Besek Bambu Lawan Plastik, Pacitan Sulap Kurban Jadi Gerakan Ramah Lingkungan

GalaPos ID, Pacitan.
Pemerintah Kabupaten Pacitan resmi menggalakkan penggunaan besek bambu dan daun alami sebagai wadah daging kurban untuk menggantikan kantong plastik sekali pakai saat Hari Raya Iduladha.
Program bertajuk “Pacitan BISA” itu dinilai berhasil menekan timbunan sampah plastik sekaligus menggerakkan ekonomi pelaku UMKM lokal.

Besek Bambu Lawan Plastik, Pacitan Sulap Kurban Jadi Gerakan Ramah Lingkungan
Di saat plastik sekali pakai masih jadi “tradisi nasional” tiap Iduladha, warga Pacitan justru kembali ke cara lama yang lebih waras: besek bambu dan daun jati. Hasilnya bukan cuma sampah berkurang, tapi UMKM desa ikut bernapas lega. Foto: Heru W

"Di tengah gunungan sampah Iduladha yang tiap tahun “disembelih lalu dilupakan”, warga Pacitan memilih besek bambu: tradisional, ramah lingkungan, sekaligus menyelamatkan perajin desa."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Pemerintah Kabupaten Pacitan menggencarkan penggunaan besek bambu dan daun alami untuk menggantikan kantong plastik saat Iduladha.
2. Penggunaan besek dinilai efektif mengurangi sampah plastik sekaligus menjaga kualitas daging kurban tetap segar.
3. Gerakan ini turut membantu keberlangsungan UMKM perajin besek bambu di pedesaan Pacitan.


Gerakan tersebut mulai diterapkan sejumlah masyarakat dan lembaga keagamaan di Pacitan, Jawa Timur. Salah satunya dilakukan Panitia Kurban MTA Perwakilan Pacitan yang memilih besek bambu sebagai wadah pembagian daging kurban kepada masyarakat.

Langkah itu dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap imbauan Pemerintah Kabupaten Pacitan untuk mengurangi penggunaan sampah plastik dan menggantinya dengan bahan ramah lingkungan.

Ketua Panitia Kurban MTA Perwakilan Pacitan, Arif Widodo, mengatakan penggunaan besek bambu dilakukan untuk menekan lonjakan volume sampah plastik yang biasanya meningkat drastis saat Iduladha.

“Tekstur besek yang berpori menjaga sirkulasi udara di dalam wadah sehingga menjaga kualitas daging tetap segar sebelum didistribusikan,” ujar Arif, Rabu, 27 Mei 2026.

Menurut Arif, penggunaan besek bambu sebenarnya sudah menjadi tradisi di lingkungan MTA dan berlangsung selama bertahun-tahun.

Baca juga:
DJP Kejar Tunggakan Pajak, Tapi Realisasi Baru 20 Persen: Ada Apa? 


Namun, penggunaan wadah organik kini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program pemerintah daerah dalam mengurangi sampah anorganik.

Selain menggunakan besek bambu, panitia juga memanfaatkan daun jati sebagai alas daging kurban. Penggunaan bahan alami itu dinilai mampu menjaga kualitas daging agar lebih awet dan tidak mudah menimbulkan bau.

“Manfaat besek memang sangat membantu apalagi penggunaan daun jati untuk dasar meletakkan daging kurban, akan lebih awet,” tambah Arif.

Di sisi lain, gerakan penggunaan besek bambu turut memberi dampak ekonomi bagi pelaku UMKM perajin besek di pedesaan Pacitan. Selama ini, para pengrajin membutuhkan dukungan dan motivasi agar usaha kecil berbahan bambu tetap bertahan di tengah dominasi produk plastik murah.

Pacitan Gencarkan Besek Bambu untuk Kurban, Sampah Plastik Mulai Tersingkir
Ketika sebagian orang masih bangga membawa pulang daging kurban pakai plastik tipis tiga lapis, Pacitan diam-diam membuktikan kalau bambu dan daun jati ternyata lebih masuk akal. Foto: Heru W

 

Panitia Kurban MTA Perwakilan Pacitan dijadwalkan membagikan daging kurban hingga empat hari ke depan kepada warga yang berhak menerima.

 

 

Baca juga:
TRIV Group Salurkan Tujuh Ekor Sapi Kurban, Apa Motif Aksi Sosial

"Di saat plastik sekali pakai masih jadi “tradisi nasional” tiap Iduladha, warga Pacitan justru kembali ke cara lama yang lebih waras: besek bambu dan daun jati. Hasilnya bukan cuma sampah berkurang, tapi UMKM desa ikut bernapas lega."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Pacitan #IdulAdha2026 #BesekBambu #KurbanRamahLingkungan #UMKMPacitan

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال