MSCI Depak 6 Saham RI, IHSG dan Rupiah Terancam Makin Tertekan

GalaPos ID, Jakarta.
Pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan berlapis menjelang akhir Mei 2026. Di saat rupiah terus melemah terhadap dolar AS, pasar saham domestik juga diguncang keputusan MSCI yang menghapus enam saham Indonesia dari indeks global standar.

Saham RI Keluar dari MSCI, Arus Modal Asing Terancam Kabur
Pasar modal Indonesia kembali diuji: saham keluar dari indeks global, rupiah melemah, dan investor diminta tetap tenang seperti penumpang kapal bocor yang diberi pidato motivasi.

 

“Saat investor asing mulai keluar, publik kembali disuguhi kalimat sakti: fundamental ekonomi masih kuat.”

Baca juga:

Gala Poin:
1. MSCI menghapus enam saham Indonesia dari indeks global standar.
2. Pelemahan rupiah dan ketidakpastian global meningkatkan risiko capital outflow.
3. Keputusan BI dan risalah FOMC The Fed akan menjadi penentu arah pasar pekan ini.


Situasi ini membuat keputusan Bank Indonesia dalam RDG Mei 2026 menjadi sorotan utama investor.

MSCI resmi mengumumkan hasil review indeks global periode Mei 2026 dengan hasil yang mengecewakan pasar domestik. Tidak ada saham Indonesia baru yang masuk MSCI Global Standard Index, sementara enam saham justru dikeluarkan.

Saham tersebut adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Efek pengumuman itu diperkirakan masih terasa pada perdagangan awal pekan setelah pasar sempat terpotong libur panjang.

Keluarnya saham dari indeks MSCI berpotensi memicu penyesuaian portofolio investor global dan meningkatkan tekanan jual di pasar domestik.

Baca juga:
Diplomasi RI Diuji Usai Jurnalis Indonesia Ditahan Israel di Mediterania

Di tengah kondisi tersebut, nilai tukar rupiah justru terus melemah. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah sempat menyentuh Rp17.730 per dolar AS pada Selasa, 19 Mei 2026.
 
Peneliti ekonomi Great Institute, Ani Asriyah, menilai kondisi ini menuntut respons cepat dari Bank Indonesia.

“Dalam situasi ketidakpastian tinggi, ekspektasi sering kali menjadi determinan utama dalam pergerakan nilai tukar, sehingga langkah kecil namun kredibel dapat menghasilkan dampak yang signifikan dalam jangka pendek,” ujar Ani.

Ia menyarankan BI menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin demi menjaga kredibilitas kebijakan moneter.

Menurut Ani, langkah itu memiliki empat fungsi sekaligus, mulai dari menjaga stabilitas rupiah hingga memperbaiki daya tarik aset keuangan domestik.

“Pelemahan rupiah yang berlanjut berisiko memicu imported inflation, memperbesar beban utang valas, dan memperburuk persepsi risiko investor terhadap Indonesia,” tambahnya.

Rupiah Tembus Rp17.700, Pasar Modal Indonesia Dihantam Sentimen Ganda
IHSG diguncang, rupiah melemah, tapi rakyat tetap diminta percaya semuanya terkendali.

 

Namun, tidak semua ekonom sepakat soal kenaikan suku bunga.

Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri Permana, memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen demi menjaga pertumbuhan ekonomi domestik.

Menurut Fikri, BI tidak hanya memikirkan stabilitas rupiah, tetapi juga risiko perlambatan kredit dan investasi bila bunga dinaikkan terlalu cepat.

Sementara itu, perhatian pasar global juga tertuju pada risalah Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat yang akan diumumkan pada 21 Mei 2026.

The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5–3,75 persen. Namun, perpecahan suara di internal bank sentral AS menunjukkan ketidakpastian arah kebijakan moneter global masih sangat tinggi.

Baca juga:
Jejak Digital dan Press Release, Kunci Kepercayaan Publik

Kondisi geopolitik Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat membuat harga energi dunia bertahan tinggi dan memperbesar kekhawatiran inflasi global.

Bagi Indonesia, kombinasi tekanan eksternal dan keluarnya saham dari MSCI menjadi alarm serius terhadap risiko capital outflow.

Kini pasar menunggu satu pertanyaan besar: apakah Bank Indonesia cukup berani mengambil langkah tegas menjaga rupiah, atau kembali memilih menenangkan pasar lewat pernyataan normatif?'

 

 

Baca juga:
Tingkatkan Branding Bisnis dengan Paket Publikasi GalaPos ID

"Pasar modal Indonesia kembali diuji: saham keluar dari indeks global, rupiah melemah, dan investor diminta tetap tenang seperti penumpang kapal bocor yang diberi pidato motivasi."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #IHSG #MSCI #Rupiah #TheFed #BankIndonesia

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال