GalaPos ID, Jakarta.
Kecelakaan maut yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di kawasan Bekasi Timur memicu desakan kuat untuk evaluasi menyeluruh sistem keselamatan perkeretaapian nasional.
Tragedi ini menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai puluhan lainnya.
![]() |
| Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae mendesak evaluasi perlintasan sebidang dan sistem persinyalan untuk mencegah tragedi serupa. Foto: istimewa |
"Tabrakan maut kereta di Bekasi Timur membuka kembali luka lama: sistem keselamatan perlintasan dan persinyalan yang belum sepenuhnya andal."
Baca juga:
- OIC Bangun Ekosistem Wellness Premium, Solusi Tren Gaya Hidup
- Sendang Sreto Lamongan, Destinasi Sederhana yang Bikin Betah
- Pantai Lampon Kebumen: Indah Namun Berisiko, Ini Fakta Terbarunya
Gala Poin:
1. Kecelakaan menewaskan 15 orang dan memicu sorotan terhadap sistem KAI.
2. DPR menilai perlintasan sebidang dan persinyalan masih berisiko tinggi.
3. Investigasi transparan dan modernisasi sistem dinilai mendesak.
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, menyampaikan duka cita sekaligus menekankan pentingnya pembenahan sistem yang selama ini dinilai masih menyisakan celah risiko.
Ia juga mengapresiasi langkah cepat pemerintah, termasuk kunjungan Prabowo Subianto dalam memastikan penanganan korban. Selain itu, ia mendukung kebijakan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang menanggung biaya pemakaman korban meninggal serta perawatan korban luka.
Peristiwa bermula dari taksi yang mogok di perlintasan sebidang, memicu gangguan jalur hingga akhirnya terjadi tabrakan beruntun. Insiden ini kembali menyoroti persoalan klasik: perlintasan sebidang yang belum sepenuhnya aman.
Ridwan Bae menilai penggunaan palang pintu manual oleh masyarakat masih berisiko tinggi.
“Selain itu, pembangunan flyover atau underpass di wilayah dengan lalu lintas tinggi juga perlu dipercepat untuk meminimalkan potensi kecelakaan,” terang Ridwan Bae, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Selasa, 28 April 2026.
Baca juga:
Transformasi Sendang Sreto Lamongan, Potensi Besar di Balik Wisata Desa
Selain perlintasan, ia juga menyoroti sistem persinyalan dan komunikasi operasional yang dinilai belum optimal. Sistem tersebut seharusnya mampu memberikan informasi waktu nyata kepada masinis dan petugas stasiun.
Adanya jeda waktu antara insiden awal dan tabrakan susulan memperkuat dugaan adanya kelemahan sistem, baik dari sisi teknologi maupun faktor manusia.
Ridwan Bae menegaskan perlunya investigasi transparan untuk mengungkap penyebab pasti. Ia juga mendorong evaluasi menyeluruh guna memulihkan kepercayaan publik terhadap transportasi kereta api.
Di tengah tingginya ketergantungan masyarakat pada moda transportasi ini, keselamatan tidak bisa lagi menjadi aspek yang dinegosiasikan.
Sebelumnya, insiden tabrakan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Senin, 27 April 2026. malam sekitar pukul 20.55 WIB, diduga bermula dari sebuah taksi yang menabrak kereta rel listrik (KRL) di perlintasan sebidang.
Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta Franoto Wibowo menjelaskan bahwa sebelum terjadi tabrakan antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek 4 dengan KRL, rangkaian KRL lebih dahulu mengalami gangguan akibat temperan dengan kendaraan di jalur perlintasan langsung (JPL) kawasan Bulak Kapal.
“Jadi KRL-nya itu ada taksi yang menabrak KRL di JPL dekat Bulak Kapal,” ujar Franoto, Senin, 27 April 2026.
![]() |
| Tabrakan maut kereta di Bekasi Timur membuka kembali luka lama: sistem keselamatan perlintasan dan persinyalan yang belum sepenuhnya andal. Foto: istimewa |
Akibat tabrakan awal tersebut, KRL berhenti di lintasan rel. Pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek 4 relasi Gambir–Surabaya Pasarturi melaju di jalur yang sama dari arah belakang.
Kondisi ini memicu tabrakan susulan karena kereta jarak jauh tersebut tidak dapat berhenti tepat waktu saat mendekati rangkaian KRL yang tengah berhenti.
“Temperan itu yang membuat KRL terhenti. KRL berhenti, di belakangnya ada Kereta Argo Bromo,” ucap Franoto.
Benturan antara kedua kereta tidak terhindarkan dan menyebabkan gangguan besar pada operasional perjalanan kereta api di lintas Bekasi dan sekitarnya. Jalur rel di lokasi kejadian untuk sementara tidak dapat dilalui.
Baca juga:
Taichi dan Qi-Gong Jadi Sorotan di Surabaya, Momentum Kampanye Hidup Sehat
"Kecelakaan kereta di Bekasi Timur menewaskan 15 orang. DPR mendesak evaluasi perlintasan sebidang dan sistem persinyalan untuk mencegah tragedi serupa."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KecelakaanKereta #TransportasiIndonesia #KeselamatanPublik #BreakingNews #Infrastruktur

.jpeg)