Babak Baru Iran: Mojtaba Gantikan Ayahnya yang Syahid, IRGC Siap Perang Total

GalaPos ID, Teheran.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik Islam Iran, estafet kepemimpinan tertinggi berpindah secara dinasti.
Di tengah gempuran yang masih berlangsung dan duka yang menyelimuti negeri, Ayatollah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei, putra dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei, resmi dilantik sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Iran, Senin, 9 Maret 2026.

Babak Baru Iran: Mojtaba Gantikan Ayahnya yang Syahid, IRGC Siap Perang Total
Ayatollah Mojtaba Khamenei resmi dilantik sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya Ali Khamenei yang tewas dalam serangan AS dan Israel. Dunia menyoroti kemungkinan suksesi dinasti pertama dalam sejarah Republik Islam Iran. Foto: parstoday

 

"Saat rudal masih melayang dan duka belum usai, Majelis Ahli justru bergerak cepat. Bukan sekadar suksesi biasa, pengangkatan putra Ali Khamenei ini menjadi titik balik perlawanan Iran terhadap apa yang mereka sebut "pengkhianatan diplomasi" Amerika Serikat. Apa yang akan terjadi selanjutnya?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Suksesi Cepat: Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei resmi ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Iran pada 9 Maret 2026 oleh Majelis Ahli dengan dukungan lebih dari 85 persen suara.
2. Dukungan Penuh IRGC: Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung menyatakan ikrar setia, menegaskan bahwa sistem kepemimpinan Iran tidak bergantung pada satu individu dan akan terus berjalan dengan kekuatan penuh di bawah komando baru.
3. Komando Perang Langsung: Di hari pelantikannya, Mojtaba langsung memimpin tahap ke-30 Operasi "Janji Setia 4" (Va'deh Sadegh 4) yang menargetkan wilayah-wilayah Zionis Israel sebagai balasan atas agresi sebelumnya.


Keputusan bersejarah ini diambil hanya beberapa hari setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.

Pelantikan yang berlangsung di Teheran ini menjadi simbol perlawanan sekaligus sinyal keras bahwa poros kekuasaan di Iran tidak akan goyah meskipun pucuk pimpinannya tumbang.

Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta, dalam pernyataan pers resmi yang diterima GalaPos ID, Senin, 9 Maret 2026, menegaskan legitimasi proses suksesi ini.

"Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, dengan memperoleh lebih dari 85 persen suara dari Majelis Khobregan Kepemimpinan (Dewan Pakar Kepemimpinan), telah ditetapkan sebagai Pemimpin Ketiga Republik Islam Iran," demikian bunyi pernyataan tersebut .

Kedubes Iran juga menjelaskan bahwa para anggota Dewan Pakar yang dipilih langsung oleh rakyat untuk masa jabatan delapan tahun ini tetap menjalankan tugas konstitusionalnya.

"Meskipun berada dalam kondisi penuh risiko dan ancaman, mereka melaksanakan tugas besar dan berat ini dengan sebaik-baiknya dan dalam waktu sesingkat mungkin," tambah pernyataan itu.

Baca juga:
Iran Tegaskan Siap Perang Panjang Lawan AS-Israel

Mojtaba, yang lahir di Mashhad pada 1969, bukanlah sosok asing dalam lingkaran kekuasaan. Meskipun tidak pernah memangku jabatan publik resmi, ia telah lama dikenal sebagai "penjaga gerbang" sang ayah dan memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Pendidikan agamanya di Qom serta pengalaman masa mudanya dalam perang Iran-Irak turut membentuk kapasitasnya sebagai seorang ulama sekaligus figur yang dekat dengan kalangan militer.

Pengangkatannya langsung mendapat angin segar dari IRGC. Dalam pernyataan resminya, mereka menegaskan, "Meskipun telah kehilangan seorang pemimpin besar, sejumlah pejabat tinggi, serta komandan militer senior, sistem ini akan tetap melanjutkan jalannya dengan keteguhan dan kekuatan di bawah kepemimpinan baru yang layak dalam upaya menegakkan kebenaran dan keadilan di dunia".

Sikap konfrontatif langsung ditunjukkan di hari pertama kepemimpinannya. Kedubes Iran mengonfirmasi bahwa pada pagi hari pelantikan, tahap ke-30 dari Operasi "Janji Setia 4" (Va'deh Sadegh-4) telah dilaksanakan.

"Operasi ini dilaksanakan di bawah komando kepemimpinan Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei terhadap wilayah-wilayah Zionis Israel," tulis pernyataan pers tersebut.

Sumpah Setia di Bawah Bayang-Bayang Rudal: Mojtaba Khamenei Kini Pemuruh Tertinggi
Iran memasuki babak baru politiknya. Untuk pertama kalinya sejak Revolusi Islam 1979, kekuasaan tertinggi negara berpindah dari seorang ayah kepada putranya, memicu sorotan global tentang kemungkinan lahirnya suksesi dinasti dalam sistem Republik Islam. Foto: parstoday

 

Sikap keras ini tidak terlepas dari duka personal yang mendalam. Dalam serangan 28 Februari lalu, Mojtaba tidak hanya kehilangan ayahnya, tetapi juga ibu, saudara perempuan, ipar, dan keponakannya.

Para analis menilai faktor balas dendam personal ini akan berpadu dengan sentimen nasional, mendorong Iran ke jalur yang lebih keras lagi terhadap AS dan Israel.

Kedutaan Besar Iran di Jakarta dengan tegas menyatakan bahwa tindakan Washington dan Tel Aviv merupakan ancaman serius bagi perdamaian dunia.

"Kami menyerukan kepada seluruh insan merdeka di dunia agar mengutuk keras dan tegas serangan tersebut, serta mengambil langkah nyata dan segera untuk menghadapi kejahatan Amerika Serikat dan rezim Zionis," pungkas pernyataan itu.

 

Baca juga:
Perang Iran vs AS-Israel, Teheran Lancarkan Gelombang Serangan ke Tel Aviv

"Di tengah duka dan gempuran, Iran melantik pemimpin baru. Artikel ini mengupas tuntas proses suksesi Mojtaba Khamenei, dukungan penuh IRGC, serta sinyal keras Teheran bahwa perang akan dibalas dengan perang."

#MojtabaKhamenei #Iran #IRGC #GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال