Hotel Bali Andalkan Pengelolaan Sampah Mandiri, Investasi Teknologi Mahal

GalaPos ID, Badung.
Sejumlah hotel di Bali masih mengandalkan pengelolaan sampah mandiri di tengah kontribusi sektor horeka yang mencapai 30–40 persen dari total timbulan limbah di Badung.
Di sisi lain, mahalnya teknologi pengolahan sampah mendorong pelaku industri mempertimbangkan skema investasi kolektif sebagai jalan keluar yang lebih realistis.

 

Hotel Bali Andalkan Pengelolaan Sampah Mandiri, Investasi Teknologi Mahal
Industri hotel di Bali memperkuat pengelolaan sampah mandiri di tengah kontribusi besar sektor horeka terhadap limbah. Biaya teknologi tinggi mendorong skema investasi kolektif sebagai solusi. Foto: istimewa

"Lonjakan sampah hingga 40 persen dari sektor pariwisata menekan Bali. Di tengah sorotan global, hotel-hotel memilih bertahan dengan sistem mandiri sambil menimbang investasi teknologi yang belum ramah biaya."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Sektor horeka menyumbang hingga 40 persen sampah di Bali, didominasi limbah organik.
2. Hotel masih mengandalkan pengelolaan mandiri karena biaya teknologi pengolahan sampah tinggi.
3. Skema investasi kolektif dan teknologi waste-to-energy menjadi solusi, tetapi tetap bergantung pada pemilahan dari hulu.


Di tengah tekanan isu lingkungan yang kian menguat, jaringan hotel yang tergabung dalam Bali Hotel Association (BHA) berupaya menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Namun, langkah tersebut belum sepenuhnya ditopang oleh adopsi teknologi modern karena kendala biaya.

Pengurus BHA, Franklyn Kocek, mengungkapkan bahwa meskipun teknologi pengolahan sampah, khususnya untuk limbah organik menjadi kompos telah tersedia di pasaran, biaya investasinya masih tergolong tinggi bagi sebagian hotel.

“Teknologi itu ada, tetapi harganya relatif mahal jika harus dimiliki masing-masing hotel. Karena itu, kami sedang mempertimbangkan skema pengadaan kolektif agar lebih efisien,” ujar Franklyn Kocek, Rabu, 6 Mei 2026.

Baca juga:
Cara Efektif Membuat Press Release agar Dilirik Media Nasional

Saat ini, mayoritas hotel masih mengedepankan pengelolaan sampah dari sumber. Praktik ini mencakup pemilahan limbah secara ketat, pengolahan organik mandiri, hingga penerapan konsep teba modern—kearifan lokal Bali yang dikombinasikan dengan pendekatan teknologi sederhana.
 
Selain itu, kerja sama dengan pihak ketiga juga dilakukan, terutama untuk menangani limbah dari sektor food and beverage (F&B), yang menjadi penyumbang utama sampah organik.

Sebagai bagian dari standarisasi, BHA yang beranggotakan 163 hotel tengah menyusun daftar vendor pengelola sampah bersertifikasi keberlanjutan. Upaya ini ditujukan untuk memastikan mitra pengelolaan limbah memiliki kredibilitas dan memenuhi standar lingkungan.

Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Badung menunjukkan bahwa sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) menyumbang sekitar 30 hingga 40 persen sampah, dengan sekitar 70 persen di antaranya berupa limbah organik. Angka ini memperlihatkan besarnya beban sektor pariwisata terhadap persoalan sampah di Bali.

Darurat Sampah Bali, Industri Hotel Soroti Mahalnya Teknologi Pengolahan
Lonjakan sampah hingga 40 persen dari sektor pariwisata menekan Bali. Di tengah sorotan global, hotel-hotel memilih bertahan dengan sistem mandiri sambil menimbang investasi teknologi yang belum ramah biaya. Foto: istimewa

 

Kondisi tersebut memicu dorongan terhadap solusi jangka panjang, termasuk pengembangan teknologi waste-to-energy yang mampu mengubah sampah menjadi energi listrik. Industri horeka menilai teknologi ini berpotensi mengurangi penumpukan sampah sekaligus menyediakan energi alternatif.

Namun, pelaku industri mengingatkan bahwa teknologi bukan solusi tunggal. Tanpa perubahan perilaku dan sistem pengelolaan dari hulu—terutama pemilahan sampah—efektivitas teknologi lanjutan dinilai tidak akan optimal.

Baca juga:
Hunian Hotel Anjlok, Industri Pariwisata Senggigi Tertekan

Di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan pascapandemi, isu sampah menjadi ujian serius bagi keberlanjutan pariwisata Bali. Pengelolaan limbah yang tidak optimal berisiko merusak citra internasional Pulau Dewata.

Karena itu, kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci. Tanpa langkah terpadu, ambisi menjadikan Bali sebagai destinasi wisata hijau berpotensi tertinggal dari tuntutan global.

 

Baca juga:
Dari Tradisi ke Inovasi, Tremas Kembangkan AI dan Robotik ke Santri

"Industri hotel di Bali memperkuat pengelolaan sampah mandiri di tengah kontribusi besar sektor horeka terhadap limbah. Biaya teknologi tinggi mendorong skema investasi kolektif sebagai solusi."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BaliBersih #PariwisataBerkelanjutan #SampahJadiEnergi

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال