GalaPos ID, Semarang.
Di tengah kebutuhan darah yang terus berubah setiap hari, partisipasi masyarakat dalam donor darah menjadi salah satu penopang utama layanan kesehatan. Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-118, Ikatan Notaris Indonesia (INI) Pengurus Daerah Kota Semarang memilih memperkuat peran sosial melalui bakti sosial yang berfokus pada donor darah dan khitanan massal sebagai bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat.
"Setetes darah sangat berharga demi kemanusiaan. Kami berharap bakti sosial ini terus menjadi agenda tahunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat." — Ketua Panitia, Mochamad Rizqi Zia Ulhaq.
Baca juga:
- Dari Bandung ke Dunia: Diplomasi, AI, dan Anak Muda Sorotan Festival KAA 2026
- Nasib 15 Ribu Pekerja Tambang Kaltim di Ujung IUP, Siapa Bertanggung Jawab?
- Ren dan Reina Jadi Ikon Kampanye 60 Seconds to Tokyo di Archipelago Hotels
Gala Poin:
1. INI Kota Semarang menggelar bakti sosial HUT ke-118 dengan donor darah sebagai kegiatan utama bekerja sama dengan UDD PMI Kota Semarang.
2. Lebih dari 40 peserta mendaftar sebagai pendonor dari target 50 orang, meski sebagian tidak lolos skrining kesehatan.
3. PMI Kota Semarang menegaskan stok darah saat ini aman, namun donor rutin tetap dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan pelayanan rumah sakit.
Persoalan ketersediaan darah bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga kesehatan, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Di tengah kebutuhan transfusi darah yang berlangsung setiap hari, organisasi profesi pun mulai mengambil peran lebih besar melalui aksi-aksi sosial yang memberikan manfaat langsung bagi publik.
Semangat itulah yang diwujudkan Ikatan Notaris Indonesia (INI) Pengurus Daerah Kota Semarang dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-118 dengan menggelar bakti sosial bersama Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Semarang. Donor darah ditempatkan sebagai agenda utama, berdampingan dengan kegiatan khitanan massal yang turut menjadi bagian dari rangkaian peringatan.
Ketua Panitia, Mochamad Rizqi Zia Ulhaq, mengatakan bakti sosial telah menjadi tradisi dalam setiap peringatan HUT INI. Tahun ini panitia menargetkan 50 pendonor, sementara hingga pelaksanaan kegiatan lebih dari 40 orang telah mendaftarkan diri.
Baca juga:
Peti Jenazah Ayatollah Ali Khamenei Diarak, Dunia Soroti Masa Depan Politik Iran
Sebagian peserta tidak dapat mendonorkan darah setelah melalui pemeriksaan kesehatan karena belum memenuhi persyaratan medis.
Peserta mengikuti proses donor darah dalam rangka bakti sosial HUT ke-118 Ikatan Notaris Indonesia (INI) Pengda Kota Semarang bersama UDD PMI Kota Semarang. Kegiatan ini menjadi wujud kepedulian masyarakat dalam membantu menjaga ketersediaan stok darah bagi pasien yang membutuhkan.
Menurut Rizqi, profesi notaris tidak hanya berkewajiban memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial melalui aksi kemanusiaan yang berdampak nyata.
"Setetes darah sangat berharga demi kemanusiaan. Kami berterima kasih kepada UDD PMI Kota Semarang yang telah memfasilitasi kegiatan ini serta kepada seluruh pendonor yang telah berpartisipasi. Kami berharap bakti sosial ini terus menjadi agenda tahunan," ujarnya.
Kolaborasi antara organisasi profesi dan lembaga kemanusiaan tersebut dinilai menjadi bentuk sinergi yang semakin relevan di tengah meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan. Donor darah tidak hanya membantu pasien yang sedang menjalani operasi atau perawatan penyakit tertentu, tetapi juga menjadi bagian dari sistem ketahanan kesehatan masyarakat yang bergantung pada partisipasi sukarela para pendonor.
Kepala Bagian Pelayanan Donor UDD PMI Kota Semarang, dr. Reztry Maulida, menjelaskan stok darah di PMI Kota Semarang saat ini masih berada dalam kondisi aman dan mampu memenuhi kebutuhan rumah sakit di Kota Semarang maupun wilayah sekitarnya. Meski demikian, kondisi tersebut harus terus dipertahankan karena permintaan darah bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Ia mengungkapkan bahwa golongan darah B dan O menjadi jenis darah yang paling banyak dibutuhkan sesuai komposisi populasi, sementara golongan AB memiliki jumlah pendonor paling sedikit. Karena itu, PMI terus mendorong masyarakat untuk menjadikan donor darah sebagai kebiasaan rutin agar ketersediaan darah tetap terjaga setiap saat.
Baca juga:
Pegadaian Kanwil XI Semarang Perluas Akses Khitan Modern
Di tengah tantangan pemenuhan layanan kesehatan yang membutuhkan dukungan berbagai pihak, langkah organisasi profesi membangun budaya gotong royong melalui aksi kemanusiaan menjadi contoh kolaborasi yang patut diperluas.
Sebab, menjaga ketersediaan darah bukan semata tugas PMI, melainkan tanggung jawab bersama yang hanya dapat terwujud melalui kepedulian masyarakat.
Baca juga:
Pesta Bolon Sagala Raja 2026 di Samosir, Budaya Batak dan Aksi Hijau
Pertanyaannya, sudahkah kita ikut menyumbangkan setetes darah untuk menyelamatkan sesama?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #IkatanNotarisIndonesia #PengdaKotaSemarang #BaktiSosial #DonorDarah #PMI #UnitDonorDarah #KhitananMassal

.jpeg)
