GalaPos ID, Subang.
Ketika air irigasi tak lagi mengalir sebagaimana mestinya, petani memilih turun langsung ke pintu air daripada hanya menunggu solusi.
Ancaman gagal tanam yang membayangi ratusan hektare sawah di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, mendorong mereka bergotong royong mengganjal pintu irigasi dengan balok kayu agar debit air menuju lahan pertanian meningkat.
"Saat petani harus mengatur pintu irigasi sendiri agar sawah tidak mati, krisisnya bukan hanya air—tetapi juga tata kelola."
Baca juga:
- Luís Figo Sambangi Jakarta, Strategi Baru Angkat Domino ke Level Nasional
- Menuju Olimpiade Dimulai dari Rawamangun, Siapkah Sistem Pembinaan Indonesia?
- APPBI Dorong Industri Batik Lewat Puspa Nuswantara 2026 di JICC Jakarta
Gala Poin:
1. Puluhan petani di Blanakan, Subang, mengganjal pintu Irigasi Tarum Timur secara manual untuk meningkatkan debit air ke areal persawahan.
2. Krisis air menyebabkan ratusan hektare sawah mulai mengering, lahan yang telah dibajak kembali mengeras, serta bibit padi terancam mati sebelum ditanam.
3. Petani mendesak pemerintah segera melakukan langkah konkret agar distribusi air irigasi kembali normal dan ancaman gagal tanam maupun gagal panen dapat dicegah.
Aksi tersebut dilakukan puluhan petani dari Desa Rawamekar yang mendatangi pintu irigasi utama di wilayah Subseksi Pengamat Air Ciberes, Kecamatan Patokbeusi, pada Selasa, 30 Juni 2026. Mereka menilai pasokan air yang terus menurun telah membuat lahan persawahan mulai mengering dan mengancam musim tanam.
Di lokasi, para petani secara swadaya meninggikan muka air dengan mengganjal pintu Irigasi Tarum Timur menggunakan balok-balok kayu. Upaya itu dilakukan agar aliran air dapat kembali mengalir menuju areal persawahan yang mulai mengalami kekeringan.
Usai melakukan peninggian muka air, para petani mendatangi kantor Pengamat Subseksi Ciberes. Mereka juga melakukan pengecekan langsung ke pintu air BSI 12 untuk memastikan distribusi air benar-benar mengalir hingga ke sawah.
Baca juga:
Warga Batu Bara Tuntut Perbaikan Drainase, Pos Kehutanan Digugat Protes Banjir
"Bahkan, sebagian bibit mati akibat tidak mendapatkan air yang cukup," sebut Sanudin.
Para petani berharap pemerintah melalui dinas terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi krisis air yang melanda wilayah tersebut. Mereka meminta distribusi air irigasi dapat kembali normal sehingga proses tanam berjalan sesuai jadwal dan ancaman gagal panen dapat dihindari.
Musim kemarau yang mulai berlangsung di sejumlah wilayah Kabupaten Subang kembali memperlihatkan rapuhnya ketahanan irigasi di kawasan pertanian.
Bagi petani, air bukan sekadar kebutuhan produksi, melainkan penentu keberlangsungan penghidupan.
Ketika mereka harus mengatur pintu irigasi sendiri demi menyelamatkan sawah, muncul pertanyaan yang layak menjadi perhatian publik: sampai kapan solusi darurat menggantikan tata kelola irigasi yang semestinya menjadi tanggung jawab negara?
Baca juga:
Kejurnas Atletik 2026, Ribuan Atlet Berlari Mengejar Prestasi
Balok kayu kini menjadi harapan terakhir petani. Jika irigasi bergantung pada swadaya, lalu di mana peran sistem yang seharusnya bekerja?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Subang #KrisisAir #Petani #Irigasi #KetahananPangan
.jpg)
.jpg)