GalaPos ID, Jakarta.
Setiap menjelang akhir Ramadan, satu pertanyaan selalu muncul di tengah masyarakat: kapan Lebaran akan dirayakan? Di Indonesia, penentuan Hari Raya Idul Fitri tidak hanya bergantung pada satu metode.
Pemerintah menggunakan kombinasi perhitungan astronomi dan pengamatan langsung hilal yang kemudian diputuskan melalui sidang isbat.
"Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah membuat tanggal Lebaran kadang tidak sama. Di Indonesia, pemerintah menggunakan kombinasi perhitungan astronomi dan pengamatan hilal sebelum menetapkan Idul Fitri."
Baca juga:
- Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi BRIN, BMKG, dan Sidang Isbat Kemenag
- Dari 1970 hingga 2026, Evolusi Bundaran Air Mancur Palembang
- Di Tengah Tekanan Ekonomi Kota, Solidaritas Anak Muda Tebet Bantu Anak Yatim
Gala Poin:
1. Penentuan Idul Fitri di Indonesia menggunakan kombinasi metode hisab dan rukyat.
2. Pemerintah memakai standar visibilitas hilal dari kriteria MABIMS.
3. Perbedaan metode astronomi dapat menyebabkan tanggal Lebaran berbeda.
Metode ini digunakan untuk menentukan awal bulan Hijriah, termasuk bulan Syawal yang menandai Hari Raya Idul Fitri.
Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentu
Dalam praktiknya, ada dua metode utama yang digunakan untuk menentukan awal bulan Hijriah.
Metode pertama adalah hisab, yaitu perhitungan astronomi yang menghitung posisi bulan secara matematis. Metode ini mampu memprediksi posisi hilal jauh hari sebelum waktu pengamatan.
Metode kedua adalah rukyat, yaitu pengamatan langsung terhadap hilal setelah Matahari terbenam pada tanggal 29 bulan Hijriah.
Di Indonesia, kedua metode tersebut digabungkan dalam proses penetapan resmi pemerintah.
Baca juga:
Simbol Budaya Melayu-Islam, Air Mancur Cempako Telok Ikon Baru Palembang
Penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia juga menggunakan standar yang disepakati negara-negara Asia Tenggara melalui forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Dalam kriteria terbaru, hilal dinyatakan mungkin terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka bulan berjalan biasanya digenapkan menjadi 30 hari.
Mengapa Tanggal Lebaran Bisa Berbeda
Perbedaan kriteria atau metode sering kali menyebabkan kemungkinan perbedaan penentuan awal bulan Hijriah.
![]() |
| Prediksi Idul Fitri 2026 di Indonesia mengarah pada 21 Maret 2026 berdasarkan data astronomi BRIN dan BMKG. Namun keputusan resmi tetap menunggu sidang isbat Kementerian Agama. Foto: istimewa |
Beberapa negara atau organisasi Islam menggunakan standar yang berbeda dalam menentukan visibilitas hilal. Akibatnya, tanggal Idul Fitri bisa berbeda antara satu negara dengan negara lainnya.
Namun di Indonesia, pemerintah tetap berupaya menjaga transparansi proses penentuan melalui sidang isbat yang melibatkan para ahli astronomi, ulama, serta perwakilan organisasi Islam.
Keputusan akhir kemudian diumumkan kepada publik setelah seluruh data hisab dan laporan rukyat diverifikasi.
Bagi masyarakat, proses ini bukan sekadar penentuan kalender, tetapi juga bagian dari tradisi keagamaan yang menyatukan umat dalam menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.
Baca juga:
Bazar Ramadan Murah Kodim 1714 Puncak Jaya Diserbu Warga
"Penentuan Idul Fitri di Indonesia dilakukan melalui sidang isbat yang menggabungkan metode hisab dan rukyat. Perbedaan kriteria astronomi dapat menyebabkan perbedaan tanggal Lebaran."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Hilal #IlmuFalak #LebaranIndonesia
.jpg)
.jpeg)