GalaPos ID, Teheran.
Di tengah hiruk-pikuk pelantikan pemimpin baru, Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta merilis data mengejutkan mengenai dampak kemanusiaan dari sepuluh hari pertama agresi militer Amerika Serikat dan Israel.
Angkanya jauh melampaui sekadar angka di atas kertas: ribuan nyawa melayang, dan infrastruktur sipil hancur lebur.
![]() |
| Perang yang belum mereda, Iran menunjuk pemimpin baru. Mojtaba Khamenei naik ke kursi tertinggi negara saat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel justru semakin memanas. Foto: parstoday |
Diplomasi dikhianati, sekolah dasar hancur, dan kapal perang ditenggelamkan di tengah laut. Ini bukan lagi sekadar konflik bersenjata, melainkan krisis kemanusiaan yang menurut Iran telah melanggar seluruh norma hukum internasional. Bagaimana dunia meresponsnya?
Baca juga:
- Babak Baru Iran: Mojtaba Gantikan Ayahnya yang Syahid, IRGC Siap Perang Total
- Tambang Emas Ilegal di STL Ulu Terawas Digerebek
- Gunung Sampah Bantar Gebang Longsor Lagi, Ancaman Nyata di Zona 4
Gala Poin:
1. Korban Jiwa dan Infrastruktur: Serangan sejak 28 Februari 2026 menewaskan lebih dari 1.300 warga sipil, termasuk 175 siswi di Minab, serta menghancurkan 9.669 target sipil seperti rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan.
2. Pengkhianatan Diplomasi: Iran mencatat tiga kali AS mengkhianati proses negosiasi (2018, Juni 2025, dan Februari 2026), sehingga tidak ada lagi kepercayaan untuk berdiplomasi dengan Washington.
3. Landasan Hukum dan Respons Militer: Iran menegaskan haknya untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB dan telah melancarkan Operasi Janji Setia hingga gelombang ke-30 sebagai bentuk perlawanan sah.
Sejak dimulainya serangan pada 28 Februari 2026, korban jiwa dari kalangan sipil terus berjatuhan. Kedubes Iran mencatat, "Lebih dari 1.300 anak-anak dan warga sipil tak berdosa telah menjadi syahid".
Anadolu Ajansı, mengutip pernyataan duta besar Iran untuk PBB, bahkan menyebut angka tersebut mencapai setidaknya 1.332 jiwa, dengan sekitar 300 di antaranya adalah anak-anak.
Salah satu insiden paling tragis terjadi di kota Minab. Serangan pagi hari yang menyasar Sekolah Dasar Syajarat Tayyibah menewaskan lebih dari 175 siswi dan staf pengajar, yang usianya berkisar antara 7 hingga 12 tahun.
"Target tersebut meliputi 7.943 unit rumah tinggal, 1.617 pusat perdagangan dan layanan, 32 pusat medis dan farmasi, 65 sekolah dan fasilitas pendidikan, serta 13 bangunan Perhimpunan Bulan Sabit Merah," rinci pernyataan pers Kedubes Iran untuk Indonesia, yang diterima GalaPos ID, Senin, 9 Maret 2026.
Tidak hanya di darat, agresi juga meluas hingga ke perairan internasional. Kapal perang Iran "Dena" yang sedang dalam perjalanan damai menuju India atas undangan resmi Angkatan Laut India, diserang tanpa peringatan.
Baca juga:
TPST Bantar Gebang, Dua Pemilik Warung dan Sopir Truk Tewas Tertimbun
Serangan ini menewaskan 104 awak kapal. "Tindakan Amerika ini bukan hanya merupakan kejahatan yang mengerikan, tetapi juga memperluas lingkup perang melampaui wilayah pesisir Iran serta mengancam keamanan pelayaran internasional," tegas pernyataan tersebut.
Di balik agresi ini, Iran melihat sebuah pola berulang yang mereka sebut sebagai "pengkhianatan diplomasi".
Teheran mencatat tiga fase penting pengkhianatan oleh AS: pertama, penarikan sepihak dari JCPOA pada 2018 di masa pemerintahan Trump; kedua, serangan terhadap Iran pada Juni 2025 di tengah proses perundingan yang hampir mencapai kesepakatan; dan ketiga, serangan pada 28 Februari 2026 setelah putaran kedua perundingan dengan AS.
"Akibat pengkhianatan berulang Amerika Serikat dalam proses perundingan dengan Iran, tidak ada lagi kepercayaan dari pihak Iran untuk melanjutkan diplomasi dengan negara tersebut," demikian pernyataan sikap resmi Teheran.
Menghadapi situasi ini, Iran mendasarkan responsnya pada hukum internasional. Mereka menegaskan hak yang sah untuk mempertahankan integritas teritorial sesuai dengan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan menggunakan seluruh kemampuan dan kapasitasnya untuk menghadapi agresi kriminal ini hingga agresi tersebut dihentikan, atau hingga Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjalankan tugasnya sesuai Pasal 39 Piagam PBB," tulis pernyataan Kedubes Iran.
Sebagai bagian dari hak membela diri itulah, hingga hari ini tahap ke-30 Operasi "Janji Setia 4" (Va'deh Sadegh 4) terus dilancarkan. Operasi yang berada di bawah komando langsung Pemimpin Tertinggi yang baru ini menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam.
Di tengah kecaman internasional yang mulai menggema, pertanyaan besar kini menggantung: akankah Dewan Keamanan PBB turun tangan, atau dunia akan menyaksikan eskalasi yang lebih mengerikan lagi?
Baca juga:
Iran Tegaskan Siap Perang Panjang Lawan AS-Israel
"Lebih dari 1.300 warga sipil tewas, ribuan rumah hancur, dan kapal perang ditenggelamkan di perairan internasional. Artikel ini memaparkan data terbaru korban serangan AS-Israel, pengkhianatan diplomasi versi Teheran, serta posisi hukum Iran dalam membela diri."
#Iran #MojtabaKhamenei #AmerikaIsrael #HukumInternasional #GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia
.jpg)
.jpg)