GalaPos ID, Maluku.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,5 mengguncang wilayah Laut Maluku pada Selasa. Meski dirasakan hingga sejumlah daerah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
"Begitu bumi berguncang, lini masa ikut bergetar. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar memiliki kekuatan seakurat data seismograf."
Baca juga:
- Kebakaran TPA Jatiwaringin Masuk Hari Ke-7, Alarm Keras Pengelolaan Sampah
- OJK Denda 100 Pelaku Pasar Modal Rp86,26 Miliar, IHSG Masih Tertekan
- Puting Berdarah Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kanker Payudara
Gala Poin:
1. BMKG memastikan gempa magnitudo 5,5 di Laut Maluku dipicu aktivitas subduksi lempeng dan tidak berpotensi tsunami.
2. Guncangan dirasakan di Naha dan Tobelo, namun hingga pemantauan terakhir belum terdeteksi adanya gempa susulan.
3. Masyarakat diminta tetap tenang, menghindari bangunan yang rusak, dan hanya mengacu pada informasi resmi untuk mencegah kepanikan akibat hoaks.
Kepastian itu disampaikan setelah BMKG melakukan analisis parameter terbaru dan pemodelan matematis terhadap sumber gempa. Informasi ini menjadi penting untuk meredam kepanikan masyarakat sekaligus mencegah penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan gempa tersebut merupakan gempa tektonik dangkal yang dipicu aktivitas subduksi lempeng Laut Maluku.
"Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng Laut Maluku dengan kedalaman mencapai 40 kilometer," kata Wijayanto, dikutip GalaPos ID, Rabu, 8 Juli 2026.
Episenter Berada di Laut Maluku
BMKG mencatat episenter gempa berada pada koordinat 3,21 derajat Lintang Utara dan 127,47 derajat Bujur Timur atau sekitar 107 kilometer barat laut Pulau Doi, Halmahera Utara, dengan kedalaman 40 kilometer.
Baca juga:
Kematian Tahanan dan Isu Ponsel di Lapas Labuhanruku Picu Aksi Ratusan Warga
Berdasarkan laporan masyarakat, guncangan dirasakan di wilayah Naha dengan intensitas II–III MMI. Pada tingkat ini, getaran terasa nyata di dalam rumah dan menyerupai truk besar yang melintas.
Sementara itu, di Tobelo, guncangan dilaporkan berada pada intensitas II MMI. Beberapa warga merasakan getaran ringan yang ditandai dengan benda-benda gantung bergoyang.
BMKG juga menjelaskan karakteristik sumber gempa berdasarkan analisis mekanisme patahan.
"Hasil analisis lebih lanjut terhadap mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi tektonik di Laut Maluku ini memiliki karakteristik pergerakan geser naik atau oblique thrust fault," ujar Wijayanto menambahkan.
Belum Terdeteksi Gempa Susulan
Hingga pukul 14.30 WIB atau 16.30 WIT, sistem pemantauan seismik BMKG belum mencatat adanya aktivitas gempa susulan.
Meski demikian, masyarakat diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bahaya sekunder, seperti bangunan yang mengalami kerusakan akibat guncangan.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Masyarakat diminta tetap tenang, mengikuti informasi dari sumber resmi, serta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat dampak gempa hingga dipastikan aman.
Di tengah cepatnya arus informasi digital, kecepatan memperoleh kabar harus diimbangi dengan ketelitian memverifikasi sumber. Dalam situasi kebencanaan, informasi yang akurat dapat menjadi bagian penting dari upaya melindungi keselamatan masyarakat.
Baca juga:
IHSG Anjlok 34,74 Persen, OJK Klaim Tekanan Pasar Mulai Mereda
Gempa bumi memang tidak bisa diprediksi. Namun, kepanikan akibat kabar bohong sering kali bisa dicegah jika masyarakat lebih memilih mendengar penjelasan resmi daripada pesan berantai.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BMKG #GempaBumi #LautMaluku #MitigasiBencana #InfoGempa

