GalaPos ID, Jakarta.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi melaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai arus dana keluar (outflow) dari pasar saham Indonesia yang belakangan menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
![]() |
| OJK mengungkap penyebab investor asing keluar dari pasar saham Indonesia. Faktor global disebut dominan, namun publik diminta kritis melihat kondisi fundamental ekonomi domestik. Foto: OJK |
"Arus dana asing kabur dari pasar saham Indonesia memicu kekhawatiran—benarkah hanya faktor global, atau ada persoalan mendasar di dalam negeri?"
Baca juga:
- Hotel Bali Andalkan Pengelolaan Sampah Mandiri, Investasi Teknologi Mahal
- Bisnis Ikan Nila Menggiurkan, Tapi Biaya Pakan Jadi Penentu
- Okupansi Hotel Mataram Tertekan, Event Nasional Jadi Harapan
Gala Poin:
1. Outflow investor asing dipicu faktor global, terutama kebijakan suku bunga tinggi AS
2. OJK klaim fenomena hanya sementara, namun publik perlu waspada
3. Reformasi transparansi dilakukan, tetapi ketahanan pasar domestik masih diuji
Aksi jual bersih investor asing tersebut menjadi sorotan karena berdampak langsung pada stabilitas pasar dan kepercayaan publik terhadap ekonomi nasional.
"Terjadi outflow karena memang saat ini kondisi dari faktor geopolitik dan geoekonomi secara global, di mana tentu kalau dari The Fed higher for longer, makanya ada outflow," kata Kiki di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Kebijakan higher for longer oleh bank sentral Amerika Serikat membuat suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu panjang. Dampaknya, investor global cenderung menarik dananya dari negara berkembang seperti Indonesia dan mengalihkannya ke aset berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Namun, penjelasan tersebut memunculkan pertanyaan publik: apakah benar tekanan hanya berasal dari faktor global, atau justru memperlihatkan kerentanan pasar domestik yang belum sepenuhnya kuat?
Baca juga:
Reintegrasi Sosial Lewat Budidaya Ikan Nila di Minahasa Utara
"Seluruh hal-hal yang menjadi concern dari global investor terkait dengan transparansi dari pasar modal Indonesia, di mana data dari 1 persen pemegang saham sudah kita buka," ujarnya.
Selain itu, regulator juga meningkatkan kedetailan data pasar, termasuk memperluas klasifikasi investor dari 9 menjadi 39 kategori, membuka data Ultimate Beneficial Ownership (UBO), serta menaikkan batas free float menjadi 15 persen.
"Granularity dari data dari 9 klasifikasi menjadi 39, sudah kita sampaikan secara sangat granular. Kemudian Ultimate Beneficial Owner juga sudah kita sampaikan. Juga satu lagi terkait likuiditas, yaitu untuk free float di atas 15 persen dengan stages (tahapan) yang kita sampaikan," imbuh Kiki, sapaan akrab Friderica.
![]() |
| Arus dana asing kabur dari pasar saham Indonesia memicu kekhawatiran—benarkah hanya faktor global, atau ada persoalan mendasar di dalam negeri? Foto: OJK |
Meski berbagai reformasi telah dilakukan, tantangan utama tetap pada ketahanan pasar domestik terhadap gejolak global. OJK pun mendorong peningkatan jumlah investor dalam negeri sebagai bantalan stabilitas.
"Kita pendalaman pasar, bagaimana investor domestik kita tingkatkan supaya kalau terjadi gonjang-ganjing di luar, tetap lebih stabil market kita," pungkasnya.
Dalam perspektif kepentingan publik, langkah tersebut penting, namun belum tentu cukup. Tanpa penguatan fundamental yang konsisten dan kepercayaan yang terjaga, pasar modal Indonesia masih berisiko rentan terhadap tekanan eksternal.
Baca juga:
Cara Efektif Membuat Press Release agar Dilirik Media Nasional
"OJK mengungkap penyebab investor asing keluar dari pasar saham Indonesia. Faktor global disebut dominan, namun publik diminta kritis melihat kondisi fundamental ekonomi domestik."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #IHSG #OJK #InvestorAsing #EkonomiIndonesia #PasarModal
.jpeg)
%20Friderica%20Widyasari%20Dewi%20Investor%20Asing%20Fed%20%20Faktor%20Global%20Saham%20Ekonomi%20Trading%20Kiki.jpeg)