Transformasi Sendang Sreto Lamongan, Potensi Besar di Balik Wisata Desa

GalaPos ID, Lamongan.
Sendang Sreto di Desa Pule, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kini tidak lagi sekadar sumber air untuk sawah dan kebutuhan warga.
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini bertransformasi menjadi destinasi wisata desa berbiaya murah yang menyumbang Pendapatan Asli Desa (PAD) sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Dari Irigasi ke Destinasi, Sendang Sreto Hasilkan PAD Desa
Sendang Sreto di Lamongan berubah dari sumber air desa menjadi destinasi wisata murah yang meningkatkan PAD dan membuka lapangan kerja, meski masih menghadapi tantangan pengembangan. Foto: H. Saktiono

"Transformasi Sendang Sreto dari sumber air tradisional menjadi wisata lokal unggulan membuktikan potensi ekonomi desa yang inklusif, namun membutuhkan inovasi dan strategi berkelanjutan agar tetap kompetitif. Namun, apakah keberlanjutannya sudah terjamin?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Sendang Sreto berhasil meningkatkan PAD dan membuka lapangan kerja warga desa
2. Pengembangan wisata masih menghadapi tantangan fasilitas dan inovasi atraksi
3. Keberlanjutan dan daya saing menjadi isu penting di tengah persaingan wisata daerah


Transformasi ini digerakkan oleh pemerintah desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dengan konsep wisata berbasis kearifan lokal. Wisata ini mengintegrasikan alam, budaya, dan aktivitas masyarakat dalam satu ekosistem ekonomi yang diharapkan berkelanjutan.

Kepala Desa Pule, Sutrisno, menegaskan dampak langsung dari pengembangan wisata tersebut terhadap ekonomi warga.

"Otomatis kita membutuhkan tukang parkir, sedangkan warga lainnya bisa berjualan beragam makanan, sudah pasti ini peluang pekerjaan bagi warga saya. Wisata sendang sreto pengunjungnya datang dari sekitar desa, bahkan ada juga yang datang dari luar daerah lamongan, seperti bojonegoro, dan tuban, “ ungkap Sutrisno, Sabtu, 25 April 2026.

Pendapatan desa berasal dari berbagai sumber, mulai dari parkir, wahana, retribusi pedagang kaki lima, hingga penyewaan aula. Meski skalanya masih kecil, model ini menunjukkan potensi ekonomi desa berbasis wisata yang inklusif.

Baca juga:
DXI 2026 Resmi Digelar, Ambisi Besar Pariwisata Petualangan Indonesia

Namun, di balik geliat ekonomi tersebut, tantangan keberlanjutan mulai terlihat. Pemerintah desa mengakui masih perlunya pengembangan fasilitas dan diversifikasi atraksi agar tidak kehilangan daya tarik.
 
“Kita masih terus melakukan pembenahan, termasuk rencana menghadirkan petik buah di sekitar lokasi sendang sreto, sehingga selain berwisata air, wisatawan juga bisa memetik buah langsung dari tempatnya". Imbuh sutrisno.

Langkah ini menjadi penting mengingat persaingan dengan destinasi wisata lain di Lamongan yang sudah lebih mapan, seperti Wisata Bahari Lamongan dan Pantai Kutang.

Pemerintah Kabupaten Lamongan sendiri memberikan dukungan dengan mendorong promosi melalui dinas pariwisata agar Sendang Sreto masuk dalam agenda kunjungan wisata tahunan. Dukungan ini menjadi sinyal bahwa wisata desa mulai dilihat sebagai pilar ekonomi alternatif.

Transformasi Sendang Sreto Lamongan, Potensi Besar di Balik Wisata Desa
Transformasi Sendang Sreto dari sumber air tradisional menjadi wisata lokal unggulan membuktikan potensi ekonomi desa yang inklusif, namun membutuhkan inovasi dan strategi berkelanjutan agar tetap kompetitif. Foto: H. Saktiono
 

Meski demikian, pertanyaan mendasar tetap muncul: sejauh mana pengelolaan berbasis desa ini mampu bertahan dalam jangka panjang tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan dan nilai lokal?

 

 

Baca juga:
Banyu Biru: Negara Tak Boleh Toleransi Eksploitasi PRT

"Sendang Sreto Lamongan kini menjelma menjadi destinasi wisata desa murah yang mampu meningkatkan pendapatan asli desa (PAD) dan membuka peluang kerja bagi warga, meski masih dihadapkan pada tantangan pengembangan dan keberlanjutan."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #WisataDesa #EkonomiLokal #Lamongan #PariwisataIndonesia #BUMDes

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال