GalaPos ID, Solo.
Terbongkarnya jaringan penipuan daring internasional di Solo Baru, Sukoharjo, memperlihatkan bahwa kejahatan digital saat ini tidak lagi bertumpu pada kemampuan meretas sistem komputer. Yang dijual justru sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih berbahaya: kepercayaan.
"Penipu modern tidak lagi membawa golok atau pistol. Cukup wajah menarik, koneksi internet, dan janji keuntungan kripto."
Baca juga:
- Geger di Pantai Teluk Penyu, Jenazah Lansia Tanpa Identitas Dievakuasi
- Abdu Sholeh Kembangkan Belicept, Gabungkan Banyak Brand di Satu Platform
- Hakim Perintahkan Polisi Lanjutkan Penyidikan Kasus Andrie Yunus
Gala Poin:
1. Polisi membongkar sindikat penipuan internasional dengan keuntungan sekitar Rp41,1 miliar.
2. Korban mayoritas warga Amerika Serikat yang dijebak melalui hubungan romantis daring.
3. Perekrutan pekerja dilakukan melalui media sosial dengan iming-iming gaji besar.
Polda Jawa Tengah mengungkap sindikat love scam dan pig butchering yang diduga memperoleh keuntungan hingga USD 2.327.625,85 atau setara sekitar Rp41,1 miliar.
Target utama mereka adalah warga negara Amerika Serikat yang dijebak melalui hubungan personal di media sosial, aplikasi kencan, dan berbagai platform digital.
"Perusahaan tersebut digunakan sebagai sarana perekrutan pekerja sekaligus kantor operasional penipuan online yang menyasar warga negara asing, khususnya warga negara Amerika Serikat," kata Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah, Kombes Himawan Susanto Saragih, dalam konferensi pers, Selasa, 2 Juni 2026.
Baca juga:
Dadan Hindayana Dicopot, Ada Apa dengan Badan Gizi Nasional?
"Modus ini sangat terstruktur dan memanfaatkan sisi psikologi korban. Korban dibuat merasa memiliki hubungan personal sehingga tanpa sadar melakukan transfer dana secara bertahap dalam jumlah besar," ujar Himawan, Selasa, 2 Juni 2026.
Korban kemudian diarahkan ke situs investasi kripto yang telah direkayasa sehingga seluruh dana yang disetor masuk ke jaringan pelaku.
Strategi tersebut menjadikan korban tidak merasa sedang ditipu. Mereka justru percaya sedang mendapatkan peluang investasi dan hubungan personal yang menjanjikan.
![]() |
| Di tengah mahalnya biaya hidup, ternyata ada industri yang tumbuh subur dari rasa kesepian manusia. Foto: dok Polda Jateng |
Facebook Jadi Pintu Masuk
Temuan penyidik menunjukkan sebagian pekerja direkrut melalui media sosial.
"Dari WNI tersebut itu dia mendapatkan penawaran pekerjaan di platform Facebook," kata Himawan.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana media sosial kini memainkan dua peran sekaligus dalam ekosistem kejahatan digital: sebagai alat mencari korban dan sarana mencari pelaku.
Banyak pekerja direkrut dengan janji pekerjaan bergaji tinggi tanpa memahami secara utuh aktivitas yang akan mereka lakukan.
Kejahatan yang Menjual Empati
Kasus ini menunjukkan perubahan besar dalam dunia kriminal digital.
Jika dahulu penipu bergantung pada email palsu dan pesan berantai, kini mereka mengemas operasi layaknya perusahaan profesional dengan pembagian tugas, target, hingga sistem penggajian.
"Gaji dari marketing, kemudian dari leader, kemudian model, itu berkisar Rp 10 juta sampai Rp 20 juta per bulan," ungkap Himawan pada Selasa, 2 Juni 2026.
Baca juga:
Rumor ke Fakta, Adhisty Zara Umumkan Pernikahan dan Kehamilan Pertama
Yang mengkhawatirkan, senjata utama mereka bukan lagi teknologi canggih, melainkan kemampuan memahami emosi manusia.
Kesepian, harapan, kebutuhan akan perhatian, dan impian memperoleh keuntungan finansial menjadi bahan bakar utama industri penipuan digital modern.
Bagi masyarakat, kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan siber tidak selalu datang dalam bentuk tautan berbahaya atau virus komputer. Kadang ia hadir dalam bentuk percakapan hangat, perhatian yang tampak tulus, dan janji masa depan yang terdengar terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
Baca juga:
Publikasi Siaran Pers Rilis Media Nasional: Jangkauan Luas, Efisiensi Tinggi
"Terbongkarnya sindikat love scam di Solo menunjukkan bagaimana teknologi, media sosial, dan psikologi manusia dipadukan menjadi mesin penipuan bernilai puluhan miliar rupiah. Kasus ini mengungkap sisi gelap ekonomi digital yang jarang dibahas: bisnis yang menjual kepercayaan lalu mengubahnya menjadi kerugian."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #LoveScam #PigButchering #KriminalSiber #InvestasiBodong #BeritaNasional
.jpg)
