GalaPos ID, Jakarta.
Olahraga lari kian menjadi pilihan utama masyarakat karena praktis, murah, dan bisa dilakukan kapan saja.
Di tengah tren gaya hidup sehat, aktivitas ini bahkan dipopulerkan oleh sejumlah figur publik, termasuk Gisella Anastasia yang kerap membagikan rutinitas larinya di media sosial.
"Hanya 5–10 menit lari setiap hari disebut cukup untuk meningkatkan kesehatan tubuh—namun di balik tren gaya hidup ini, seberapa besar manfaatnya benar-benar berdampak?"
Baca juga:
- Linknet Enterprise & Nexusguard Hadirkan Perlindungan DDoS Terbaik di Indonesia
- Pendanaan Open Society Foundations, Kontroversi di Balik Hibah untuk UI
- Bunuh Diri Anak di Indonesia Meningkat, Heru Tjahjono Saran Solusi Psikologis
Gala Poin:
1. Lari menjadi olahraga populer karena praktis dan didukung tren gaya hidup sehat, termasuk oleh Gisella Anastasia.
2. Manfaat lari mencakup kesehatan jantung, pengendalian berat badan, hingga kesehatan mental.
3. Meski bermanfaat, klaim kesehatan tetap perlu dikaji kritis dan disesuaikan dengan kondisi individu.
“Mangkanya respect banget buat yang lagi puasa & tetap aktif, apalagi masi jalanin program buat next race.. ga kebayang!,” tulis Gisel, lewat akun instagramnya @gisel_la, Kamis, 5 Maret 2026.
Fenomena ini menunjukkan bahwa lari bukan sekadar olahraga, tetapi telah bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup. Namun, di balik popularitasnya, penting untuk melihat sejauh mana manfaat lari benar-benar berdampak bagi kesehatan, bukan sekadar tren.
Sejumlah studi menyebutkan bahwa lari ringan selama 5–10 menit per hari dengan kecepatan sedang sudah cukup memberikan efek positif bagi tubuh. Manfaat tersebut mencakup aspek fisik hingga mental.
Secara fisik, lari terbukti membantu menjaga kesehatan jantung. Aktivitas ini melatih jantung bekerja lebih efisien, sehingga dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Selain itu, otot dan tulang kaki juga menjadi lebih kuat karena terus digunakan secara aktif.
Baca juga:
Ramadan Fest Bandara Raja Sisingamangaraja XII, Dukung UMKM dan Hiburan Keluarga
Dari sisi mental, manfaat lari juga tidak kalah signifikan. Aktivitas ini diketahui mampu meredakan stres, memperbaiki suasana hati, hingga meningkatkan kualitas tidur. Hal ini berkaitan dengan pelepasan zat kimia otak yang memicu rasa bahagia.
Lebih lanjut, studi dari University of British Columbia pada 2014 menemukan bahwa olahraga aerobik seperti lari dapat meningkatkan ukuran hippocampus, bagian otak yang berperan dalam memori dan fungsi kognitif.
Meski demikian, sejumlah klaim manfaat seperti peningkatan libido atau penurunan risiko kanker tetap perlu disikapi secara kritis. Faktor gaya hidup secara keseluruhan—termasuk pola makan dan kondisi kesehatan individu—memiliki peran besar dalam menentukan hasil akhir.
Di sisi lain, meningkatnya tren lari juga membuka peluang ekonomi baru, mulai dari industri perlengkapan olahraga hingga event lari yang semakin marak di berbagai kota.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa olahraga ini tetap harus dilakukan secara bijak. Tanpa teknik yang benar atau tanpa memperhatikan kondisi tubuh, lari justru berisiko menimbulkan cedera.
Pada akhirnya, lari memang menawarkan banyak manfaat. Tetapi, seperti halnya tren kesehatan lainnya, konsistensi, pemahaman, dan pendekatan yang tepat menjadi kunci agar manfaat tersebut benar-benar dirasakan, bukan sekadar mengikuti gaya hidup sesaat.
Baca juga:
Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi BRIN, BMKG, dan Sidang Isbat Kemenag
"Olahraga lari semakin populer sebagai gaya hidup sehat. Dari kesehatan jantung hingga mental, berikut 15 manfaat lari yang didukung studi serta tren yang dipopulerkan figur publik seperti Gisella Anastasia."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #ManfaatLari #GayaHidupSehat #Olahraga2026 #KesehatanMental #JoggingLifestyle
.jpg)
.jpg)