Dayak Deah Gelar Mesiwah Pare Gumboh, Tradisi Leluhur di Lereng Meratus

GalaPos ID, Kab. Balangan.
Modernisasi tak membuat masyarakat Dayak Deah melupakan akar budayanya. Melalui tradisi Mesiwah Pare Gumboh di Desa Liyu dan Gunung Riut, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, mereka terus merawat ritual syukuran panen sebagai wujud rasa syukur, doa keselamatan, sekaligus upaya melestarikan warisan leluhur yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Mesiwah Pare Gumboh, Tradisi Dayak Deah yang Menjaga Hutan dan Warisan Leluhur
Budaya sering dipuji saat festival, tetapi lupa dijaga setelah panggung dibongkar. Mesiwah Pare Gumboh membuktikan bahwa masyarakat adat masih konsisten merawat alam dan tradisi, sementara banyak pihak baru mengingat budaya ketika menjadi komoditas wisata.

"Ketika budaya mulai dianggap sekadar konten media sosial, Dayak Deah justru membuktikan bahwa tradisi masih hidup karena dijalankan, bukan hanya dipamerkan."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Mesiwah Pare Gumboh merupakan tradisi syukur panen sekaligus penghormatan kepada leluhur yang masih lestari di masyarakat Dayak Deah.
2. Tradisi ini mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga hubungan antara manusia, budaya, dan kelestarian hutan di kawasan Meratus.
3. Potensi wisata budaya dan ekowisata Desa Liyu harus dikembangkan dengan tetap mengutamakan perlindungan masyarakat adat serta keberlanjutan lingkungan.


Melalui tradisi Mesiwah Pare Gumboh, masyarakat Dayak Deah tidak hanya menggelar syukuran panen, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai leluhur yang selama ratusan tahun menjadi fondasi hubungan manusia dengan alam, hutan, dan kehidupan.

Tradisi turun-temurun ini menjadi wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah sekaligus permohonan perlindungan agar masyarakat dijauhkan dari bencana dan penyakit.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari dengan pola pelaksanaan yang tetap dipertahankan dari generasi ke generasi. Prosesi diawali arak-arakan menuju Balai Menyerah Monta, dilanjutkan memasak hasil panen bersama pada hari pertama dan kedua. Puncaknya berlangsung pada malam hari melalui ritual Mesiwah berupa pembacaan mantra-mantra sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Baca juga:
Puspa Nuswantara 2026: Batik Butuh Aksi Nyata, Bukan Sekadar Seremoni Tahunan

Panitia Pelaksana Mesiwah Pare Gumboh, Budianto, menegaskan bahwa pelaksanaan tahun ini tidak mengalami perubahan berarti dibanding tahun-tahun sebelumnya.
 
“Untuk kegiatan Mesiwah Pare Gumboh tahun ke-8 ini tidak jauh beda dengan yang sebelumnya karena di sini dari rangkaian awal arak-arakan sampai ke balai. Hari pertama dan kedua itu memasak hasil panen yang disediakan dan malam minggunya menyiapkan acara untuk Mesiwahnya mengucapkan mantra-mantra kepada leluhur,” jelas Panitia Pelaksana MPG, Budianto, Sabtu, 11 Juli 2026.

Festival budaya tersebut juga dimeriahkan pertunjukan tari dari tujuh sanggar seni yang berasal dari Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong sebagai bentuk kolaborasi pelestarian budaya Dayak.

Wakil Bupati Balangan, Akhmad Fauzi, memberikan apresiasi kepada masyarakat Desa Liyu yang dinilai konsisten menjaga tradisi adat sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda agar warisan leluhur tidak berhenti pada generasi saat ini.

Di Tengah Gempuran Modernisasi, Dayak Deah Tetap Merawat Tradisi Mesiwah Pare Gumboh
Mesiwah Pare Gumboh merupakan tradisi syukur panen sekaligus penghormatan kepada leluhur yang masih lestari di masyarakat Dayak Deah. Tradisi ini mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga hubungan antara manusia, budaya, dan kelestarian hutan di kawasan Meratus.

 

Menjaga Hutan Lewat Tradisi
Di balik ritual adat, Mesiwah Pare Gumboh menyimpan pesan yang lebih besar bagi kepentingan publik.

Masyarakat Dayak Deah selama ini dikenal memiliki hubungan erat dengan kawasan hutan dan ladang di lereng Pegunungan Meratus. Pengelolaan wilayah adat secara turun-temurun menjadi salah satu faktor yang ikut menjaga kelestarian lingkungan.

Nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa keberlanjutan alam tidak selalu lahir dari kebijakan formal, tetapi juga dapat tumbuh dari kearifan lokal yang terus dijaga masyarakat adat.


Potensi Wisata, Jangan Hanya Berhenti pada Seremonial
Desa Liyu dan kawasan Gunung Riut memiliki potensi besar sebagai destinasi ekowisata dan wisata budaya. Kawasan yang berada di wilayah Geosite Geopark Meratus tersebut menawarkan panorama pegunungan, kawasan hutan, situs geologi seperti Watu Bending dan Goa Liang, Air Terjun Pihakolo, sumber air panas, hingga kekayaan budaya Dayak Deah.

Baca juga:
SNI Wajib AMDK Indonesia 2026: Botol Air, Standar Kualitas, dan Tantangan Industri

Wisatawan juga dapat mengenal kerajinan anyaman, ukiran tradisional, pembuatan baju kulit kayu, serta produk lokal seperti Kopi Liyu dan Pasak Bumi.

Namun, pengembangan pariwisata berbasis budaya memerlukan perhatian serius agar tidak berhenti pada agenda festival tahunan semata. Pelestarian budaya dan perlindungan kawasan adat harus tetap menjadi prioritas utama sehingga manfaat ekonomi dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan dan penghormatan terhadap masyarakat adat.


Mengenal Dayak Deah
Dayak Deah atau Dusun Deyah merupakan salah satu sub-suku Dayak yang mendiami wilayah utara Kalimantan Selatan, terutama di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan.

Baca juga:
Cegah Stunting dari Rumah, KKN Unhas Hadirkan Edukasi Gizi MAMAMU di Pabundukang

Komunitas ini dikenal masih mempertahankan beragam tradisi, mulai dari adat kelahiran, perkawinan, kematian, pengobatan tradisional, pembuatan lemang (malamang), hingga pemanfaatan kulit kayu sebagai bahan kerajinan.

Keberadaan Mesiwah Pare Gumboh menjadi salah satu simbol bahwa identitas budaya tidak hanya diwariskan melalui cerita, tetapi dipraktikkan secara nyata oleh masyarakat hingga hari ini.

 

 

Baca juga:
Batik Asli Kian Tersisih? Puspa Nuswantara 2026 Desak Perlindungan untuk Perajin

Banyak yang sibuk menjual slogan pelestarian budaya. Dayak Deah memilih tetap menjaga hutan, ladang, dan warisan leluhur tanpa banyak panggung.

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #DayakDeah #MesiwahPareGumboh #BudayaIndonesia #KalimantanSelatan #GeoparkMeratus

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال