GalaPos ID, Bengkulu.
Banjir kembali merendam sejumlah wilayah di Provinsi Bengkulu. Ribuan kepala keluarga terdampak, aktivitas warga lumpuh, rumah terendam, hingga ancaman longsor dan cuaca ekstrem terus menghantui masyarakat.
Di tengah pengerukan drainase dan normalisasi sungai yang gencar dilakukan pemerintah, publik mulai mempertanyakan satu hal penting: mengapa banjir terus berulang setiap tahun?
Normalisasi sungai terus dilakukan, tetapi pola pikir soal lingkungan tampaknya masih belum ikut “dinormalisasi”
Baca juga:
- ASTON Serang Sabet Best Audit hingga Thermal Fluida di Archipelago Awards 2026
- Xiaomi 17T vs 17T Pro: Duel Flagship Baru dengan Kamera Periskop 5x
- Divisi Media Coordinator GalaPos ID
Gala Poin:
1. Ribuan warga Bengkulu terdampak banjir akibat cuaca ekstrem dan buruknya kondisi lingkungan.
2. Pemerintah melakukan normalisasi sungai dan pengerukan drainase, tetapi solusi jangka panjang dinilai belum menyentuh akar masalah.
3. Akademisi dan masyarakat menilai kerusakan lingkungan serta rendahnya kesadaran publik menjadi faktor utama banjir terus berulang.
Data Pemerintah Kota Bengkulu mencatat sebanyak 2.688 kepala keluarga terdampak banjir akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak awal April 2026. Kawasan permukiman di Kecamatan Ratu Agung, Sungai Serut, Muara Bangkahulu, hingga Singaran Pati menjadi titik terdampak paling parah.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Bengkulu, Deni, mengatakan pihaknya masih terus melakukan pendataan terhadap warga terdampak.
“Kami masih terus melakukan pendataan dan merekap jumlah korban terdampak banjir di Kota Bengkulu,” katanya di Bengkulu, Selasa, 7 April 2026.
Banjir tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi, pendidikan, transportasi, hingga pertanian. Di beberapa wilayah, warga harus menghadapi banjir kiriman yang datang mendadak akibat meluapnya sungai saat hujan deras mengguyur kawasan hulu.
Baca juga:
Bakul Purun Mulai Gantikan Kantong Plastik untuk Pembagian Daging Kurban
Pemerintah Kota Bengkulu sendiri saat ini terus melakukan pengerukan drainase dan normalisasi sungai di sejumlah titik rawan banjir. Langkah itu dilakukan karena sedimentasi dan semak belukar dinilai memperparah aliran air.
“Fokus kita sekarang sesuai dengan program Pemkot untuk menjadikan Bengkulu zero banjir. Kita mengantisipasi dan mencegah banjir, atau minimal meminimalisir debit air yang masih menyebabkan genangan di daerah-daerah rawan tergenang,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kota Bengkulu Agus Suhendra Wijaya.
Namun, di balik berbagai proyek normalisasi sungai, persoalan mendasar justru dinilai belum terselesaikan. Alih fungsi lahan, penebangan hutan, buruknya pengelolaan sampah, dan minimnya kesadaran lingkungan masih menjadi penyebab utama banjir yang terus berulang.
Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Dehasen (UNIVED) Bengkulu, Reda Kurniati, menilai banjir tidak cukup ditangani hanya melalui pembangunan fisik semata.
“Selain itu, upaya mitigasi harus dilakukan secara berkelanjutan. Kegiatan penghijauan, reboisasi, normalisasi sungai, serta pengelolaan sampah yang baik merupakan langkah konkret untuk mengurangi risiko banjir,” tulis Reda Kurniati dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Jumat, 29 Mei 2026.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa banjir bukan semata urusan cuaca ekstrem. Kerusakan lingkungan akibat ulah manusia turut mempercepat datangnya bencana.
Senada dengan itu, Nike Ardila menegaskan bahwa penanganan banjir membutuhkan keterlibatan semua pihak, bukan hanya pemerintah.
“Pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, media massa, dan berbagai pihak lainnya harus bekerja sama dalam menjaga lingkungan serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana,” tulis Nike Ardila.
Di sisi lain, BPBD Kota Bengkulu mengaku telah menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) selama 24 jam untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem yang masih terjadi beberapa hari terakhir.
“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini berpotensi menyebabkan pohon tumbang, banjir luapan, hingga gelombang tinggi di pesisir pantai,” ujar Kepala BPBD Kota Bengkulu I Made Wardana.
Baca juga:
Geger Siang Hari di Unand, Office Boy Fakultas Kedokteran Tak Bernyawa
Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, bahkan menjanjikan pembangunan pelapis tebing sungai untuk mengurangi risiko luapan air di kawasan rawan banjir.
Meski demikian, publik menilai solusi jangka panjang tidak cukup hanya berupa pengerukan sungai atau bantuan pascabencana. Tanpa perubahan perilaku terhadap lingkungan, banjir dikhawatirkan akan terus menjadi “tradisi tahunan” yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab pada akhirnya, banjir bukan hanya soal tingginya curah hujan, melainkan juga tentang rendahnya kesadaran menjaga alam. (end)
Artikel ini,diolah dari tulisan dari kelompok I, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Dehasen (UNIVED) Bengkulu. Dengan anggota kelompok Reda Kurniati dan Nike Ardila.
Baca juga:
MPMX Tebar Dividen Jumbo Saat Industri Otomotif Masih Terseok
"Hujan turun beberapa jam, Bengkulu kembali tenggelam. Drainase dikeruk, sungai dinormalisasi, bantuan dibagikan, tetapi sampah tetap dibuang sembarangan dan hutan terus kehilangan pohon. Ketika banjir datang setiap tahun, publik mulai bertanya: ini bencana alam atau bencana kebiasaan?"
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BanjirBengkulu #ZeroBanjir #LingkunganRusak #CuacaEkstrem #BengkuluDaruratBanjir

