Mengapa 8 dari 10 Orang Gagal di Social Media Marketing?

GalaPos ID, Jakarta.
Di tengah dominasi media sosial sebagai kanal pemasaran, kegagalan justru menjadi cerita yang paling sering terjadi. Seorang praktisi digital marketing secara terbuka mengungkapkan, delapan dari sepuluh orang gagal di Social Media Marketing bukan karena kurang rajin, tetapi karena salah memahami strategi dasar.

Bukan Kurang Konten, Ini Penyebab Utama Gagalnya SMM

"Bukan soal rajin posting, kegagalan Social Media Marketing justru berakar pada kesalahan strategi yang sejak awal diabaikan."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Kegagalan SMM umumnya disebabkan fokus berlebihan pada banyak platform.
2. Kepribadian brand dan strategi konten menjadi fondasi utama.
3. Social Media Marketing menuntut konsistensi, interaksi, dan analisis berkelanjutan.

“Social media marketing itu tidak sederhana,” tulisnya.

Kesalahan pertama, menurut panduan tersebut, adalah mengelola terlalu banyak platform sekaligus. Waktu, biaya, tenaga, dan ilmu menjadi kendala utama. Bagi pemula, fokus pada satu platform utama dinilai jauh lebih efektif dibanding mencoba hadir di semua kanal.

Pemilihan platform pun tidak bisa asal besar. Ukuran pengguna, karakter audiens, dan jenis konten harus menjadi pertimbangan utama. Facebook unggul dari sisi demografi luas, Instagram kuat di visual, sementara Twitter dan LinkedIn memiliki ritme dan budaya interaksi berbeda.

Kesalahan berikutnya adalah tidak menetapkan kepribadian brand. Bahasa yang terlalu santai untuk audiens dewasa, atau sebaliknya, justru menciptakan jarak.

“Kata-kata yang anda gunakan di social media akan mencerminkan bisnis anda,” tulis narasumber.

Baca juga:
Groundbreaking Jembatan Ancol–JIS Digelar 25 Januari 2026

Namun, titik krusial terletak pada strategi konten. Kualitas konten, waktu posting, dan frekuensi menjadi penentu utama keberhasilan. Data menunjukkan, konten berbentuk link, foto, dan video memiliki performa berbeda di setiap platform.

Artikel berbentuk daftar (list-post) dan konten yang membangkitkan emosi seperti kagum, lucu, empati, atau marah, tercatat paling banyak dibagikan.

Frekuensi pun tidak bisa disamaratakan. Facebook idealnya maksimal dua kali sehari, Instagram satu hingga dua kali, sementara Twitter justru membutuhkan intensitas lebih tinggi. Soal waktu posting, tidak ada jam sakti universal—semuanya bergantung pada perilaku audiens masing-masing akun.

Lebih dari itu, Social Media Marketing bukan sekadar produksi konten.

“Social media marketing bukan pekerjaan sekali jalan, tapi berkelanjutan,” tulis panduan tersebut.

 

Kesalahan Fatal Social Media Marketing yang Jarang Dibahas

Interaksi dengan pengikut, analisis data, perencanaan, hingga eksperimen rutin menjadi pekerjaan wajib harian, mingguan, dan bulanan. Tanpa itu, akun akan tenggelam, seiring algoritma yang kian selektif.

Di tengah kemajuan AI, influencer economy, dan belanja iklan yang terus naik, publik dihadapkan pada kenyataan sederhana: media sosial hanya alat. Keberhasilan tetap ditentukan oleh strategi, konsistensi, dan pemahaman manusia di balik layar.

 

 

Baca juga:
Misteri Mimpi, Fenomena yang Terjadi Saat Manusia Terlelap

"Banyak pelaku bisnis gagal di media sosial bukan karena kurang konten, tetapi karena tidak memahami strategi inti, karakter platform, dan perilaku audiens."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #SocialMediaStrategy #ContentMarketing #DigitalBisnis

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال