GalaPos ID, Rejang Lebong.
Kenaikan harga sayur mayur yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di sejumlah pasar tradisional Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, mulai menekan daya beli masyarakat.
Ibu rumah tangga terpaksa mengurangi jumlah belanja harian, sementara pedagang menghadapi penurunan omzet akibat lesunya transaksi di pasar.
"Yang menyusut bukan harga sayur, melainkan isi kantong warga. Uang Rp100 ribu kini terasa seperti Rp50 ribu saat berbelanja di Pasar Atas Curup."
Baca juga:
- Krisis Sampah di Cirebon, TPS Palimanan Meluap hingga Picu Kemacetan
- Backlink Dofollow Masih Jadi Raja? Ini Fakta SEO yang Jarang Dibahas
- Bukan Sekadar Kedinginan, Menggigil Bisa Jadi Sinyal Penyakit
Gala Poin:
1. Harga sejumlah komoditas sayur di Pasar Atas Curup mengalami kenaikan signifikan, termasuk cabai, tomat, dan terong.
2. Ibu rumah tangga terpaksa mengurangi jumlah belanja dan mengubah pola konsumsi akibat daya beli yang menurun.
3. Pedagang sayur menghadapi tekanan ganda karena modal meningkat sementara jumlah pembeli dan omzet terus menurun.
Pantauan di Pasar Atas Curup, Kecamatan Curup Tengah, menunjukkan hampir seluruh komoditas sayuran mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan. Cabai yang sebelumnya dijual sekitar Rp50.000 per kilogram kini mencapai Rp70.000 per kilogram.
Harga terong naik dari kisaran Rp7.000–Rp8.000 menjadi Rp12.000–Rp15.000 per kilogram. Sementara tomat yang sebelumnya Rp5.000 per kilogram kini menyentuh Rp10.000 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut berdampak langsung terhadap pola konsumsi rumah tangga. Warga yang sebelumnya dapat membeli berbagai kebutuhan dapur dengan leluasa kini harus lebih selektif menentukan menu makanan sehari-hari.
"Sekarang beli sayurnya dikurangin, cari yang lebih murah dulu. Bawak uang Rp100 ribu sekarang hanya dapat sekantong kecil," ujar salah seorang ibu rumah tangga, Ratna saat ditemui di Pasar Atas Curup, Sabtu, 31 Mei 2026.
Baca juga:
Backlink Gratis High Authority, Jalan Pintas Google atau Manipulasi SEO?
"Modal yang harus kami siapkan makin besar karena harga dari pemasok naik, tapi yang terjual malah makin sedikit. Kami terjepit," keluh seorang pedagang sayur, Endang.
Menurut para pedagang, situasi saat ini menciptakan dilema. Di satu sisi mereka harus menyediakan modal lebih besar untuk membeli stok dagangan, namun di sisi lain kemampuan masyarakat untuk berbelanja terus menurun. Akibatnya, perputaran uang di pasar tradisional ikut melambat.
![]() |
| Saat cabai menembus Rp70 ribu per kilogram, dapur warga Curup mulai dipenuhi strategi bertahan hidup. Menu harian kini ditentukan bukan oleh selera, melainkan harga pasar. Foto: IM |
Pasar Atas Curup yang berada di Kelurahan Pelabuhan Baru, Kecamatan Curup Tengah, selama ini menjadi pusat aktivitas ekonomi terbesar di Kabupaten Rejang Lebong. Pasar tersebut menjadi rujukan masyarakat dari berbagai kecamatan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan di pasar sentral ini dikhawatirkan berdampak lebih luas terhadap perekonomian masyarakat. Jika kondisi berlangsung dalam waktu lama, beban rumah tangga berpotensi semakin berat dan aktivitas perdagangan di pasar tradisional dapat terus melemah.
Baik Ratna maupun Endang berharap harga sayur mayur kembali stabil sehingga daya beli masyarakat pulih dan aktivitas ekonomi di pasar tradisional kembali bergairah.
Baca juga:
Kurban dari Wagub DKI Disalurkan PW Matahari Pagi untuk Warga Jakarta
"Dulu uang Rp100 ribu cukup membawa pulang berbagai kebutuhan dapur. Kini, di Pasar Atas Curup, nominal yang sama hanya menghasilkan sekantong kecil belanjaan. Ketika harga sayur terus merangkak naik, ibu rumah tangga dan pedagang sama-sama dipaksa berhemat."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #HargaSayurNaik #PasarAtasCurup #RejangLebong #EkonomiRakyat #InflasiPangan
.jpg)
.jpg)