BBM Subsidi Tetap Ditahan, Seberapa Lama APBN Mampu Bertahan?

GalaPos ID, Jakarta.
Di tengah kenaikan harga Pertamax hingga Rp16.250 per liter, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tetap dipertahankan. Kebijakan tersebut disebut sebagai upaya melindungi masyarakat rentan dari dampak gejolak energi global.

Harga BBM Subsidi Tetap, Tantangan Ketahanan Energi Makin Berat
Pemerintah memastikan harga Pertalite dan Solar subsidi tidak naik meski harga minyak dunia berfluktuasi. Kebijakan ini dipuji sebagai perlindungan bagi rakyat, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan tentang beban fiskal dan ketahanan energi nasional dalam jangka panjang. Foto: salah satu SPBU di Karawang

"Kapan harga Pertamax turun? Anak buah Bahlil Lahadalia membeberkan faktor utama yang memengaruhi harga BBM nonsubsidi di Indonesia. Cek syarat dan dampaknya bagi konsumen di sini."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Pemerintah memastikan harga Pertalite dan Biosolar subsidi tidak berubah.
2. Kebijakan dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat rentan.
3. Tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan anggaran dan ketahanan energi nasional.


Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan pemerintah tidak akan mengubah harga BBM subsidi meskipun kondisi pasar energi internasional sedang berfluktuasi.

"Inilah kebijakan Presiden untuk menjaga BBM subsidi tidak naik harganya, sesulit apapun kondisi geopolitik di luar sana, ini yang tetap dijaga," ucap Dwi, Rabu, 17 Juni 2026.

Pernyataan itu muncul saat harga minyak dunia masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik dan gangguan pasokan global. Kondisi tersebut telah mendorong kenaikan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Namun pemerintah memilih mempertahankan harga Pertalite dan Biosolar agar tidak membebani masyarakat.

"Untuk Pertalite dan Solar yang disubsidi pemerintah, sampai saat ini tidak ada perubahan. Pemerintah tetap berkomitmen menjaga daya beli masyarakat," ujarnya, Rabu, 17 Juni 2026.

Baca juga:
Larung Sesaji Pacitan, Tradisi Nelayan Syukuri Hasil Laut Melimpah

Saat ini harga Pertalite tetap berada di level Rp10.000 per liter, sementara Biosolar subsidi bertahan di Rp6.800 per liter sesuai ketentuan pemerintah.
 
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, juga menegaskan bahwa kenaikan hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi.

"Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," ujar Simon dalam unggahan akun Instagram @pertamina, Kamis, 11 Juni 2026.

Menurut pemerintah, pengawasan terhadap perkembangan pasar energi global terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak terhadap kondisi energi nasional. Selain menjaga pasokan, pemerintah juga mengklaim terus memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi dan pasokan.

Meski demikian, kebijakan mempertahankan harga BBM subsidi menyisakan pertanyaan yang relevan bagi publik: sampai kapan ruang fiskal mampu menopang subsidi ketika tekanan harga energi global terus berlangsung?

BBM Subsidi Tetap Ditahan, Seberapa Lama APBN Mampu Bertahan?
Saat harga BBM nonsubsidi berlari mengikuti pasar, BBM subsidi masih diminta tetap duduk manis menjaga daya beli rakyat. Foto SPBU di kota Pagar Alam, Sumsel

 

Di satu sisi, kebijakan tersebut menjadi bantalan bagi jutaan masyarakat berpenghasilan rendah. Namun di sisi lain, semakin besar selisih antara harga keekonomian dan harga jual subsidi, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi negara dalam menjaga keberlanjutan anggaran dan ketahanan energi nasional.

 

 

Baca juga:
Makna Hijrah di Balik Meriahnya Pawai Obor 1 Muharam di Bandung Barat

"Geopolitik dunia boleh bergejolak, harga minyak boleh melonjak. Namun tugas BBM subsidi tetap sama: menjadi penyangga yang diharapkan kuat tanpa batas."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #HargaBBM #Pertamax #ESDM #Pertalite #EkonomiIndonesia

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال