus Rp63.900, Petani Cirebon Malah Jual Rp17 Ribu per Kg
Petani cabai di Cirebon hanya menerima Rp17 ribu per kilogram, sementara harga di tingkat konsumen mencapai Rp63.900 per kilogram. Produktivitas menurun akibat cuaca dan serangan penyakit, sehingga hasil panen belum mampu menutup biaya produksi.

 

Petani berharap pemerintah tidak hanya fokus mengendalikan harga di tingkat konsumen, tetapi juga memperkuat sektor hulu melalui pendampingan budidaya, pengendalian penyakit tanaman, perbaikan kualitas lahan, serta menciptakan sistem distribusi yang lebih adil agar kenaikan harga benar-benar dirasakan oleh petani.

Sebab, jika harga tinggi hanya dinikmati di tengah rantai distribusi, maka petani tetap menjadi pihak yang paling rentan. Di sisi lain, konsumen tetap harus membeli dengan harga mahal.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa persoalan utama bukan semata-mata produksi, melainkan tata niaga yang masih menyisakan jurang lebar antara harga di kebun dan harga di pasar.

 

 

Baca juga:
SNI Wajib AMDK Indonesia 2026: Botol Air, Standar Kualitas, dan Tantangan Industri

Katanya harga cabai naik demi petani. Faktanya, petani masih menghitung rugi, sementara konsumen tetap membayar mahal. Lalu, siapa yang sebenarnya panen untung?

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #HargaCabai #PetaniIndonesia #Cirebon #PanganNasional #DistribusiPangan

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال