GalaPos ID, Jakarta.
Di tengah kenaikan harga Pertamax hingga Rp16.250 per liter, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tetap dipertahankan. Kebijakan tersebut disebut sebagai upaya melindungi masyarakat rentan dari dampak gejolak energi global.
"Kapan harga Pertamax turun? Anak buah Bahlil Lahadalia membeberkan faktor utama yang memengaruhi harga BBM nonsubsidi di Indonesia. Cek syarat dan dampaknya bagi konsumen di sini."
Baca juga:
- SDM Pastikan BBM Nonsubsidi Bisa Turun, Publik Menunggu Bukti
- Diduga Bocor 1.495 Data SPMB Batam, Pemkot Gandeng BSSN Lacak Pelaku
- Dari Roma ke Lake Como, Bulan Madu Syifa Hadju dan El Rumi
Gala Poin:
1. Pemerintah memastikan harga Pertalite dan Biosolar subsidi tidak berubah.
2. Kebijakan dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat rentan.
3. Tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan anggaran dan ketahanan energi nasional.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan pemerintah tidak akan mengubah harga BBM subsidi meskipun kondisi pasar energi internasional sedang berfluktuasi.
"Inilah kebijakan Presiden untuk menjaga BBM subsidi tidak naik harganya, sesulit apapun kondisi geopolitik di luar sana, ini yang tetap dijaga," ucap Dwi, Rabu, 17 Juni 2026.
Pernyataan itu muncul saat harga minyak dunia masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik dan gangguan pasokan global. Kondisi tersebut telah mendorong kenaikan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.
Namun pemerintah memilih mempertahankan harga Pertalite dan Biosolar agar tidak membebani masyarakat.
"Untuk Pertalite dan Solar yang disubsidi pemerintah, sampai saat ini tidak ada perubahan. Pemerintah tetap berkomitmen menjaga daya beli masyarakat," ujarnya, Rabu, 17 Juni 2026.
Baca juga:
Larung Sesaji Pacitan, Tradisi Nelayan Syukuri Hasil Laut Melimpah
"Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," ujar Simon dalam unggahan akun Instagram @pertamina, Kamis, 11 Juni 2026.
Menurut pemerintah, pengawasan terhadap perkembangan pasar energi global terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak terhadap kondisi energi nasional. Selain menjaga pasokan, pemerintah juga mengklaim terus memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi dan pasokan.
Meski demikian, kebijakan mempertahankan harga BBM subsidi menyisakan pertanyaan yang relevan bagi publik: sampai kapan ruang fiskal mampu menopang subsidi ketika tekanan harga energi global terus berlangsung?
![]() |
| Saat harga BBM nonsubsidi berlari mengikuti pasar, BBM subsidi masih diminta tetap duduk manis menjaga daya beli rakyat. Foto SPBU di kota Pagar Alam, Sumsel |
Di satu sisi, kebijakan tersebut menjadi bantalan bagi jutaan masyarakat berpenghasilan rendah. Namun di sisi lain, semakin besar selisih antara harga keekonomian dan harga jual subsidi, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi negara dalam menjaga keberlanjutan anggaran dan ketahanan energi nasional.
Baca juga:
Makna Hijrah di Balik Meriahnya Pawai Obor 1 Muharam di Bandung Barat
"Geopolitik dunia boleh bergejolak, harga minyak boleh melonjak. Namun tugas BBM subsidi tetap sama: menjadi penyangga yang diharapkan kuat tanpa batas."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #HargaBBM #Pertamax #ESDM #Pertalite #EkonomiIndonesia
.jpg)
.jpeg)