GalaPos ID, Sumedang.
Kecelakaan tragis di Perempatan Bojong, Sumedang Utara, Rabu pagi, 18 Maret 2026, tak hanya menyisakan duka, tetapi juga cerita dramatis dari warga yang berusaha menyelamatkan korban di tengah keterbatasan alat.
"Upaya penyelamatan dramatis warga tak mampu mengangkat truk terguling—tragedi ini membuka kembali soal lemahnya keselamatan di jalur mudik."
Baca juga:
- Kisah Pencarian 3 Hari di Sungai Tajum Berakhir Duka di Serayu
- Manfaat Lari 2026, Dari Jantung Sehat hingga Redakan Stres
- Mitigasi DDoS Linknet & Nexusguard untuk Perlindungan Infrastruktur Digital
Gala Poin:
1. Evakuasi korban terkendala minimnya alat dan beratnya truk terguling.
2. Dua korban perempuan meninggal, satu korban selamat mengalami luka.
3. Kecelakaan memicu kemacetan panjang dan rekayasa lalu lintas.
Dua perempuan, Sumarni (36) dan Enung Nurazizah (36), meninggal dunia setelah sepeda motor yang mereka tumpangi tertimpa truk boks yang terguling. Sementara satu korban lainnya, Eman Suherman (41), mengalami luka dan telah mendapatkan perawatan medis.
Menurut saksi mata, warga sempat berupaya melakukan evakuasi mandiri sebelum petugas datang.
"Kami sempat bantu pakai dongkrak, tapi tidak kuat. Ada dua motor, satu pengendara selamat, sementara dua perempuan tertimpa. Semua korban pemotor, yang satu berboncengan, yang satu sendiri," ucap Dede Sujana, Rabu, 18 Maret 2026.
Upaya tersebut menunjukkan keterbatasan fasilitas darurat di lokasi kejadian, terutama di jalur padat yang menjadi arteri utama mudik. Evakuasi korban terjepit membutuhkan waktu karena beratnya badan truk yang terguling.
Baca juga:
Tradisi Tujuh Likur Lingga Kembali Semarak, Magnet Ribuan Pengunjung
Korban kemudian dievakuasi ke RSUD Umar Wirahadikusumah, Sumedang. Dua korban meninggal ditempatkan di Instalasi Pemulasaraan Jenazah, sementara korban selamat diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan.
Di sisi lain, kecelakaan ini juga memicu kemacetan panjang hingga tiga kilometer. Jalur Bandung–Cirebon yang menjadi urat nadi pergerakan pemudik lumpuh sementara, memaksa petugas melakukan rekayasa lalu lintas.
“Kejadian ini sempat menghambat arus dari arah Cirebon menuju Bandung maupun dari Gerbang Tol Cisumdawu dan Cadas Pangeran. Kami lakukan rekayasa lalu lintas dengan pengalihan ke dalam kota serta memperkuat penempatan personel di titik-titik rawan,” jelas AKP Agus Sukaedi Suryana, Rabu, 18 Maret 2026.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya kesiapan infrastruktur keselamatan, termasuk respons cepat evakuasi dan pengawasan ketat terhadap kendaraan berat di jalur mudik.
Di tengah arus mudik Lebaran, insiden ini kembali menegaskan lemahnya pengawasan terhadap kondisi pengemudi dan kendaraan berat di jalur utama. Rekayasa lalu lintas memang dilakukan, tetapi tidak menyentuh akar persoalan: keselamatan manusia.
Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung di bawah Unit Gakkum Satlantas Polres Sumedang.
Baca juga:
Tekan Defisit, Eric Hermawan: Konsolidasi Fiskal Harus Jadi Prioritas di 2026
"Kecelakaan tragis di Sumedang tak hanya menewaskan dua orang, tetapi juga mengungkap lambannya evakuasi dan risiko besar keselamatan di jalur mudik."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #LakaMaut #Sumedang #JalurMudik #KeselamatanJalan
.jpg)
.jpg)