GalaPos ID, Jakarta.
Sekitar 5,17–5,24 miliar orang di seluruh dunia aktif menggunakan media sosial pada 2025, atau setara dengan 64 persen populasi global. Rata-rata waktu yang dihabiskan pun tak sedikit, sekitar 2 jam 19 hingga 29 menit per hari.
Data ini kerap dijadikan pembenaran bahwa media sosial adalah kanal pemasaran paling menjanjikan saat ini.
"Pengguna media sosial dunia menembus 5 miliar orang, anggaran iklan ratusan miliar dolar, tetapi mengapa banyak pelaku usaha justru gagal memetik hasil dari Social Media Marketing?"
Baca juga:
- Benarkah Kacang Turunkan Kolesterol? Ini Faktanya
- 39 Personel TNI Sumbang Medali di SEA Games 2025
- Strategi Wisata Karimunjawa, Ekonomi Lokal dan Konservasi
Gala Poin:
1. Jumlah pengguna dan anggaran iklan media sosial sangat besar, tetapi tidak menjamin keberhasilan.
2. Kegagalan SMM banyak disebabkan strategi instan dan pemahaman dangkal.
3. Setiap platform memiliki karakter berbeda dan membutuhkan pendekatan spesifik.
Anggaran iklan menguatkan narasi tersebut. Belanja iklan media sosial global diproyeksikan mencapai 247 hingga 276 miliar dolar AS pada 2025, dengan pengembalian rata-rata 5,28 dolar untuk setiap 1 dolar yang dibelanjakan. Video bahkan disebut mampu mencatat engagement 23–48 persen lebih tinggi dibanding iklan statis.
Namun, di balik statistik yang tampak meyakinkan itu, muncul paradoks yang jarang dibicarakan secara jujur: banyak pelaku bisnis menyerah dalam satu hingga tiga bulan pertama menjalankan Social Media Marketing (SMM).
“Social media itu sarana pemasaran yang terlalu dibesar-besarkan,” tulis seorang praktisi digital marketing dalam panduan terbukanya.
Ia menyoroti bahwa kegagalan bukan disebabkan minimnya pengguna, melainkan pemahaman strategi yang dangkal.
Baca juga:
Groundbreaking Jembatan Ancol–JIS Digelar 25 Januari 2026
Mayoritas peserta seminar atau pelatihan daring, menurutnya, hanya dibekali formula instan: membuat akun, menghias profil, lalu rutin memposting konten demi mengejar like dan retweet.
“Itu saja tidak cukup. Sangat tidak cukup,” tegasnya.
Fakta lapangan menunjukkan, 58–72 persen konsumen memang menemukan produk baru lewat media sosial, bahkan 81 persen berpotensi melakukan pembelian impulsif. Namun tanpa strategi terarah, potensi itu berubah menjadi biaya hangus.
Platform pun memiliki karakter yang berbeda. Facebook unggul dari sisi jumlah pengguna, tetapi jangkauan organiknya kini kurang dari 1 persen tanpa iklan. Instagram menawarkan engagement tinggi, namun terbatas pada produk yang kuat secara visual. TikTok memimpin interaksi konten pendek, sementara LinkedIn dominan di sektor B2B.
Masalahnya, banyak pelaku usaha mencoba hadir di semua platform sekaligus tanpa sumber daya memadai.
“Social media marketing itu tidak sederhana. Bukan cuma sekadar posting tweet lucu atau upload meme,” tulis narasumber tersebut.
Di tengah ledakan influencer marketing bernilai 28–30,8 miliar dolar AS, kepercayaan konsumen justru bergeser ke rekomendasi orang terdekat dan micro-influencer. Ini menjadi alarm bahwa jumlah pengikut besar tidak selalu berbanding lurus dengan dampak bisnis.
Bagi publik dan pelaku usaha, pesan utamanya jelas: media sosial bukan solusi instan. Tanpa strategi, pemahaman audiens, dan konsistensi, angka-angka fantastis itu hanya akan menjadi ilusi pemasaran digital.
Baca juga:
Misteri Mimpi, Fenomena yang Terjadi Saat Manusia Terlelap
"Media sosial tetap menjadi kanal utama pemasaran global dengan miliaran pengguna aktif. Namun, di balik angka fantastis itu, strategi yang keliru membuat banyak pelaku bisnis tumbang sebelum berkembang."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #SocialMedia #Marketing #DigitalMarketing

