GalaPos ID, Kab. Lingga.
Tradisi malam Tujuh Likur kembali menyala terang di Kabupaten Lingga. Ribuan pelita atau lampu colok berdiri megah membentuk gerbang-gerbang cahaya yang menjadi magnet bagi masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri.
![]() |
| Tradisi Tujuh Likur di Lingga 2026 kembali semarak dengan ribuan lampu colok. Antusiasme warga membludak, memicu kemacetan dan menyoroti kesiapan pengelolaan acara budaya tahunan ini. Foto: istimewa |
"Ribuan pelita menyala serentak di Kabupaten Lingga, menciptakan pemandangan magis dalam tradisi Tujuh Likur—namun di balik keindahannya, lonjakan massa dan kemacetan menguji kesiapan infrastruktur dan pengamanan."
Baca juga:
- Linknet Enterprise & Nexusguard Hadirkan Perlindungan DDoS Terbaik di Indonesia
- Pendanaan Open Society Foundations, Kontroversi di Balik Hibah untuk UI
- Bunuh Diri Anak di Indonesia Meningkat, Heru Tjahjono Saran Solusi Psikologis
Gala Poin:
1. Tradisi Tujuh Likur di Kabupaten Lingga kembali semarak dengan ribuan lampu colok dan partisipasi warga yang tinggi.
2. Lonjakan pengunjung menyebabkan kemacetan, menyoroti kesiapan infrastruktur dan pengelolaan acara.
3. Selain sebagai atraksi budaya, Tujuh Likur menjadi simbol identitas spiritual dan sosial masyarakat Melayu.
Pada Senin malam, 16 Maret 2026, pusat keramaian terlihat di Dabo Singkep. Sejak kawasan Bandara Dabo Singkep hingga Kampung Baru dan Kampung Boyan, arus kendaraan mengular panjang. Sepeda motor dan mobil bercampur dengan pejalan kaki, menandai tingginya partisipasi warga, termasuk para perantau yang pulang kampung.
Lonjakan mobilitas ini berdampak langsung pada kepadatan lalu lintas, terutama di ruas sempit Kampung Baru. Meski puluhan personel kepolisian telah disiagakan, kemacetan tetap sulit dihindari.
Salah satu panitia gerbang Tujuh Likur Kampung Baru, Yusrizal, menjelaskan konsep yang diusung tahun ini.
“Tema ‘Kembali ke Fitrah’ kami hadirkan lewat instalasi lampu colok tiga dimensi. Harapannya, tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mengingatkan makna spiritual Tujuh Likur,” ujar Yusrizal, dikutip Selasa, 17 Maret 2026.
Baca juga:
Ramadan Fest Bandara Raja Sisingamangaraja XII, Dukung UMKM dan Hiburan Keluarga
Fenomena Tujuh Likur tidak hanya terpusat di Dabo Singkep. Hampir seluruh desa di Kabupaten Lingga turut menggelar gerbang pelita serupa, dengan konsentrasi terbanyak berada di wilayah Singkep yang mencapai belasan titik.
Namun, di balik kemeriahan itu, muncul pertanyaan yang patut menjadi perhatian publik: sejauh mana kesiapan infrastruktur daerah dalam mengelola lonjakan pengunjung pada tradisi tahunan ini? Kepadatan lalu lintas yang berulang setiap tahun menunjukkan perlunya perencanaan yang lebih matang, mulai dari rekayasa arus kendaraan hingga penyediaan ruang publik yang memadai.
Lebih dari sekadar atraksi visual, Tujuh Likur merupakan simbol identitas budaya dan spiritual masyarakat Melayu. Tradisi ini menjadi ruang temu antara nilai religius, kebersamaan sosial, dan nostalgia kampung halaman.
Di bawah cahaya pelita yang berkelap-kelip, masyarakat Lingga tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga merawat ingatan kolektif—sekaligus dihadapkan pada tantangan untuk menjaga agar warisan budaya ini tetap lestari dan tertata dengan baik.
Baca juga:
Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi BRIN, BMKG, dan Sidang Isbat Kemenag
"Tradisi Tujuh Likur di Lingga 2026 kembali semarak dengan ribuan lampu colok. Antusiasme warga membludak, memicu kemacetan dan menyoroti kesiapan pengelolaan acara budaya tahunan ini."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #TujuhLikur #Lingga #BudayaMelayu #MudikLebaran #TradisiIndonesia
.jpeg)
.jpeg)