GalaPos ID, Jakarta.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi konflik geopolitik, polarisasi, hingga disrupsi teknologi, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah Spirit Bandung masih relevan, melainkan siapa yang akan meneruskannya.
Festival dan Pameran Konferensi Asia-Afrika (KAA) 2026 di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta mencoba menjawab pertanyaan itu dengan menempatkan generasi muda sebagai aktor utama diplomasi masa depan.
"Ketika konflik global makin rumit dan AI bergerak lebih cepat daripada diplomasi, Festival KAA 2026 mengingatkan satu hal: sejarah tidak akan menyelamatkan masa depan jika generasi mudanya hanya menjadi penonton."
Baca juga:
- Nasib 15 Ribu Pekerja Tambang Kaltim di Ujung IUP, Siapa Bertanggung Jawab?
- Ren dan Reina Jadi Ikon Kampanye 60 Seconds to Tokyo di Archipelago Hotels
- Pegadaian Kanwil XI Semarang Perluas Akses Khitan Modern
Gala Poin:
1. Festival KAA 2026 mendorong generasi muda menjadi pelaku utama diplomasi, inovasi, dan kolaborasi global melalui semangat Bandung.
2. Para diplomat menegaskan bahwa Spirit Bandung tetap relevan untuk memperjuangkan perdamaian, keadilan, dan solidaritas di tengah tantangan geopolitik serta perkembangan teknologi.
3. Perguruan tinggi, alumni, dan komunitas dinilai memiliki peran strategis menerjemahkan nilai-nilai Konferensi Asia-Afrika menjadi program nyata, bukan sekadar peringatan sejarah.
Festival yang berlangsung pada Selasa, 30 Juni 2026, tersebut mengusung tema "Reimajinasi Konferensi Asia-Afrika untuk Generasi Muda dan Jakarta Kota Global: Solidaritas, Multidiplomasi, dan Multinarasi Sejarah Dunia." Kegiatan ini mempertemukan unsur diplomasi, pendidikan, sejarah, kebudayaan, ekonomi kreatif, hingga inovasi sebagai ruang kolaborasi lintas negara.
Acara diselenggarakan oleh PERLUNI Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Ikatan Alumni Fakultas Hukum Unika Atma Jaya, Forum Silaturahmi Anak Bangsa, Youth for Global Solidarity, Tinta Narrativa, GalaPos.ID, Luminesa, dan Aspirasi Jakarta dengan dukungan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Duta Besar Ethiopia untuk Indonesia, Prof. Fekadu Beyene Aleka, menilai kepemimpinan global ke depan sangat bergantung pada kemampuan generasi muda membangun jejaring lintas budaya.
"kepemimpinan masa depan membutuhkan generasi yang memiliki wawasan global dan kemampuan membangun jejaring lintas budaya," tuturnya.
Baca juga:
Pesta Bolon Sagala Raja 2026 di Samosir, Budaya Batak dan Aksi Hijau
Sementara itu, Konselor Kebudayaan Iran, Dr. Yahya Jahan Giri, menilai diplomasi tidak lagi hanya berlangsung di ruang perundingan. Menurutnya, sastra, film, seni, media digital, hingga kecerdasan buatan kini menjadi instrumen baru yang mampu membangun persepsi publik dunia.
"Sebuah film, buku, atau festival budaya terkadang dapat membentuk opini publik dan memperkuat hubungan antar negara secara lebih efektif daripada negosiasi politik selama bertahun-tahun," papar Dr. Yahya Jahan Giri.
Ia juga mengajak generasi muda untuk "Mengulang Spirit Bandung" melalui narasi yang membangun perdamaian dan solidaritas.
"Kaum muda bukan hanya pewaris sejarah; mereka akan menjadi penulis bab baru," tambah Dr. Jahan Giri, Konselor Kebudayaan Iran.
Dari sisi akademik, Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menyiapkan pemimpin masa depan melalui riset, inovasi sosial, pertukaran mahasiswa, dan kolaborasi internasional.
"Spirit Konferensi Asia-Afrika harus diterjemahkan menjadi kerja sama riset, pertukaran mahasiswa, inovasi sosial, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat," ujar Profesor Yuda Turana, Rektor Unika Atma Jaya.
Ketua PERLUNI Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Ivor Pasaribu, menilai jejaring alumni merupakan modal sosial yang mampu mempertemukan dunia pendidikan, pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan komunitas internasional.
"Alumni merupakan modal sosial. Jejaring alumni adalah ruang kolaborasi yang mempertemukan dunia kampus, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan komunitas internasional untuk bersama-sama membangun masa depan," ujarnya.
Baca juga:
Tragedi Pilot PT AMA di Papua, Penghormatan Terakhir Digelar di Sentani
Ketua Ikatan Alumni Fakultas Hukum Unika Atma Jaya, Arthur Sanger, juga mengajak seluruh elemen masyarakat mengambil peran dalam menjawab tantangan global.
"Sesungguhnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari solusi," tuturnya.
Dalam kesempatan terpisah, mantan Ketua MPR RI sekaligus ajudan Bung Karno, Sidarto Danusubroto, mengingatkan pentingnya posisi Konferensi Asia-Afrika dalam diplomasi Indonesia.
"Spirit Bandung adalah strategic historical asset bagi Indonesia," ujarnya.
Founder Youth for Global Solidarity, Emanuel Odo, menilai perkembangan ekosistem digital justru membuka peluang lebih besar bagi generasi muda membangun solidaritas lintas negara.
"Spirit Bandung menjadi semakin relevan di abad 21 dan dengan ekosistem digital yang kian berkembang, generasi muda memiliki peralatan untuk membangun solidaritas global dan berkontribusi pada terciptanya tatanan dunia yang adil, setara, dan sejahtera."
Baca juga:
Diresmikan Ma'ruf Amin, Pandawa Warung Kopi Bidik Pasar Kuliner Sydney
Melalui forum dialog, pameran arsip diplomasi, sejarah, sastra, seni, dan kebudayaan, Festival KAA 2026 berupaya menempatkan Spirit Bandung bukan sekadar nostalgia atas peristiwa tahun 1955, tetapi sebagai pijakan membangun kepemimpinan global yang bertumpu pada solidaritas, kemanusiaan, dan kerja sama antarbangsa.
Lebih dari tujuh dekade setelah Konferensi Asia-Afrika digelar, tantangan terbesar bukan lagi menjaga ingatan sejarah, melainkan memastikan nilai-nilai yang lahir di Bandung benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan nyata oleh generasi yang akan menentukan arah dunia berikutnya.
Baca juga:
Air Putih Terlihat Jernih, Tapi Benarkah Aman?
Sejarah selalu diperingati, tetapi dunia berubah setiap hari. Pertanyaannya, Spirit Bandung masih hidup di ruang aksi atau hanya nyaman menjadi tema seminar?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #SpiritBandung #KonferensiAsiaAfrika #DiplomasiGlobal #GenerasiMuda #KepemimpinanGlobal
.jpg)
.jpg)