GalaPos ID, Jakarta.
Hedera Hashgraph merupakan salah satu proyek kripto yang sejak awal mengambil jalur berbeda dari mayoritas jaringan blockchain.
Alih-alih menggunakan rantai blok konvensional, Hedera mengadopsi teknologi Hashgraph, sebuah bentuk distributed ledger technology (DLT) yang menjanjikan kecepatan tinggi, biaya transaksi rendah, dan skalabilitas besar.
"Didukung korporasi besar dan teknologi non-blockchain, Hedera Hashgraph kerap disebut sebagai “DLT masa depan”. Namun, apakah keunggulan teknologinya benar-benar sejalan dengan prospek harga HBAR?"
Baca juga:
- Jembatan Ancol–JIS Disiapkan Atasi Parkir dan Kemacetan Stadion
- Kisah Atlet SEA Games 2025 di Balik Apresiasi Presiden
- Benarkah Kacang Turunkan Kolesterol? Ini Faktanya
Gala Poin:
1. Hedera menggunakan teknologi hashgraph, bukan blockchain tradisional.
2. Keunggulan utama terletak pada kecepatan, biaya rendah, dan kepatuhan regulasi.
3. Struktur tata kelola korporat memicu perdebatan soal desentralisasi.
Keunikan Hedera tidak berhenti di sisi teknologi. Jaringan ini dikelola oleh Hedera Governing Council, dewan pengelola yang melibatkan perusahaan global lintas sektor. Pendekatan ini membuat Hedera sering diposisikan sebagai jaringan kripto “ramah perusahaan”, sekaligus memunculkan kritik terkait derajat desentralisasi.
HBAR sendiri adalah token utilitas utama dalam ekosistem Hedera. Token ini digunakan untuk membayar biaya transaksi, menjalankan smart contract, serta mekanisme staking guna menjaga keamanan jaringan.
Teknologi Hashgraph dan Janji Efisiensi
Berbeda dari blockchain tradisional, Hedera menggunakan protokol konsensus Asynchronous Byzantine Fault Tolerant (ABFT) berbasis Directed Acyclic Graph (DAG). Mekanisme konsensus dicapai melalui protokol gossip, di mana node saling menyebarkan informasi transaksi tanpa pemungutan suara eksplisit.
Baca juga:
39 Personel TNI Sumbang Medali di SEA Games 2025
Hedera memposisikan diri sebagai solusi yang patuh regulasi dan stabil. Namun, struktur tata kelola berbasis dewan korporasi juga memunculkan pertanyaan: sejauh mana jaringan ini benar-benar terdesentralisasi?
Bagi sebagian pengembang Web3, pendekatan ini dinilai terlalu “enterprise-centric”, sehingga adopsi komunitas terbuka bisa lebih lambat dibanding blockchain publik lain seperti Ethereum atau Solana.
Kesimpulan Sementara
Hedera Hashgraph menawarkan fondasi teknologi yang kuat dan efisien, dengan dukungan institusional yang kredibel. Namun, dalam ekosistem kripto yang sangat kompetitif, keunggulan teknis belum tentu otomatis berujung pada dominasi pasar.
Baca juga:
Strategi Wisata Karimunjawa, Ekonomi Lokal dan Konservasi
"Hedera Hashgraph menawarkan teknologi buku besar terdistribusi non-blockchain dengan kecepatan tinggi dan biaya rendah. Artikel ini mengulas fundamental HBAR, teknologi hashgraph, serta risiko adopsi di tengah persaingan ketat Layer-1 kripto."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #HederaHashgraph #HBAR #DLT
.jpg)
.jpg)