Dolar AS Menggila, Rupiah dan Emas Jadi Korban Ketidakpastian Global

GalaPos ID, Jakarta.
Gejolak pasar global kembali menghantam Indonesia. Tidak hanya rupiah yang nyaris menyentuh Rp18.000 per dolar AS, harga emas dunia juga ambruk di tengah kekhawatiran inflasi dan ancaman kenaikan suku bunga Amerika Serikat.

Dolar AS Menggila, Rupiah dan Emas Jadi Korban Ketidakpastian Global
Ketika perang memanas dan dolar AS menguat, rupiah terseret dan emas ikut tumbang. Publik kembali dihadapkan pada ironi klasik: rakyat diminta tenang saat pasar global justru panik berjamaah. Foto: ilustrasi

 

"Investor global sibuk mencari safe haven, rakyat Indonesia sibuk mencari harga sembako yang belum naik."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Rupiah dan emas sama-sama tertekan akibat penguatan dolar AS.
2. Konflik AS-Iran dan potensi kenaikan suku bunga The Fed memicu kepanikan pasar.
3. Defisit transaksi berjalan Indonesia memperbesar tekanan terhadap rupiah.


Pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, harga emas dunia ditutup turun 1,4 persen ke level US$4.508,46 per troy ons. Pelemahan terjadi setelah meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga.

Kondisi ini memperlihatkan perubahan besar perilaku investor global. Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat akibat konflik AS-Iran, investor justru lebih memilih dolar AS dibanding emas.

Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menyebut pasar obligasi mulai memperkirakan arah kebijakan The Fed kembali agresif.

“Pasar obligasi berpikir langkah suku bunga berikutnya dari Federal Reserve adalah kenaikan. Itu menjadi sentimen negatif bagi pasar emas hari ini,” ujar Jim Wyckoff, Selasa, 26 Mei 2026.

Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan Timur Tengah ikut memperbesar ketakutan inflasi global. Harga minyak Brent bahkan melonjak lebih dari 4 persen karena pasar khawatir distribusi energi melalui Selat Hormuz terganggu.

Baca juga:
Diskusi GalaPos ID: Algoritma Dinilai Mengendalikan Ruang Digital

Kondisi tersebut membuat investor global berbondong-bondong memburu dolar AS sebagai aset aman. Dampaknya, mata uang negara berkembang termasuk rupiah mengalami tekanan besar.
 
Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa mengatakan penguatan dolar AS saat ini dipicu kombinasi geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi.

“Kenaikan yield obligasi pemerintah AS serta tingginya volatilitas pasar global turut memberikan tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah,” ujar Amru, Selasa, 26 Mei 2026.

Menurut Amru, tekanan terhadap rupiah juga diperburuk kondisi domestik, terutama pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia.

Sementara itu, UBS memangkas target harga emas akhir tahun sebesar US$400 menjadi US$5.500 akibat risiko penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi.

Rupiah Melemah, Emas Terkapar: Investor Global Ramai-Ramai Cari Aman
Katanya emas aset aman, tapi saat dunia makin kacau, yang aman justru dolar AS. Foto: ilustrasi

 

Pasar kini menunggu rilis data inflasi AS melalui Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang dinilai akan menentukan arah kebijakan The Fed berikutnya.

Ironisnya, di tengah ancaman inflasi global dan pelemahan rupiah, masyarakat Indonesia berpotensi menghadapi tekanan berlapis: harga impor naik, biaya energi meningkat, dan daya beli makin tergerus.

Ketika investor global sibuk mencari aset aman, rakyat justru sedang mencari kepastian ekonomi yang terasa nyata di dapur mereka sendiri.

 

Baca juga:
Fakta Pilu Kekerasan Seksual Anak Kembar Surabaya, Pelaku Ayah Tiri Sendiri

"Ketika perang memanas dan dolar AS menguat, rupiah terseret dan emas ikut tumbang. Publik kembali dihadapkan pada ironi klasik: rakyat diminta tenang saat pasar global justru panik berjamaah."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #HargaEmas #RupiahMelemah #TheFed #DolarAS #EkonomiGlobal

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال