GalaPos ID, Jakarta.
Peringatan Hari Anak Nasional 2026 dimanfaatkan sebagai ruang edukasi yang berbeda. Sebanyak 50 murid penyandang disabilitas tidak hanya melakukan perjalanan menggunakan LRT Jabodebek, tetapi juga mendapatkan pembelajaran langsung mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut selama berada di transportasi publik.
"Kalau gerbong kereta saja bisa menjadi ruang belajar, alasan apa lagi yang membuat edukasi kesehatan anak masih sulit menjangkau semua?"
Baca juga:
- Padel Kian Populer, PBPI Jateng Ajak Pemda dan Korporasi Ekosistem Olahraga
- Jaringan Penyebar Link Judi Online di Padang Terbongkar, Polisi Sita Puluhan Ponsel
- JarNas APO Soroti Modus Digital Perdagangan Orang, Perlindungan Korban
Gala Poin:
1. Sebanyak 50 murid penyandang disabilitas mengikuti edukasi kesehatan gigi dan mulut di dalam perjalanan LRT Jabodebek dalam rangka Hari Anak Nasional 2026.
2. Edukasi dikemas secara interaktif melalui praktik menyikat gigi dan dilanjutkan dengan pembelajaran daring bersama dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya.
3. Kegiatan menegaskan pentingnya kolaborasi antara tenaga kesehatan, dunia pendidikan, dan transportasi publik agar edukasi kesehatan bagi anak disabilitas berlangsung secara berkelanjutan, bukan sekadar agenda seremonial.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Namun, tantangan yang lebih besar bagi kepentingan publik adalah memastikan kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda peringatan tahunan, melainkan menjadi program berkelanjutan yang mampu menjangkau lebih banyak anak, termasuk kelompok penyandang disabilitas yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan.
Kegiatan berlangsung dalam perjalanan dari Stasiun Halim menuju Stasiun Jatimulya dan diikuti murid dari SLB B Negeri 11 Jakarta, SLB B Sekolah Pangudi Luhur, SLB B Negeri 3 Jakarta, serta SLB B Santi Rama Fatmawati Jakarta. Selama perjalanan, peserta mendapatkan edukasi interaktif mengenai cara menyikat gigi yang benar serta kesempatan mempraktikkannya menggunakan phantom gigi.
Edukasi dipandu oleh drg. Ambar Puspitasari, Sp.KGA, staf pengajar Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya Malang, bersama drg. Dini Larasati, dokter gigi fungsional LRT Jabodebek.
"Anak-anak akan lebih mudah memahami materi ketika belajar melalui pengalaman yang menyenangkan. Edukasi Kesehatan gigi dan mulut tidak selalu harus dilakukan di ruang kelas. Perjalanan menggunakan transportasi publik juga dapat menjadi media belajar yang interaktif sehingga pesan mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut lebih mudah diterima," ujar drg. Ambar, dalam keterangan yang diterima, Selasa, 28 Juli 2026.
Baca juga:
Korban Tenggelam di Irigasi Lampung Ditemukan 644 Meter dari Lokasi Jatuh
Dalam sesi tersebut dijelaskan bahwa karies atau gigi berlubang dipengaruhi oleh empat faktor utama, yakni konsumsi makanan manis dan lengket, bakteri di rongga mulut yang mengubah gula menjadi zat asam, kondisi rongga mulut dan struktur email gigi, serta lamanya sisa makanan menempel pada gigi tanpa dibersihkan. Kerusakan dapat bermula dari email gigi, kemudian berkembang hingga ke akar gigi dan menyebabkan nyeri maupun pembengkakan gusi apabila tidak ditangani.
Para dokter gigi juga mengingatkan bahwa sejumlah kebiasaan buruk pada anak, seperti mengisap jempol, menggigit bibir atau kuku, bernapas melalui mulut, hingga menggeretakkan gigi saat tidur (bruxisme), dapat memengaruhi pertumbuhan gigi dan rahang.
Dampaknya antara lain gigi tonggos, susunan gigi berjejal, kerusakan kuku, perubahan bentuk langit-langit mulut, hingga gangguan pada sendi rahang.
Menurut para pemateri, kesehatan gigi yang terjaga berkontribusi terhadap kemampuan mengunyah makanan secara optimal sehingga membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi dan mendukung tumbuh kembang anak.
Kolaborasi antara tenaga kesehatan, dunia pendidikan, dan transportasi publik dalam kegiatan ini memperlihatkan bahwa ruang belajar dapat hadir di mana saja. Namun, keberhasilan sesungguhnya akan diukur dari keberlanjutan program serupa, pemerataan akses edukasi kesehatan bagi anak-anak penyandang disabilitas, serta dampaknya terhadap perubahan perilaku hidup sehat di tengah masyarakat.
Baca juga:
Karhutla Gunung Paseban Membesar, Alarm Tahunan yang Terus Berulang
Anak-anak sudah belajar menjaga gigi di dalam LRT. Kini giliran semua pihak memastikan perhatian kepada anak disabilitas tidak ikut turun di stasiun terakhir.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #HariAnakNasional2026 #KesehatanGigiAnak #AnakDisabilitas #LRTJabodebek #EdukasiKesehatan
.jpg)
.jpg)