GalaPos ID, Kab. Tangerang.
Tujuh hari setelah kebakaran melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, api belum juga berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Di balik operasi pemadaman yang masih berlangsung, muncul pertanyaan yang lebih besar bagi publik: mengapa kebakaran di gunungan sampah masih dapat berlangsung berhari-hari, dan sejauh mana kesiapan pemerintah mengantisipasi risiko yang hampir selalu muncul setiap musim kemarau?
![]() |
| Api di TPA Jatiwaringin mungkin tinggal beberapa persen, tetapi pertanyaan publik masih 100 persen: mengapa kebakaran di gunungan sampah terus berulang setiap musim kemarau? |
"Gas metana memang tak terlihat. Yang terlihat justru asapnya. Dan setiap asap yang membumbung selalu membawa pertanyaan yang sama: sampai kapan?"
Baca juga:
- IHSG Anjlok 34,74 Persen, OJK Klaim Tekanan Pasar Mulai Mereda
- INI Kota Semarang Perkuat Aksi Kemanusiaan, Donor Darah
- Peti Jenazah Ayatollah Ali Khamenei Diarak, Dunia Soroti Masa Depan Politik Iran
Gala Poin:
1. Kebakaran TPA Jatiwaringin memasuki hari ketujuh dan belum sepenuhnya padam akibat angin kencang, medan sulit, serta gas metana dari timbunan sampah.
2. Pemerintah menyebut luas area yang masih terbakar tersisa sekitar 3,6 persen, tetapi bara api di bawah permukaan masih berpotensi memicu kebakaran baru.
3. Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya evaluasi tata kelola TPA, pengendalian gas metana, dan mitigasi kebakaran saat musim kemarau.
Petugas gabungan dari Dinas Pemadam Kebakaran, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta tiga helikopter water bombing masih berupaya menjangkau titik-titik api yang tersembunyi di bawah timbunan sampah. Medan yang sulit dilalui dan embusan angin kencang membuat proses pemadaman belum maksimal.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya berada di permukaan. Gas metana yang terbentuk dari pembusukan sampah disebut terus memicu munculnya titik api baru, meski sebagian area telah melalui proses pendinginan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebakaran TPA bukan sekadar persoalan memadamkan kobaran api, tetapi juga berkaitan erat dengan sistem pengelolaan sampah yang mampu mengendalikan gas mudah terbakar tersebut.
Baca juga:
Dari Bandung ke Dunia: Diplomasi, AI, dan Anak Muda Jadi Sorotan Festival KAA 2026
Sementara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, mengatakan medan berupa gunungan sampah menjadi hambatan utama bagi petugas untuk mencapai sumber api.
Menurutnya, hingga hari ketujuh, area yang masih terbakar tinggal sekitar 3,6 persen dari total 18 hektare lahan yang terdampak sejak Selasa, 30 Juni 2026.
Meski demikian, bara api di bawah permukaan masih menyimpan potensi kebakaran kembali membesar.
“Titik–titik yang apinya tinggal 3,5 persen lagi walaupun yang lainnya sudah tidak kelihatan api tetapi dilihat kan masih panas dan berpotensi lagi bisa keluar api makanya pendinginan tetap dilakukan.” kata Ujat.
Hingga kini, petugas masih melakukan penyemprotan melalui jalur darat dan udara. Namun, bagi masyarakat sekitar, persoalan yang lebih penting bukan hanya kapan api padam, melainkan bagaimana pemerintah memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang.
Baca juga:
Nasib 15 Ribu Pekerja Tambang Kaltim di Ujung IUP, Siapa Bertanggung Jawab?
Kebakaran TPA yang berlangsung hingga sepekan menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti pada aktivitas mengangkut dan menimbun. Pengendalian gas metana, sistem pemantauan suhu timbunan sampah, kesiapan infrastruktur pemadaman, hingga mitigasi musim kemarau merupakan bagian dari tanggung jawab yang menentukan keselamatan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Baca juga:
Ren dan Reina Jadi Ikon Kampanye 60 Seconds to Tokyo di Archipelago Hotels
Kalau setiap kemarau TPA terbakar, mungkin yang darurat bukan lagi apinya, melainkan cara kita mengelola sampah.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #TPAJatiwaringin #KabupatenTangerang #KebakaranTPA #SampahNasional #LingkunganHidup
.jpg)
.jpg)