GalaPos ID, Serang.
Segelas air putih yang diletakkan di meja kamar dan dibiarkan terbuka semalaman sering kali tetap diminum keesokan paginya tanpa ragu. Jernih, tidak berbau, dan terasa “normal”.
Namun, apakah benar-benar aman?
"Air putih yang dibiarkan terbuka semalaman tampak jernih, tetapi bisa menyimpan risiko kontaminasi bakteri, debu, hingga jentik nyamuk. Praktik yang dianggap sepele ini berpotensi mengganggu kesehatan dan luput dari perhatian publik."
Baca juga:
- Pimpinan TNI Tinjau Yonif TP 848/SPC Pastikan Profesionalisme Prajurit
- Virgoun Resmi Nikahi Lindi Fitriyana, Inara Antar dan Jemput Anak
- Nellava Bullion Ekspansi Jawa Timur, Janjikan Buyback 100 Persen
Gala Poin:
1. Air minum yang dibiarkan terbuka semalaman berisiko terkontaminasi debu, bakteri, jamur, hingga jentik nyamuk.
2. Perubahan pH akibat penyerapan karbondioksida dapat memengaruhi rasa dan kualitas air.
3. Edukasi pola minum yang benar, termasuk konsumsi 8–12 gelas per hari dan pola 2-4-2 saat Ramadan, penting untuk menjaga kesehatan publik.
Pakar kesehatan mengingatkan, air yang ditempatkan dalam gelas tanpa penutup dalam waktu lama bisa mengalami perubahan kualitas meski secara visual tampak sama. Perubahan rasa kerap menjadi tanda awal, meskipun warna dan kejernihan tidak berubah.
Jika kita membiarkan air ini tidak ditutup semalaman, kadar pH dari air ini cenderung sudah menurun dengan signifikan. Hal ini berarti, air menyerap karbondioksida dalam jumlah yang lebih banyak.
Selain perubahan kimiawi, risiko biologis juga mengintai. Debu, kotoran, jentik nyamuk, hingga partikel tak kasatmata seperti air liur, keringat, dan sel kulit mati dapat mencemari air dalam gelas, terutama jika dibiarkan berjam-jam.
Bahkan, dalam beberapa kasus, air minum bisa saja sudah dipenuhi dengan jentik-jentik nyamuk. Mengonsumsinya tentu akan memberikan dampak yang jauh lebih buruk.
Baca juga:
Dua Warung di Padang Utara Ditertibkan karena Buka Siang Saat Puasa
![]() |
| Nadia Alaydrus, dokter sekaligus figur publik dengan ratusan ribu pengikut di media sosial, menekankan pentingnya menjadikan air mineral sebagai minuman utama. Foto IG: @nadialaydrus |
Risiko bertambah jika air telah terkontaminasi bakteri atau jamur. Konsumsi air yang tidak higienis berpotensi menyebabkan sakit perut, diare, atau infeksi saluran pencernaan.
Dalam konteks pencegahan, langkah sederhana seperti menutup wadah air dan tidak menyimpan sisa minum semalaman menjadi tindakan preventif yang berdampak besar.
Edukasi Dasar yang Sering Diabaikan
Fenomena ini juga menyoroti minimnya edukasi publik mengenai pola konsumsi air yang benar. Nadia Alaydrus, dokter sekaligus figur publik dengan ratusan ribu pengikut di media sosial, menekankan pentingnya menjadikan air mineral sebagai minuman utama.
“Selain itu kita mengonsumsi air mineral jangan sedikit. Kita perlu 8 sampai 12 gelas sehari atau sekitar 2 liter. Kebutuhan tiap orang beda-beda tergantung berat badan, gender, atau dia wanita sedang hamil dan menyusui atau enggak,” kata Nadia Alaydrus.
Baca juga:
Kasus Sudewo, KPK Sita Dokumen dan Elektronik dari Rumah Riyoso
Baca juga:
Harga Emas Dunia Sideways, Investor Tunggu Negosiasi AS-Iran
Baca juga:
Modus Kemitraan Tambang Ilegal, Kejari Tahan Direktur CV Diratama
"Air minum yang dibiarkan terbuka semalaman berisiko mengalami perubahan pH dan terkontaminasi partikel asing. Nadia Alaydrus mengingatkan pentingnya kualitas air mineral dan pola konsumsi 8–12 gelas per hari. Simak laporan lengkap, termasuk pola minum 2-4-2 saat Ramadan dan catatan kritis soal kebiasaan minum masyarakat."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #AirMinumSehat #Edukasi #HidrasiOptimal #Kesehatan

.jpg)