Alarm dari Longsor Pasirlangu, KLH: Urbanisasi dan Pertanian Pegunungan

GalaPos ID, Bandung Barat.
Kementerian Lingkungan Hidup (LH) akan menurunkan tim ahli untuk melakukan kajian mendalam terhadap lanskap pascabencana longsor yang terjadi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Langkah ini diambil untuk memastikan penanganan bencana dilakukan berbasis data ilmiah dan sains, bukan sekadar perkiraan.

Menteri LH: Longsor Tak Bisa Ditangani dengan Kira-Kira
Di balik tragedi longsor Cisarua, tersimpan persoalan yang lebih dalam: perubahan lanskap, tekanan urbanisasi, dan pola pertanian pegunungan yang perlahan membuka jalan bagi bencana.

"Di balik tragedi longsor Cisarua, muncul pertanyaan besar: apakah perubahan lanskap dan pola pertanian turut membuka jalan bagi bencana?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. KLH lakukan kajian ilmiah berbasis sains pascalongsor
2. Urbanisasi dan pertanian pegunungan dinilai berdampak pada risiko bencana
3. Kajian melibatkan akademisi dan lembaga riset selama 1–2 minggu


Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa kajian ilmiah menjadi fondasi utama dalam menentukan langkah penanganan jangka pendek maupun jangka panjang di wilayah terdampak longsor.

"Kami menurunkan tim ahli sebagaimana kami lakukan di Sumatera karena kalau bicara lingkungan ini harus saintis, tidak bisa main kira-kira guna menentukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut," kata Hanif, Minggu, 25 Januari 2026.

Menurut Hanif, kajian tersebut tidak hanya berfokus pada dampak fisik longsor, tetapi juga mencakup kondisi tanah, vegetasi, serta potensi risiko bencana susulan. Pendekatan ini dinilai penting mengingat karakter wilayah Cisarua yang rentan terhadap perubahan tata guna lahan.

Ia juga menyinggung urbanisasi sebagai salah satu faktor yang turut memengaruhi perubahan lanskap kawasan pegunungan. Urbanisasi, kata Hanif, mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat yang berdampak pada pergeseran aktivitas pertanian ke wilayah yang secara ekologis rentan.

"Sebenarnya ini aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan kita, seperti kentang, kol, paprika, itu semua di daerah subtropis," jelasnya.

Baca juga:
Operasi SAR 24 Jam di Cisarua, Korban Longsor Terus Bertambah

Tanaman-tanaman tersebut, lanjut Hanif, umumnya tumbuh pada ketinggian 800 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut, sementara karakter wilayah lokal Indonesia berbeda.

“Kita sebenarnya karakternya tidak seperti itu. Tahun 2025 dulu tidak semasif ini, sehingga ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini,” imbuhnya.

Untuk memastikan kajian berjalan komprehensif, Kementerian LH akan berkoordinasi langsung dengan pemerintah daerah setempat. Tim ahli dari kalangan akademisi dan lembaga riset akan dilibatkan guna melakukan pendalaman secara menyeluruh.

“Kita akan melakukan pendalaman sangat detil terhadap landscape ini, dan kemudian akan dilakukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut. Kami mungkin perlu waktu 1–2 minggu untuk menyelesaikan kajian detil bersama para ahli dari akademisi, dari badan riset dan lain-lain,” tuturnya.

Longsor Cisarua Disorot, KLH Lakukan Kajian Ilmiah Lanskap
K9 Polri dan Basarnas berperan penting dalam deteksi jenazah korban longsor Bandung Barat, sementara proses evakuasi dan identifikasi DVI terus berlangsung.

 

Kajian ini diharapkan tidak hanya menjadi respons atas bencana, tetapi juga menjadi dasar evaluasi tata kelola lingkungan dan kebijakan penggunaan lahan agar tragedi serupa tidak terus berulang.

 


Baca juga:
Perut Kembung Berulang, Sepele atau Tanda Penyakit?

"Kementerian Lingkungan Hidup menurunkan tim ahli untuk mengkaji lanskap pascabencana longsor Cisarua. Urbanisasi dan perubahan tata guna lahan disorot sebagai faktor risiko."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #LongsorCisarua #LingkunganHidup #TataLahan

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال