Mengapa Kue Rintak Wajib Ada Saat Lebaran di Belitung?

GalaPos ID, Belitung.
Di tengah perubahan gaya hidup dan maraknya makanan modern, kue rintak tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu kue tradisional yang penting dalam budaya kuliner masyarakat Bangka Belitung, khususnya memasuki penghujung Ramadan.
Permintaan kue rintak diketahui meningkat tajam. Lonjakan ini terjadi seiring aktivitas warga yang mulai mempersiapkan kebutuhan Hari Raya Idulfitri, mulai dari pakaian hingga hidangan khas untuk menjamu tamu.

Mengapa Kue Rintak Wajib Ada Saat Lebaran di Belitung?
Salah satunya pemilik usaha rumah produksi kue rintak di Desa Baru, Kec. Manggar, Kab. Belitung Timur, Prov. Kepulauan Bangka Belitung, Agustryanti.

 

"Renyah, manis, dan lumer di mulut. Kue rintak bukan sekadar camilan Lebaran, tetapi bagian dari identitas kuliner masyarakat Bangka Belitung."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Kue rintak merupakan kue tradisional Bangka Belitung berbahan tepung sagu, santan, dan gula.
2. Teksturnya renyah dan lumer di mulut karena proses sangrai tepung dan pemanggangan api kecil.
3. Kue ini menjadi simbol tradisi Lebaran dan identitas kuliner masyarakat Belitung.


Kue kering ini dikenal memiliki tekstur renyah dan mudah lumer di mulut. Rasanya manis gurih dengan aroma khas santan dan pandan, menjadikannya hidangan yang hampir selalu hadir saat Idulfitri maupun acara adat.

Bahan utama kue rintak tergolong sederhana, yakni tepung sagu atau tapioka, santan kental, serta gula pasir atau gula aren. Dalam beberapa varian, adonan juga diberi tambahan jahe atau taburan wijen untuk memperkaya rasa.

Proses pembuatannya pun memiliki tahapan yang cukup khas.

Tepung sagu terlebih dahulu disangrai bersama daun pandan hingga ringan dan tidak berbau apek. Setelah itu, santan dimasak bersama gula hingga mengental sebelum dicampurkan dengan tepung dan bahan lain.

Adonan kemudian dibentuk menggunakan cetakan—biasanya berbentuk bunga atau bintang—lalu dipanggang dengan api kecil hingga kering.

Baca juga:
Amanda Rigby dan Andre Taulany Dijodohkan Netizen 


Teknik pemanggangan ini menjadi salah satu kunci utama agar kue rintak memiliki tekstur rapuh dan tidak keras.

Selain sebagai camilan Lebaran, kue rintak juga kerap disajikan dalam berbagai acara keluarga, seperti selamatan atau perayaan tahun baru.

Bagi masyarakat Bangka Belitung, kue ini bukan sekadar makanan ringan, melainkan bagian dari tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Tidak mengherankan jika setiap menjelang Idulfitri, permintaan kue rintak selalu meningkat. Kehadirannya di meja tamu seolah menjadi simbol keramahan sekaligus identitas kuliner lokal yang tetap dijaga hingga hari ini.

Kue Rintak: Kue Tradisional Bangka Belitung yang Lumer di Mulut

 

Salah satunya adalah rumah produksi kue rintak di Desa Baru, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pemilik usaha, Agustryanti, mengaku permintaan pelanggan terus meningkat sejak awal Ramadan.

“Pesanan dari pelanggan terus mengalir tanpa henti sejak awal bulan puasa,” kata Agustryanti, Rabu, 11 Maret 2026.

Menurutnya, tingginya pesanan memaksa dapur produksinya bekerja lebih keras dari biasanya. Selama Ramadan tahun ini, usaha miliknya telah melakukan produksi hingga tujuh kali putaran untuk memenuhi permintaan pasar.

 

Baca juga:
Babak Baru Iran: Mojtaba Gantikan Ayahnya yang Syahid, IRGC Siap Perang Total

"Kue rintak merupakan kue tradisional Bangka Belitung berbahan tepung sagu, santan, dan gula. Hidangan ini selalu hadir saat Idulfitri dan acara adat."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KueRintak #KulinerBangkaBelitung #WarisanKuliner #LebaranNusantara #KulinerTradisional

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال