Gunung Anak Krakatau Bergejolak, Nelayan Labuan Bertaruh Demi Keluarga

GalaPos ID, Kab. Pandeglang.
Setiap kali sirene kewaspadaan Gunung Anak Krakatau berbunyi, masyarakat pesisir Labuan di Kabupaten Pandeglang kembali dihadapkan pada pilihan yang tidak pernah mudah. Di satu sisi ada ancaman erupsi yang sewaktu-waktu dapat membahayakan keselamatan.
Di sisi lain, laut tetap menjadi satu-satunya tempat mencari nafkah bagi ribuan keluarga nelayan.

Erupsi Gunung Anak Krakatau Tak Hentikan Nelayan Labuan Mencari Nafkah
Gunung bisa berstatus Siaga. Laut bisa bergelombang. Tapi tagihan rumah dan kebutuhan dapur tidak pernah ikut menunggu keadaan aman. Di pesisir Labuan, keselamatan dan nafkah kembali dipaksa berjalan berdampingan.

"Yang paling berat bagi nelayan bukan ombak atau abu vulkanik. Melainkan memilih pulang membawa ikan atau pulang tanpa penghasilan."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Status Gunung Anak Krakatau naik menjadi Level III (Siaga), tetapi aktivitas nelayan di Labuan tetap berlangsung karena menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarga.
2. Nelayan mengaku tetap khawatir terhadap erupsi, namun memilih melaut sambil mematuhi radius aman dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah.
3. Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya mitigasi bencana yang tidak hanya berfokus pada keselamatan, tetapi juga perlindungan ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung pada laut.


Status Gunung Anak Krakatau yang dinaikkan menjadi Level III (Siaga) sejak 3 Juli 2026 belum menghentikan aktivitas melaut di Perairan Selat Sunda. Sejak Selasa, 7 Juli 2026, perahu-perahu nelayan masih terlihat meninggalkan dermaga di Kecamatan Labuan. Mereka berangkat bukan karena mengabaikan bahaya, melainkan karena tidak memiliki banyak pilihan ekonomi.

Para nelayan mengaku tetap mematuhi imbauan pemerintah dengan tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau serta terus mengikuti informasi cuaca dan peringatan resmi. Namun, kewaspadaan tidak menghapus kecemasan yang mereka rasakan setiap kali berlayar.

Salah seorang nelayan, Nata, mengaku rasa takut selalu ada. Namun, kebutuhan keluarga memaksanya tetap mencari ikan.

"Khawatir. Mau cari sesuap nasi ya diberanikan aja lah pengennya erupsi cepat membaik lah biar kita melautnya tidak was-was," kata Nata, Selasa, 7 Juli 2026.

Baca juga:
INI Kota Semarang Perkuat Aksi Kemanusiaan, Donor Darah Bantu Jaga Ketersediaan Stok Darah

Ungkapan serupa disampaikan Ali. Menurutnya, masyarakat pesisir memang telah lama hidup berdampingan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Namun, kebiasaan itu tidak membuat mereka kebal terhadap rasa takut.
 
"Kalau khawatir ya pasti, tapi disisi lain juga kita kan sebagai nelayan berjuangnya dengan anak istri kalau memikirkan eruspi gunung anak krakatau mau makan apa keluarga kita, Sebagai warga pesisir sudah terbiasa dan memang iya cukup mengkhawatirkan dan takut juga." ungkap Ali.

Sebelumnya, Badan Geologi menaikkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III (Siaga) setelah terjadi peningkatan aktivitas kegempaan dan erupsi yang melontarkan abu vulkanik hingga sekitar 200 meter. Masyarakat, wisatawan, dan nelayan diminta tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Hingga kini belum ada larangan total bagi nelayan untuk melaut. Namun, meningkatnya aktivitas vulkanik menjadi pengingat bahwa risiko bencana di Selat Sunda tidak hanya mengancam keselamatan, tetapi juga menyentuh persoalan ekonomi masyarakat pesisir.

Anak Krakatau Siaga, Nelayan Labuan Tetap Melaut: Takut Ada, Perut Harus Diisi
Status Gunung Anak Krakatau naik menjadi Level III (Siaga), tetapi aktivitas nelayan di Labuan tetap berlangsung karena menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarga. Nelayan mengaku tetap khawatir terhadap erupsi, namun memilih melaut sambil mematuhi radius aman dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah.

Bagi nelayan tradisional di Labuan, ancaman erupsi bukan sekadar persoalan geologi. Ia menjadi cermin rapuhnya kehidupan masyarakat yang bergantung sepenuhnya pada hasil laut. Ketika aktivitas gunung meningkat, pilihan mereka sering kali bukan antara aman atau berbahaya, melainkan antara melaut atau kehilangan penghasilan.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sejauh mana perlindungan negara hadir bagi nelayan yang bekerja di wilayah rawan bencana. Sebab, mitigasi bukan hanya soal memasang status siaga dan menetapkan radius aman, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki pilihan ekonomi ketika keselamatan menjadi prioritas.

 

 

 

Baca juga:
Peti Jenazah Ayatollah Ali Khamenei Diarak, Dunia Soroti Masa Depan Politik Iran

Negara meminta nelayan waspada. Laut meminta mereka bekerja. Sementara dapur di rumah tak pernah mengenal status siaga.

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #GunungAnakKrakatau #NelayanLabuan #Pandeglang #MitigasiBencana #EkonomiPesisir

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال