GalaPos ID, Cirebon.
Persoalan pengelolaan sampah kembali menjadi sorotan di Kabupaten Cirebon. Tumpukan sampah yang menggunung di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Minggu Palimanan kini meluber hingga menutup sebagian badan jalan, mengganggu lalu lintas, memicu bau menyengat, serta mengancam kesehatan warga dan aktivitas ekonomi para pedagang.
![]() |
| Saat sampah lebih cepat memenuhi jalan daripada solusi datang, warga Palimanan terpaksa antre melewati gunungan limbah yang sebulan tak kunjung terangkut. Foto: MH |
"TPS yang seharusnya menampung sampah kini justru menampung keluhan warga. Sementara bau busuk menguasai pasar, solusi masih tampak antre di belakang truk pengangkut."
Baca juga:
- Backlink Dofollow Masih Jadi Raja? Ini Fakta SEO yang Jarang Dibahas
- Bukan Sekadar Kedinginan, Menggigil Bisa Jadi Sinyal Penyakit
- Kembung hingga Sakit Kepala, Efek Garam yang Sering Diabaikan
Gala Poin:
1. TPS Pasar Minggu Palimanan mengalami overload selama sekitar satu bulan hingga sampah meluber ke badan jalan dan mengganggu lalu lintas.
2. Pedagang dan warga terdampak langsung akibat bau menyengat, lalat, ulat, serta kondisi jalan yang licin dan berpotensi membahayakan pengguna jalan.
3. Masalah serupa terjadi di sejumlah TPS lain di Kabupaten Cirebon, memunculkan sorotan terhadap efektivitas pengelolaan sampah daerah pasca-Iduladha.
Kondisi yang disebut telah berlangsung sekitar satu bulan itu semakin memburuk setelah Iduladha. Lonjakan volume sampah dari aktivitas pasar dan limbah rumah tangga membuat TPS tidak lagi mampu menampung sampah yang terus berdatangan.
Akibatnya, tumpukan sampah meluas hingga ke akses jalan yang sebelumnya dapat dilalui kendaraan roda empat. Kini, kendaraan roda empat nyaris tidak dapat melintas. Pengguna jalan hanya menyisakan ruang sempit yang dapat dilalui kendaraan roda dua secara bergantian.
Selain menyebabkan kemacetan, cairan sampah yang mengalir ke jalan membuat permukaan aspal licin dan berisiko menimbulkan kecelakaan. Di tengah kondisi tersebut, warga dan pelaku usaha sekitar pasar menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Bau busuk yang menyengat, lalat yang beterbangan, serta kemunculan ulat dari tumpukan sampah mengganggu kenyamanan dan aktivitas perdagangan sehari-hari.
Baca juga:
Backlink Gratis High Authority, Jalan Pintas Google atau Manipulasi SEO?
“Katanya sih di TPA-nya macet,” ujar Andrianus, pedagang telur, terkait penyebab belum terangkutnya sampah dari TPS tersebut, dikutip GalaPos ID, Minggu, 31 Mei 2026.
Menurut para pedagang, protes kepada pihak terkait sebenarnya sudah pernah disampaikan. Namun setelah sempat dibersihkan, sampah kembali menumpuk dan volumenya terus bertambah tanpa solusi yang berkelanjutan.
![]() |
| TPS yang seharusnya menampung sampah kini justru menampung keluhan warga. Sementara bau busuk menguasai pasar, solusi masih tampak antre di belakang truk pengangkut. Foto: MH |
Fenomena overload TPS tidak hanya terjadi di Palimanan. Kondisi serupa dilaporkan muncul di sejumlah titik lain di Kabupaten Cirebon, termasuk TPS Pasar Jamblang dan TPS di kawasan Perumahan Klangenan.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem pengangkutan dan pengelolaan sampah daerah, terutama saat terjadi peningkatan volume sampah pasca hari besar keagamaan.
Warga dan pedagang berharap Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon segera mengambil langkah cepat untuk mengangkut sampah yang menumpuk ke tempat pembuangan akhir serta menyiapkan solusi jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus berulang dan merugikan masyarakat.
Baca juga:
Zero Banjir atau Zero Solusi? Bengkulu Masih Tenggelam Saat Hujan Deras
"Ketika jalan berubah fungsi menjadi tempat sampah dadakan, warga Palimanan harus berbagi ruang dengan gunungan limbah yang tak kunjung terangkut. Bau menyengat, lalat, dan akses jalan yang menyempit menjadi potret nyata krisis pengelolaan sampah di Kabupaten Cirebon pasca-Iduladha."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #SampahCirebon #Palimanan #KrisisSampah #LingkunganHidup #PelayananPublik
.jpg)
.jpg)