Kue Rintak, Warisan Kuliner Belitung yang Diburu Saat Lebaran

GalaPos ID, Belitung.
Tradisi menyajikan kue kering saat Idulfitri masih kuat bertahan di Pulau Belitung. Di tengah gempuran produk modern dan kue impor, kue rintak justru tetap menjadi salah satu penganan tradisional yang paling dicari masyarakat.
Kue kering ini dikenal memiliki tekstur renyah dan mudah lumer di mulut.

Kue Rintak, Warisan Kuliner Belitung yang Diburu Saat Lebaran
Renyah, manis, dan lumer di mulut. Kue rintak bukan sekadar camilan Lebaran, tetapi bagian dari identitas kuliner masyarakat Bangka Belitung. Foto: Suharli

 

"Menjelang Idulfitri, dapur-dapur UMKM di Belitung bekerja tanpa henti. Permintaan kue rintak melonjak tajam, menegaskan bahwa kue tradisional ini masih menjadi primadona meja tamu masyarakat."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Permintaan kue rintak meningkat tajam menjelang Idulfitri di Belitung.
2. UMKM lokal mengalami lonjakan produksi hingga tujuh kali putaran selama Ramadan.
3. Tradisi menyajikan kue rintak masih kuat bertahan di tengah gempuran kue modern.


Memasuki penghujung Ramadan, permintaan kue rintak dilaporkan meningkat tajam. Lonjakan ini terjadi seiring aktivitas warga yang mulai mempersiapkan kebutuhan Hari Raya Idulfitri, mulai dari pakaian hingga hidangan khas untuk menjamu tamu.

Fenomena ini memberi dampak langsung bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memproduksi kue tradisional di daerah tersebut.

Salah satunya adalah rumah produksi kue rintak di Desa Baru, Kecamatan Manggar. Pemilik usaha, Agustryanti, mengaku permintaan pelanggan terus meningkat sejak awal Ramadan.

“Pesanan dari pelanggan terus mengalir tanpa henti sejak awal bulan puasa,” kata Agustryanti, Rabu, 11 Maret 2026.

Menurutnya, tingginya pesanan memaksa dapur produksinya bekerja lebih keras dari biasanya. Selama Ramadan tahun ini, usaha miliknya telah melakukan produksi hingga tujuh kali putaran untuk memenuhi permintaan pasar.

Baca juga:
Amanda Rigby dan Andre Taulany Dijodohkan Netizen

Lonjakan produksi tersebut juga berdampak pada meningkatnya kebutuhan bahan baku. Agustryanti menyebut selama masa produksi intensif ini, usaha yang ia jalankan telah menghabiskan hampir satu ton bahan baku.
 
Bahan tersebut terdiri dari tepung, telur, gula, serta berbagai bahan penunjang lainnya yang menjadi komposisi utama pembuatan kue rintak.

Meski rumah produksinya juga membuat berbagai kue kering khas Belitung lainnya seperti kue semprit dan kue cokelat, Agustryanti mengakui kue rintak tetap menjadi produk paling laris.

Dominasi kue tradisional ini menunjukkan bahwa selera masyarakat terhadap kuliner warisan daerah masih terjaga.

Di tengah tren makanan modern dan kue kering kemasan pabrik, keberadaan kue rintak justru memperlihatkan bahwa tradisi kuliner lokal memiliki daya tahan kuat dalam budaya masyarakat Belitung.

Bagi banyak keluarga, kue rintak bukan sekadar makanan ringan. Kue ini menjadi simbol keramahan tuan rumah saat menyambut tamu pada hari kemenangan.

Tradisi Lebaran di Belitung: Kue Rintak Masih Jadi Favorit Warga
Pemilik usaha rumah produksi kue rintak di Desa Baru, Kecamatan Manggar, Agustryanti, mengaku permintaan pelanggan terus meningkat sejak awal Ramadan. Foto: Suharli

 

Di tengah perubahan gaya hidup dan maraknya makanan modern, kue rintak tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu kue tradisional yang penting dalam budaya kuliner masyarakat Bangka Belitung.

Kue kering ini dikenal memiliki tekstur renyah dan mudah lumer di mulut. Rasanya manis gurih dengan aroma khas santan dan pandan, menjadikannya hidangan yang hampir selalu hadir saat Idulfitri maupun acara adat.


 

Baca juga:
Babak Baru Iran: Mojtaba Gantikan Ayahnya yang Syahid, IRGC Siap Perang Total

"Permintaan kue rintak di Belitung meningkat tajam menjelang Idulfitri. UMKM lokal kebanjiran pesanan, menegaskan kuatnya tradisi kuliner khas Bangka Belitung ini."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KueRintak #KulinerBelitung #TradisiLebaran #UMKMBelitung #KulinerNusantara

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال