GalaPos ID, Kab. Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).
Tim SAR gabungan mengerahkan 34 personel ahli untuk mengevakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di tebing ekstrem Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Evakuasi dilakukan melalui jalur darat setelah rencana penggunaan helikopter dibatalkan akibat cuaca buruk.
![]() |
| Cuaca ekstrem memaksa tim SAR menantang tebing vertikal Gunung Bulusaraung. Tanpa helikopter, evakuasi korban ATR 42-500 berubah menjadi operasi darat berisiko tinggi. Foto: istimewa |
"Cuaca ekstrem memaksa tim SAR menempuh jalur darat berisiko tinggi demi mengevakuasi korban pesawat ATR 42-500 di tebing curam Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan."
Baca juga:
- Ceker Ayam: Antara Klaim Gizi, Tradisi Konsumsi, dan Catatan Risiko Kesehatan
- 10 Makanan Terbaik dengan Kandungan Potasium Tinggi
- Ketika Kesehatan dan Bisnis Menjadi Dua Sisi Uang di 2026
Gala Poin:
1. Evakuasi jenazah dilakukan melalui jalur darat akibat cuaca ekstrem.
2. Medan vertikal memaksa penggunaan teknik high angle rescue.
3. Penyisiran serpihan pesawat dilakukan dengan metode e-SAR.
Memasuki hari ketiga operasi, fokus utama pencarian dan pertolongan beralih pada evakuasi jenazah korban. Medan yang memiliki kemiringan vertikal memaksa tim menggunakan teknik high angle rescue, sebuah metode penyelamatan berisiko tinggi yang menuntut ketelitian, kekuatan fisik, dan koordinasi ketat.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa fluktuasi cuaca menjadi faktor utama pembatalan evakuasi udara.
"Opsi evakuasi udara tidak memungkinkan. Kami mengerahkan regu yang terdiri dari 34 personel untuk menjangkau titik penemuan melalui jalur darat," ujar Andi, Senin, 19 Januari 2026.
Selain mengevakuasi jenazah, tiga regu SAR lainnya memperluas radius penyisiran dengan metode electronic search and rescue (e-SAR).
Metode ini digunakan untuk memastikan seluruh manifes dan serpihan penting pesawat tidak tertinggal di kawasan perbukitan yang memiliki vegetasi rapat dan medan berbatu.
Baca juga:
Manfaat Bulu Tangkis untuk Kesehatan di Tengah Tren Hidup Sehat 2026
Kondisi cuaca di lokasi hingga kini masih dilaporkan tidak menentu. Basarnas terus berkoordinasi dengan BMKG Sulawesi Selatan untuk memantau dinamika cuaca, termasuk potensi hujan dan pergerakan awan rendah.
Andi berharap kondisi atmosfer dapat membaik pada siang hari agar proses mobilisasi jenazah menuju posko utama tidak terhambat.
Operasi pencarian dan pertolongan kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar memasuki fase krusial. Cuaca yang tak bersahabat kembali menjadi faktor penentu, memaksa tim SAR gabungan menutup opsi evakuasi udara dan memusatkan upaya melalui jalur darat ekstrem Gunung Bulusaraung.
Kondisi cuaca di Bulusaraung hingga Senin siang masih dilaporkan tidak menentu. Basarnas terus berkoordinasi intensif dengan BMKG Sulawesi Selatan guna memantau pergerakan awan dan potensi hujan.
Andi berharap cuaca membaik agar proses mobilisasi jenazah dari titik ekstrem menuju posko utama dapat dilakukan tanpa meningkatkan risiko bagi personel.
“Risiko longsor dan licinnya batuan menjadi perhatian utama kami di lapangan,” ujarnya.
Di balik operasi ini, publik diingatkan bahwa keselamatan tim penyelamat sama pentingnya dengan kecepatan evakuasi. Setiap keputusan yang diambil di Bulusaraung bukan sekadar soal teknis, melainkan pertaruhan nyawa dalam misi kemanusiaan.
Baca juga:
Novita Hardini Pertanyakan Visi Indonesia Jadi Pusat Pariwisata Dunia
"Tim SAR gabungan mengerahkan 34 personel untuk mengevakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport di Gunung Bulusaraung. Evakuasi darat dilakukan setelah cuaca buruk membatalkan penggunaan helikopter."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #SARIndonesia #EvakuasiATR #Bulusaraung
.jpeg)
.jpeg)