GalaPos ID, NTB.
Di tengah keterbatasan anggaran dan tekanan low season, Pemerintah Kota Mataram mengandalkan agenda nasional berskala besar untuk menyelamatkan tingkat hunian hotel yang sempat merosot hingga 20 persen.
Strategi ini dinilai sebagai langkah paling realistis menjaga denyut industri perhotelan tetap hidup.
![]() |
| Penurunan okupansi hotel di Senggigi memicu kekhawatiran PHK. Industri perhotelan kini bertahan di tengah tekanan ekonomi global dan minimnya ekspansi. Foto: RS |
"Okupansi hotel Mataram sempat jatuh ke 20 persen. Event nasional kini jadi tumpuan utama."
Baca juga:
- Hunian Hotel Anjlok, Industri Pariwisata Senggigi Tertekan
- Dari Tradisi ke Inovasi, Tremas Kembangkan AI dan Robotik ke Santri
- Kisah Warga Pare Ikut Pecel Baris: Belajar Bahasa Inggris di Usia 57 Tahun
Gala Poin:
1. Okupansi hotel Mataram sempat turun hingga 20–35 persen
2. Event nasional jadi strategi utama mendongkrak hunian
3. Lama tinggal wisatawan rendah, jadi masalah struktural sektor pariwisata
Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Cahya Samudra, menyebut efisiensi anggaran membuat ruang gerak pemerintah daerah semakin sempit dalam menggelar event mandiri.
“Efisiensi anggaran terjadi di pemerintah daerah, termasuk di kami. Ruang untuk menggelar event besar secara mandiri jadi terbatas. Karena itu, kami mengandalkan agenda nasional sebagai penggerak utama agar okupansi hotel tetap stabil,” ujar Cahya, Selasa, 5 Mei 2026.
Kegiatan MICE berskala nasional kini menjadi tulang punggung. Setiap event besar terbukti langsung mendongkrak hunian hotel.
“Event MICE nasional ini efeknya sangat terasa. Begitu ada kegiatan besar, tingkat hunian hotel langsung meningkat karena tamu datang dalam jumlah signifikan,” tambahnya.
Baca juga:
Gibran Dorong Santri Ponpes Tremas Kuasai AI dan Robotik
Kondisi ini menunjukkan persoalan struktural: kunjungan ada, tetapi tidak berdampak maksimal pada ekonomi lokal karena durasi tinggal yang singkat.
Di sisi lain, pelaku industri mengakui tekanan tahun ini lebih berat dari biasanya. Kombinasi low season dan Ramadan memperdalam penurunan okupansi.
“Triwulan pertama itu memang low season. Tetapi tahun ini makin tertekan karena bertepatan dengan Ramadan,” ujar Ketua Asosiasi Hotel Kota Mataram, I Made Adiyasa, Minggu, 19 April 2026.
![]() |
| Okupansi hotel Senggigi melemah. Jika terus di bawah 40 persen, PHK disebut sulit dihindari. Foto: RS |
Ia mengungkapkan kondisi riil di lapangan masih jauh dari ideal.
“Sekarang masih belum bagus. Rata-rata hunian hotel di Mataram sekitar 20 sampai 35 persen,” katanya.
Harapan kini bertumpu pada sejumlah agenda besar. Kegiatan Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi dari Kemendagri pada 16 Mei 2026 diproyeksikan menghadirkan puluhan kepala daerah.
“Informasinya akan hadir empat gubernur dan sekitar 53 bupati serta wali kota. Ini tentu membawa rombongan cukup besar dan berdampak langsung pada kebutuhan kamar hotel,” ungkap Cahya.
Selain itu, pelantikan ISNU dengan sekitar 1.500 peserta serta ajang Porprov pada Juli 2026 menjadi momentum penting kebangkitan sektor ini.
Baca juga:
Langkah-Langkah Produksi Siaran Pers Profesional
“Kegiatan seperti ISNU ini menunjukkan Mataram sudah mulai dilirik sebagai tuan rumah event berskala besar. Ini peluang yang harus terus dijaga dan dioptimalkan,” tegas Cahya.
Meski optimistis, strategi ini menyisakan catatan kritis. Ketergantungan pada event eksternal menunjukkan lemahnya daya tarik wisata berbasis kunjungan mandiri. Tanpa perbaikan fundamental, lonjakan okupansi berisiko hanya bersifat sementara.
“Kami tidak bisa hanya bergantung pada kegiatan internal. Harus ada upaya aktif menarik event dari luar. Cara ini menjaga perputaran ekonomi tetap berjalan dan industri perhotelan terus bergerak,” tambahnya.
Baca juga:
Gratis! Pelatihan Bahasa Inggris untuk Ojol hingga UMKM di Pare Kediri
"Dinas Pariwisata Mataram mengandalkan event nasional untuk mengangkat okupansi hotel yang tertekan low season dan Ramadan."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Mataram #OkupansiHotel #EventNasional #PariwisataIndonesia #MICE
.jpg)
.jpg)