Backlink Dofollow Masih Jadi Raja? Ini Fakta SEO yang Jarang Dibahas

GalaPos ID, Semarang.
Demam backlink kembali menjangkiti pemilik website di Indonesia. Mulai dari blogger pribadi hingga pelaku bisnis digital kini ramai berburu tautan dofollow demi mengejar posisi strategis di halaman pertama Google.

Backlink Dofollow Masih Jadi Raja? Ini Fakta SEO yang Jarang Dibahas
Banyak pemilik website Indonesia mengejar backlink seperti warga mengejar flash sale. Padahal, tidak semua tautan itu sakti. Ada yang cuma jadi pajangan profil tanpa pengunjung, tanpa pembaca, tanpa dampak nyata. Foto: ilustrasi

 

“Sebagian orang menulis artikel untuk manusia. Sebagian lain menulis untuk Google. Bedanya tipis: yang satu dibaca, yang satu cuma ditanam backlink.”

Baca juga:

Gala Poin:
1. Backlink dofollow masih menjadi target utama praktisi SEO Indonesia.
2. Banyak konten dibuat hanya demi manipulasi ranking mesin pencari.
3. Backlink nofollow tetap penting untuk branding dan trafik alami.


Padahal, tidak semua backlink memiliki pengaruh besar terhadap kualitas informasi di internet.

“Backlink Dofollow adalah tautan yang memberikan ‘power’ SEO dari website sumber ke website tujuan,” terang Ridho, seorang karyawan media mainstream di Jakarta, Jumat, 29 Mei 2026.

Karena dianggap mampu mentransfer kekuatan ranking, backlink dofollow menjadi komoditas paling diburu. Banyak praktisi SEO bahkan rela membuat puluhan akun, artikel, dan komentar hanya untuk mendapatkan satu tautan aktif.

Namun praktik tersebut menimbulkan masalah baru. Internet dipenuhi konten repetitif yang dibuat semata-mata demi menanam link.


Mesin Pencari Menjadi Arena Perebutan Otoritas
Google menggunakan backlink sebagai salah satu indikator kepercayaan sebuah website. Semakin banyak website kredibel memberikan tautan, semakin besar peluang sebuah situs dianggap relevan.

“Google melihat backlink sebagai tanda kepercayaan. Ketika website besar menautkan link ke website kamu, Google menganggap kontenmu berkualitas dan layak dipercaya,” lanjutnya.

Baca juga:
Geger Siang Hari di Unand, Office Boy Fakultas Kedokteran Tak Bernyawa

Persoalannya, logika tersebut kemudian dimanfaatkan secara agresif oleh industri SEO. Banyak pihak tidak lagi fokus membangun kualitas informasi, tetapi sibuk memanipulasi persepsi algoritma.
 
Praktik itu terlihat dari maraknya profile backlink di platform seperti About.me, Behance, hingga Gravatar. Sebagian akun bahkan tidak aktif, hanya dibuat untuk menaruh URL website.

Di sisi lain, backlink nofollow sering diremehkan karena dianggap tidak memberikan “link juice”.

“Backlink Nofollow tidak mentransfer link juice atau kekuatan SEO secara langsung,” tulis pria yang tinggal di Tangerang tersebut.

Padahal, backlink nofollow tetap berfungsi membangun trafik, branding, dan profil tautan yang terlihat alami di mata Google.

Dofollow vs Nofollow: Salah Kaprah Praktik SEO di Indonesia
Di dunia SEO, backlink dofollow sering diperlakukan seperti surat rekomendasi pejabat. Sementara nofollow dianggap warga kelas dua. Foto: ilustrasi

 

Website Authority Jadi Ladang Perburuan
Platform berotoritas tinggi seperti Medium, Quora, WordPress.com, hingga Google Sites kini menjadi sasaran utama pemburu backlink gratis.

Fenomena ini menciptakan pola baru: semakin tinggi Domain Authority sebuah platform, semakin ramai dibanjiri artikel semi-promosi berkedok edukasi.

Sebagian artikel memang informatif. Namun tidak sedikit yang hanya menjadi “kendaraan tautan” dengan kualitas isi minim.

“Backlink adalah investasi jangka panjang untuk meningkatkan reputasi website di mata Google dan pengguna,” sebutnya.

Baca juga:
MPMX Tebar Dividen Jumbo Saat Industri Otomotif Masih Terseok

Kalimat itu benar, tetapi realitasnya jauh lebih kompleks. Ketika backlink dijadikan obsesi utama, kualitas pengalaman pembaca justru sering dikorbankan.


Publik Dibanjiri Konten Optimasi
Pengguna internet Indonesia kini menghadapi banjir artikel SEO dengan pola serupa: judul bombastis, isi berulang, dan tujuan utama mengarahkan trafik.

Di tengah situasi itu, publik perlu lebih kritis membedakan mana konten yang benar-benar membantu dan mana yang sekadar “umpan algoritma”.

Internet seharusnya menjadi ruang pengetahuan, bukan sekadar arena adu cepat menipu mesin pencari.

 

 

Baca juga:
Besek Bambu Lawan Plastik, Pacitan Sulap Kurban Jadi Gerakan Ramah Lingkungan

"Banyak pemilik website Indonesia mengejar backlink seperti warga mengejar flash sale. Padahal, tidak semua tautan itu sakti. Ada yang cuma jadi pajangan profil tanpa pengunjung, tanpa pembaca, tanpa dampak nyata."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #SEO2026 #BacklinkDofollow #DigitalBisnis #KontenSEO #GoogleSearch

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال