Menag Resmikan STAI Muslimah, Soroti Bahaya Tafsir Tanpa Literasi Bahasa Arab

GalaPos ID, Jakarta.
Di tengah menguatnya polarisasi pemikiran keagamaan dan derasnya arus informasi digital, kebutuhan terhadap ulama perempuan yang memiliki kapasitas akademik, pemahaman kontekstual, serta perspektif kebangsaan semakin mengemuka.
Menjawab tantangan tersebut, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meresmikan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Aisyah Binti Abu Bakar sebagai perguruan tinggi Islam khusus muslimah pertama di Indonesia.

Menag Resmikan STAI Muslimah, Soroti Bahaya Tafsir Tanpa Literasi Bahasa Arab
Indonesia kerap memperdebatkan tafsir agama di media sosial, tetapi jumlah perempuan ahli tafsir masih sangat terbatas. Kampus baru ini membawa harapan besar, meski publik tentu menunggu hasilnya, bukan sekadar pidato peresmian. Foto: istimewa

 

"Meresmikan kampus itu mudah, melahirkan pemikir Islam yang kritis, moderat, dan didengar publik adalah tantangan yang sesungguhnya."

Baca juga:
Gala Poin:
1. Menag Nasaruddin Umar meresmikan STAI Aisyah Binti Abu Bakar sebagai perguruan tinggi Islam khusus muslimah pertama di Indonesia dengan target mencetak mufassirah berkualitas.
2. Penguasaan bahasa Arab dan metodologi keilmuan dinilai menjadi kunci mencegah tafsir Al-Qur'an yang ekstrem sekaligus melahirkan pemikiran Islam yang moderat.
3. Keberhasilan kampus akan diukur dari kualitas lulusan, kontribusi akademik, dan kemampuannya menjawab persoalan umat, bukan sekadar seremoni peresmian.


Peresmian kampus ini tidak hanya menjadi penambahan institusi pendidikan tinggi, tetapi juga membawa harapan lahirnya mufassirah atau perempuan ahli tafsir yang mampu menjawab persoalan umat secara moderat, progresif, dan tetap berpijak pada Al-Qur'an serta Hadis.

Menurut Nasaruddin, penguasaan literasi bahasa Arab menjadi fondasi utama dalam memahami Al-Qur'an secara utuh. Ia menilai, pemahaman yang hanya bertumpu pada terjemahan atau pembacaan tekstual berpotensi melahirkan penafsiran yang menyimpang ke berbagai kutub ekstrem.

"STAI Aisyah Binti Abu Bakar ini harus mampu melahirkan mufassirah yang mumpuni. Kita butuh pemikiran-pemikiran baru yang segar, yang mampu menafsirkan Al-Qur'an sesuai dengan konteks budaya dan zaman kita di Indonesia, tanpa harus keluar dari koridor Al-Qur'an dan Hadis," kata Nasaruddin, dikutip dari siaran persnya, Sabtu, 18 Juli 2026.

Baca juga:
SMN Telusuri Museum Konferensi Asia Afrika, Saksi Lahirnya Dasasila Bandung

Pernyataan tersebut menyoroti persoalan yang lebih luas, yakni masih terbatasnya ruang bagi perempuan untuk tampil sebagai otoritas keilmuan Islam. Padahal, perkembangan masyarakat terus menghadirkan persoalan baru yang membutuhkan perspektif keagamaan yang adaptif tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar agama.
 
Nasaruddin menegaskan bahwa Islam memberikan penghormatan tinggi terhadap perempuan. Karena itu, ia mendorong mahasiswi agar berani membangun tradisi berpikir kritis melalui metodologi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Saya ingin di sini lahir pemikiran progresif. Berbeda pendapat boleh, selama argumen yang dibangun tetap berpijak pada metodologi keilmuan yang benar. Islam itu moderat, dan tugas kita adalah menerjemahkan nilai-nilai Islam tersebut ke dalam norma sosial yang relevan dengan kebutuhan zaman," ujarnya.

Selain penguatan kapasitas akademik, Menag juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan hidup sebagai bagian dari tanggung jawab moral umat beragama.

Sekolah Tinggi Islam Khusus Muslimah Pertama Diresmikan, Menag Tekankan Islam Moderat
Menag Nasaruddin Umar meresmikan STAI Aisyah Binti Abu Bakar sebagai perguruan tinggi Islam khusus muslimah pertama di Indonesia dengan target mencetak mufassirah berkualitas. Penguasaan bahasa Arab dan metodologi keilmuan dinilai menjadi kunci mencegah tafsir Al-Qur'an yang ekstrem sekaligus melahirkan pemikiran Islam yang moderat. Foto: istimewa

 

Ia berharap kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga ruang aman yang mendorong lahirnya perempuan berdaya, inklusif, dan memiliki kepedulian sosial.

"Jadilah mahasiswi yang jernih pemikirannya. Saya berharap kampus ini menjadi pusat pemberdayaan perempuan yang memberikan penguatan bagi nasionalisme, kemanusiaan, dan keislaman yang rahmatan lil 'alamin," pungkasnya.

Kehadiran STAI Aisyah Binti Abu Bakar menjadi langkah baru dalam pendidikan tinggi Islam Indonesia. Namun, tantangan sesungguhnya bukan hanya meresmikan kampus, melainkan memastikan kualitas pendidikan, kebebasan akademik, serta keberlanjutan riset agar cita-cita melahirkan mufassirah yang mampu menjawab persoalan masyarakat benar-benar terwujud.

Publik pada akhirnya akan menilai keberhasilan kampus ini bukan dari seremoni peresmian, melainkan dari kontribusi nyata para lulusannya bagi kehidupan berbangsa dan beragama.

 

 

 

Baca juga:
ARTOTEL Suites Aquila Bandung Kolaborasi dengan PTDI, Tawarkan Paket Wisata Edukasi

Media sosial penuh 'ahli tafsir' instan. Indonesia kini justru mencoba mencetak mufassirah lewat jalur akademik.

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #PendidikanIslam #Mufassirah #IslamModerat #PerempuanBerdaya #LiterasiKeagamaan

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال