GalaPos ID, Jakarta.
Lembaga Penyiaran Publilk Televisi Republik Indonesia ( LPP TVRI) menggencarkan kampanye “Bola Gembira” sebagai tagline resmi menyambut Piala Dunia 2026.
Sebagai pemegang hak siar resmi (official broadcaster), TVRI menggandeng Kompas Gramedia (KG) Group of Media untuk memperluas jangkauan informasi sekaligus membangun antusiasme publik terhadap turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.
"Menjelang Piala Dunia 2026, TVRI resmi mengusung tagline “Bola Gembira” dan menggandeng Kompas Gramedia Group. Di balik kampanye ini, muncul pertanyaan publik: siapkah TVRI mengelola hak siar terbesar dalam sejarah Piala Dunia?"
Baca juga:
- GM Le Eminence: Media Punya Peran Strategis Dongkrak Hospitality
- Iftar Ramadan 2026, Hotel Bidakara Jakarta Bidik 8.000 Tamu
- Desa Kampale Go Digital, Mahasiswa Unhas Bangun Sistem Informasi Desa
Gala Poin:
1. Kolaborasi strategis: TVRI menggandeng Kompas Gramedia Group untuk mengampanyekan “Bola Gembira” jelang Piala Dunia 2026.
2. Pengakuan tantangan teknis: TVRI mengakui perlu banyak belajar karena terakhir memegang hak siar penuh pada 1986.
3. Harapan dampak ekonomi: Piala Dunia 2026 ditargetkan memberi multiplier effect bagi UMKM melalui kegiatan nobar dan ekosistem ekonomi lokal.
Langkah ini diumumkan dalam pertemuan di Menara Kompas, Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026. Kolaborasi tersebut dinilai strategis mengingat luasnya jaringan media yang dimiliki KG Group of Media dalam menyampaikan informasi dan edukasi kepada masyarakat.
“Bola Gembira ini menarik, kita bisa kolaborasi menyampaikan dan mengedukasi masyarakat untuk menonton Piala Dunia di TVRI melalui tagline Bola Gembira,” kata Managing Director of Grid Network, Dian Gemiano ketika menerima kunjungan TVRI di Menara Kompas, Jakarta.
Ia menambahkan, kekuatan redaksi di berbagai platform media bisa dimanfaatkan untuk memperluas kampanye tersebut.
“Kita bisa campaign Bola Gembira, redaksi bisa diminta untuk ikut campaign karena kita memiliki akses ke masyarakat. Nanti kita posting untuk nonton Piala Dunia di TVRI,” ucap Gemiano.
Baca juga:
Le Eminence Puncak Hadirkan Paket Ramadan dan Idul Fitri 2026
“Untuk kesiapan expose, kami ready dari Kompas TV,” kata Uncu.
Bagi publik, kolaborasi ini menjadi ujian akuntabilitas: bagaimana TVRI sebagai lembaga penyiaran publik memanfaatkan hak siar yang bernilai besar tersebut untuk kepentingan masyarakat luas, bukan sekadar euforia sesaat.
KG Group of Media memiliki pengalaman panjang dalam peliputan Piala Dunia. Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Adi Prinantyo, memaparkan rekam jejak akreditasi yang diperoleh dari FIFA.
“Sejauh ini Kompas mendapat catatan bagus (dari FIFA), sehingga dapat jatah akreditasi (media) yang lumayan. Pernah Harian Kompas, Kompas.com dapat (akreditasi media) semua di 2018. Di 2022, Harian Kompas juga dapat akreditasi media untuk fotografer dan videografer,” kata Adi.
Di sisi lain, Direktur Utama LPP TVRI, Iman Brotoseno, mengakui tantangan besar yang dihadapi institusinya. Terakhir kali TVRI memegang hak siar penuh Piala Dunia adalah pada 1986.
“TVRI perlu belajar, tahun 1986 itu terakhir kita dapat hak siar Piala Dunia di Meksiko dan itu kualitas (televisi zaman) dulu. Tahun 1990 dan 1994, TVRI siaran bersama dengan RCTI dan lain-lain, dan sekarang kami agak tergagap-gagap dengan situasi ini karena Piala Dunia kali ini pertandingannya merupakan yang terbanyak,” kata Iman, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, dari humas TVRI, Sabtu, 14 Februari 2026.
Pernyataan tersebut menjadi pengakuan terbuka bahwa skala Piala Dunia 2026—yang akan menghadirkan jumlah pertandingan lebih banyak dari edisi sebelumnya—membutuhkan kesiapan teknis, manajerial, dan distribusi siaran yang matang.
Baca juga:
Cair! Jadwal THR 2026 Swasta dan ASN, Ini Batas Waktunya
TVRI tidak hanya menargetkan tingginya rating siaran. Iman menegaskan harapan agar Piala Dunia 2026 memberikan efek ganda bagi perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM melalui kegiatan nonton bareng (nobar).
“Kami berharap dukungan dari teman-teman Kompas dan kami siapkan juga media center, sehingga segala informasi bisa didapatkan langsung di sana,” jelas Iman.
Bagi publik, janji multiplier effect tersebut patut diawasi. Pengalaman berbagai ajang olahraga global menunjukkan, manfaat ekonomi tidak otomatis tercipta tanpa tata kelola yang transparan, distribusi siaran yang merata, serta dukungan konkret terhadap pelaku usaha kecil.
Dengan kampanye “Bola Gembira”, TVRI dan Kompas Media kini memikul ekspektasi besar: memastikan bahwa pesta sepak bola dunia benar-benar menjadi milik publik, bukan sekadar slogan.
Baca juga:
Dari Marjinal ke Romi & The Jahats: Jejak Romi The Jahat
"TVRI menggandeng Kompas Gramedia Group untuk menggaungkan kampanye “Bola Gembira” jelang Piala Dunia 2026. Kolaborasi ini diharapkan memperluas edukasi publik sekaligus mendorong dampak ekonomi, meski TVRI mengakui perlu banyak belajar menghadapi tantangan teknis dan skala turnamen terbesar sepanjang sejarah."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #PialaDunia2026 #TVRI #BolaGembira

