GalaPos ID, Bandung.
Di satu sisi masih banyak masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan. Di sisi lain, makanan layak konsumsi berpotensi berakhir sebagai limbah.
Di tengah ironi tersebut, Food Bank Bandung menjalankan program food rescue dengan menyelamatkan makanan surplus dari hotel untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Ketika makanan surplus lebih cepat menuju tempat sampah daripada meja warga yang membutuhkan, mungkin yang perlu diselamatkan bukan hanya makanannya, tetapi juga cara kita mengelola pangan."
Baca juga:
- Puspa Nuswantara 2026: Batik Butuh Aksi Nyata, Bukan Sekadar Seremoni Tahunan
- SNI Wajib AMDK Indonesia 2026: Botol Air, Standar Kualitas, dan Tantangan Industri
- Cegah Stunting dari Rumah, KKN Unhas Hadirkan Edukasi Gizi MAMAMU
Gala Poin:
1. Food Bank Bandung setiap hari menyelamatkan makanan surplus layak konsumsi dari empat hotel dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan.
2. Program food rescue membantu mengurangi limbah makanan sekaligus mendukung penanganan kerawanan pangan melalui kolaborasi relawan dan sektor perhotelan.
3. Masih besarnya potensi limbah pangan menunjukkan perlunya sistem distribusi dan kebijakan penyelamatan pangan yang lebih kuat agar tidak hanya bergantung pada gerakan sosial.
Program ini menjadi pengingat bahwa persoalan pangan di Indonesia bukan semata soal produksi, melainkan juga distribusi dan pengelolaan makanan yang belum optimal. Ketika makanan masih layak konsumsi nyaris terbuang, masih ada kelompok masyarakat yang harus berjuang memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Setiap hari, Food Bank Bandung mengerahkan tiga hingga lima relawan untuk menjemput makanan surplus dari hotel-hotel mitra. Makanan yang sebelumnya tidak tersaji kepada tamu, tetapi masih memenuhi standar kelayakan konsumsi, kemudian melalui proses pengecekan kualitas, dipilah, dikemas, dan didistribusikan kepada penerima manfaat.
Koordinator Operasional Food Bank Bandung Gendis Ayu mengatakan program tersebut menjadi langkah nyata untuk mengurangi pemborosan makanan sekaligus membantu masyarakat yang mengalami kerawanan pangan.
“Setiap hari kami menurunkan sekitar tiga sampai lima relawan untuk menjemput makanan surplus dari hotel mitra. Makanan yang kami terima masih layak konsumsi dan langsung kami distribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan setelah melalui proses pengecekan kualitas,” ujar Gendis Ayu, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Sabtu, 11 Juli 2026.
Baca juga:
Batik Asli Kian Tersisih? Puspa Nuswantara 2026 Desak Perlindungan untuk Perajin
“Saat ini ada empat hotel yang telah bekerja sama dengan Food Bank Bandung, yaitu Courtyard, Sheraton Hotel Bandung, Four Points by Sheraton, dan Moxy. Kami berharap semakin banyak pelaku usaha yang bergabung agar lebih banyak makanan layak konsumsi yang bisa diselamatkan dan tidak berakhir menjadi sampah,” katanya.
Limbah Pangan Masih Menjadi Pekerjaan Rumah
Program food rescue menunjukkan bahwa makanan surplus sebenarnya masih memiliki nilai sosial yang tinggi apabila dikelola dengan baik. Namun, di balik keberhasilan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih besar bagi kepentingan publik.
Mengapa penyelamatan makanan masih bergantung pada komunitas dan relawan? Padahal, persoalan limbah pangan dan kerawanan pangan merupakan isu strategis yang membutuhkan keterlibatan lebih luas dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat.
Kolaborasi seperti yang dilakukan Food Bank Bandung dapat menjadi contoh bahwa makanan yang tidak lagi memiliki nilai ekonomi bagi satu pihak masih dapat menjadi sumber kehidupan bagi pihak lain. Tantangannya kini adalah bagaimana gerakan serupa diperluas agar penyelamatan pangan tidak hanya menjadi aksi sosial, tetapi juga bagian dari sistem pengelolaan pangan nasional yang lebih berkelanjutan.
Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap isu ketahanan pangan dan pengurangan limbah makanan, program seperti ini menunjukkan bahwa solusi sering kali sudah ada. Yang masih dibutuhkan adalah kemauan untuk menjadikannya gerakan bersama, bukan sekadar kegiatan sukarela.
Baca juga:
Air Minum Kemasan 2026: Pasar Besar, Persaingan Ketat, dan Beban Regulasi
Di negeri yang masih mengenal kelaparan, makanan layak konsumsi justru hampir jadi sampah. Untung masih ada relawan yang bergerak, sebelum rasa kemanusiaan ikut terbuang.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #FoodBankBandung #FoodRescue #LimbahPangan #KetahananPangan #Bandung
.jpg)
.jpg)