AKSI INKLUSI dan Tantangan Nyata Penyandang Disabilitas Menembus Dunia Kerja

GalaPos ID, Bekasi.
Di tengah kewajiban perusahaan swasta mempekerjakan paling sedikit 1 persen penyandang disabilitas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, akses menuju dunia kerja yang setara masih menjadi tantangan besar.
Bukan hanya soal penerimaan perusahaan, tetapi juga minimnya ruang pelatihan kerja yang mampu membekali siswa dan alumni Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan pengalaman profesional yang relevan.

AKSI INKLUSI dan Tantangan Nyata Penyandang Disabilitas Menembus Dunia Kerja
Undang-undang sudah mewajibkan perusahaan merekrut penyandang disabilitas, tetapi peluang kerja masih sering berhenti di atas kertas. Di Bekasi, mahasiswa LSPR mencoba membuktikan bahwa masalahnya bukan pada kemampuan penyandang disabilitas, melainkan pada minimnya kesempatan yang benar-benar dibuka. AKSI INKLUSI menjadi pengingat bahwa inklusi tidak cukup dipajang dalam laporan tahunan perusahaan.

"Ketika penyandang disabilitas terus membuktikan kemampuan mereka, dunia kerja justru masih sibuk membuktikan keseriusannya soal inklusi."

Baca juga:

Gala Poin:
1. AKSI INKLUSI membekali 30 siswa dan alumni SLB dengan simulasi kerja nyata di sektor hospitality dan retail sebagai persiapan memasuki dunia industri.
2. Kesenjangan akses kerja bagi penyandang disabilitas masih menjadi persoalan serius, meski sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016.
3. Kolaborasi pendidikan, komunitas, dan sektor swasta menjadi kunci untuk menciptakan peluang kerja yang lebih inklusif dan berkelanjutan.


Kondisi tersebut menjadi latar belakang lahirnya Program AKSI INKLUSI bertema “Potensi Inklusi, Raih Profesi” yang digelar mahasiswa LSPR Institute of Communication & Business kelas PRDC 27-2TP di Nassa Valley, Jatimurni, Pondok Melati, Bekasi, pada 19 Juni 2026.

Program ini menghadirkan pengalaman simulasi kerja bagi 30 siswa dan alumni SLB Al-Gaffar Guchany kategori B (tunarungu) dan C (tunagrahita). Tujuannya bukan sekadar pelatihan, melainkan memberikan gambaran nyata tentang ritme dan tuntutan dunia industri yang selama ini masih sulit diakses oleh banyak penyandang disabilitas.

AKSI INKLUSI terselenggara melalui kolaborasi dengan Nassa School yang menerapkan kurikulum International Baccalaureate (IB), Happy Bear Center sebagai ekosistem pendampingan anak berkebutuhan khusus, serta Student Council Nassa School sebagai panitia pendukung.

Program ini juga menjadi implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin keempat tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan keterampilan praktis, baik soft skill maupun hard skill, yang dibutuhkan dalam lingkungan kerja modern.

Baca juga:
Sambut World Allergy Week 2026, Morinaga Soya Gaungkan #Soyamove dan Soyalympic

“Banyak orang tua dengan anak disabilitas merasa hopeless akan masa depan anaknya sebelum mereka lulus SLB. Melalui AKSI INKLUSI, kami ingin mematahkan ketakutan itu dan meyakinkan para orang tua bahwa keterbatasan anak-anak mereka bukan akhir dari sebuah potensi,” ujar Ribka Desclara Bintoro selaku Ketua Pelaksana AKSI INKLUSI, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Kamis, 25 Juni 2026.
 
Senada dengan itu, Rizka Septiana, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Community Development, menyatakan bahwa "Kehadiran AKSI INKLUSI bertujuan untuk menunjukkan kepada dunia industri bahwa melalui pendampingan yang tepat, teman-teman disabilitas memiliki kemampuan kerja yang kompetitif."


Simulasi Dunia Kerja yang Mendekati Realitas Industri
Sebagai bagian dari persiapan, peserta mengikuti rangkaian pre-event selama tujuh hari sebelum acara utama. Kegiatan tersebut berupa Basic Personal Grooming Workshop yang berlangsung di Aula SLB Al-Gaffar Guchany bersama LSPR SSNE (School of Special Needs Education) sebagai fasilitator.

Memasuki acara utama, peserta menjalani simulasi profesi pada dua sektor industri yang kerap membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas.

Baca juga:
TVRI Jawa Tengah Gandeng PVK, Peluang Bisnis Baru untuk Para Pensiunan

Di sektor hospitality bersama ARTOTEL, peserta diperkenalkan pada profesi Food & Beverage (F&B) melalui praktik pembuatan sandwich. Sementara di sektor retail bersama IKEA, peserta mengikuti simulasi pengelompokan barang berdasarkan bentuk, warna, serta proses pengemasan produk.

Pendekatan praktik langsung dipilih agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga merasakan pengalaman kerja yang menyerupai aktivitas industri sehari-hari.

Sebagai bentuk apresiasi dan penguatan portofolio, seluruh peserta memperoleh sertifikat partisipasi serta dokumentasi profesional yang dapat digunakan untuk mendukung peluang kerja mereka di masa depan.


Orang Tua Juga Dibekali Pemahaman tentang Potensi Disabilitas
Tidak hanya berfokus pada siswa, AKSI INKLUSI turut menyasar para wali murid melalui talkshow bertajuk “Kenali dan Dukung Potensi Disabilitas”.

Diskusi tersebut menghadirkan Egie Fatmawati selaku Korwil POTADS Bekasi (Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome), Novrian, S.Sos., M.I.Kom selaku Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi, Lidia Wisneli, M.Psi. sebagai Psikolog Happy Bear Center, serta Sekar Ajeng, penyandang disabilitas daksa sekaligus mahasiswi LSPR.

Baca juga:
Nezar Patria: Pasar Besar Saja Tidak Cukup, Indonesia Harus Kuasai Teknologi

Keberadaan sesi ini menjadi penting karena tantangan terbesar dalam pengembangan potensi penyandang disabilitas tidak hanya datang dari dunia kerja, tetapi juga dari minimnya informasi dan dukungan yang diterima keluarga.


Menunggu Komitmen Nyata Dunia Industri
Program AKSI INKLUSI menunjukkan bahwa penyandang disabilitas mampu mengembangkan keterampilan kerja ketika memperoleh akses, pelatihan, dan pendampingan yang tepat. Namun, pertanyaan yang lebih besar masih menggantung: sejauh mana dunia industri siap membuka ruang yang benar-benar inklusif?

Sebab, pelatihan dan simulasi hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya berada pada komitmen perusahaan dalam menerjemahkan amanat undang-undang menjadi kesempatan kerja yang nyata, bukan sekadar angka statistik atau pemenuhan kewajiban administratif.

Melalui kolaborasi antara dunia pendidikan, komunitas, dan sektor swasta, AKSI INKLUSI diharapkan menjadi pintu pembuka bagi terciptanya ekosistem kerja yang lebih setara bagi penyandang disabilitas di Indonesia.

 

 

Baca juga:
Tersangka Penganiayaan Kekasih Ditangkap, Hasil VeR Picu Pertanyaan Baru

"Kuota 1 persen untuk pekerja disabilitas sudah diwajibkan negara. Pertanyaannya, berapa persen yang benar-benar dijalankan, dan berapa persen yang hanya cantik di dokumen perusahaan?"

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #AKSIInklusi #DisabilitasBerkarya #PeluangKerjaSetara #InklusiIndonesia #BekasiInklusif

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال