Futsal Rasa Budaya Disbud Makassar

GalaPos ID, Sulsel.
Suara sepatu yang menghantam bola, gema tawa, dan sorakan semangat kini menjadi pemandangan rutin tiap Selasa sore di Lapangan Futsal PDAM.
Namun, ini bukan pertandingan profesional atau agenda kompetisi besar. Ini adalah latihan rutin Disbud Makassar FC, tim futsal internal Dinas Kebudayaan Kota Makassar.

Dari Kantor ke Lapangan: Budaya Tak Pernah Lelah

“Di balik tendangan bola, terselip nilai budaya. Setiap sorakan semangat dan operan bola bukan hanya demi skor, tapi demi menjaga satu warisan yang tak ternilai: kebersamaan dalam bingkai budaya.”

Baca juga:

Gala Poin:
1. Disbud Makassar FC lahir dari hobi bersama pegawai untuk menyalurkan energi positif dan menjaga kebugaran.
2. Nilai budaya lokal seperti sipakatau, sipakalebbi, sipakainge menjadi pedoman tim dalam berolahraga dan berinteraksi.
3. Kegiatan ini memperkuat kekompakan dan keharmonisan antarpegawai, menjadi simbol budaya yang hidup di ruang kerja.

 

Tim ini terbentuk bukan karena ambisi juara, melainkan karena kesamaan hobi para pegawai.

Namun siapa sangka, dari sekadar kesenangan menendang bola, mereka menemukan sesuatu yang lebih besar: nilai kebudayaan yang hidup dan berdetak di setiap pertandingan kecil mereka.


“Futsal bagi kami bukan sekadar permainan. Di dalam lapangan, kami membawa nilai budaya yang selalu dihidupkan, yakni sipakatau, sipakalebbi, sipakainge,” ujar salah satu pegawai.

Salah satu pemain Disbud Makassar FC, Dedyanto, menambahkan pandangannya.

“Bermain futsal bersama teman-teman di sini bukan sekadar olahraga, tapi juga cara kami menjaga kekompakan. Dari lapangan, semangat itu terbawa sampai ke kantor,” tuturnya, Selasa, 26 Agustus 2025.

Baca juga:
Langkah Terakhir Yadnya Karo, Tradisi Nyadran di Bromo

Tiga nilai luhur Bugis-Makassar tersebut – saling memanusiakan, saling menghargai, dan saling mengingatkan – menjadi pondasi utama tim.

Di dalam lapangan, mereka bukan sekadar pemain; mereka adalah pembawa nilai budaya dalam wujud modern.

Di luar lapangan, suasana kekeluargaan dan kekompakan pun semakin erat, menyentuh harmoni di lingkungan kerja.

Dari Futsal ke Filosofi: Ketika Pegawai Disbud Makassar Menemukan Makna Budaya di Lapangan

Latihan rutin Disbud Makassar FC bukan hanya soal fisik. Ia menjadi jembatan pengikat hubungan sosial antarpegawai.

Tak ada sekat jabatan, tak ada ego profesional.

Semua melebur dalam semangat yang sama: sehat bersama, bahagia bersama, dan berkebudayaan bersama.

“Energi positif ini menular hingga ke lingkungan kerja sehari-hari,” ucap seorang anggota tim.

Baca juga:
DPR: Batubara Tak Boleh Hanya Jadi Komoditas Mentah


Kebersamaan di lapangan juga menjadi simbol kolektivitas – warisan yang begitu kental dalam tradisi masyarakat Makassar.

Jika budaya adalah cara hidup, maka futsal menjadi manifestasi dinamis dari cara hidup itu sendiri di tengah dunia birokrasi yang kerap kaku dan formal.

Disbud Makassar FC menjadi bukti bahwa budaya tidak selalu harus dipentaskan di panggung atau dipamerkan di museum. Budaya bisa hidup, tumbuh, dan berlari – bersama bola, bersama tawa, di tengah teriakan semangat dari sesama rekan kerja.

 

Baca juga:
DPR Soroti Lemahnya Pengawasan Rantai Pasok Beras

“Dari Lapangan ke Ruang Budaya: Sebuah tim futsal internal di Dinas Kebudayaan Kota Makassar menjadi lebih dari sekadar sarana olahraga. Disbud Makassar FC hadir sebagai cerminan semangat kolektif, energi positif, dan nilai budaya yang hidup dalam tubuh birokrasi.”

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #DisbudMakassarFC #Olahragaa #BudayaHidup #Futsal #Pegawai

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال