GalaPos ID, Jakarta.
Di tengah menguatnya polarisasi pemikiran keagamaan dan derasnya arus informasi digital, kebutuhan terhadap ulama perempuan yang memiliki kapasitas akademik, pemahaman kontekstual, serta perspektif kebangsaan semakin mengemuka.
Menjawab tantangan tersebut, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meresmikan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Aisyah Binti Abu Bakar sebagai perguruan tinggi Islam khusus muslimah pertama di Indonesia.
"Meresmikan kampus itu mudah, melahirkan pemikir Islam yang kritis, moderat, dan didengar publik adalah tantangan yang sesungguhnya."
Baca juga:Gala Poin:
- Di Balik Gurihnya Olahan Usus, Ada Ancaman Kesehatan
- Spanyol vs Argentina: New Jersey Jadi Ujian Lionel Messi di Final Piala Dunia 2026
- Rumah Batik Komar Bongkar Miskonsepsi Batik, Warisan UNESCO
1. Menag Nasaruddin Umar meresmikan STAI Aisyah Binti Abu Bakar sebagai perguruan tinggi Islam khusus muslimah pertama di Indonesia dengan target mencetak mufassirah berkualitas.
2. Penguasaan bahasa Arab dan metodologi keilmuan dinilai menjadi kunci mencegah tafsir Al-Qur'an yang ekstrem sekaligus melahirkan pemikiran Islam yang moderat.
3. Keberhasilan kampus akan diukur dari kualitas lulusan, kontribusi akademik, dan kemampuannya menjawab persoalan umat, bukan sekadar seremoni peresmian.
Peresmian kampus ini tidak hanya menjadi penambahan institusi pendidikan tinggi, tetapi juga membawa harapan lahirnya mufassirah atau perempuan ahli tafsir yang mampu menjawab persoalan umat secara moderat, progresif, dan tetap berpijak pada Al-Qur'an serta Hadis.
Menurut Nasaruddin, penguasaan literasi bahasa Arab menjadi fondasi utama dalam memahami Al-Qur'an secara utuh. Ia menilai, pemahaman yang hanya bertumpu pada terjemahan atau pembacaan tekstual berpotensi melahirkan penafsiran yang menyimpang ke berbagai kutub ekstrem.
"STAI Aisyah Binti Abu Bakar ini harus mampu melahirkan mufassirah yang mumpuni. Kita butuh pemikiran-pemikiran baru yang segar, yang mampu menafsirkan Al-Qur'an sesuai dengan konteks budaya dan zaman kita di Indonesia, tanpa harus keluar dari koridor Al-Qur'an dan Hadis," kata Nasaruddin, dikutip dari siaran persnya, Sabtu, 18 Juli 2026.
Baca juga:
SMN Telusuri Museum Konferensi Asia Afrika, Saksi Lahirnya Dasasila Bandung
"Saya ingin di sini lahir pemikiran progresif. Berbeda pendapat boleh, selama argumen yang dibangun tetap berpijak pada metodologi keilmuan yang benar. Islam itu moderat, dan tugas kita adalah menerjemahkan nilai-nilai Islam tersebut ke dalam norma sosial yang relevan dengan kebutuhan zaman," ujarnya.
Selain penguatan kapasitas akademik, Menag juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan hidup sebagai bagian dari tanggung jawab moral umat beragama.
Ia berharap kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga ruang aman yang mendorong lahirnya perempuan berdaya, inklusif, dan memiliki kepedulian sosial.
"Jadilah mahasiswi yang jernih pemikirannya. Saya berharap kampus ini menjadi pusat pemberdayaan perempuan yang memberikan penguatan bagi nasionalisme, kemanusiaan, dan keislaman yang rahmatan lil 'alamin," pungkasnya.
Kehadiran STAI Aisyah Binti Abu Bakar menjadi langkah baru dalam pendidikan tinggi Islam Indonesia. Namun, tantangan sesungguhnya bukan hanya meresmikan kampus, melainkan memastikan kualitas pendidikan, kebebasan akademik, serta keberlanjutan riset agar cita-cita melahirkan mufassirah yang mampu menjawab persoalan masyarakat benar-benar terwujud.
Publik pada akhirnya akan menilai keberhasilan kampus ini bukan dari seremoni peresmian, melainkan dari kontribusi nyata para lulusannya bagi kehidupan berbangsa dan beragama.
Baca juga:
ARTOTEL Suites Aquila Bandung Kolaborasi dengan PTDI, Tawarkan Paket Wisata Edukasi
Media sosial penuh 'ahli tafsir' instan. Indonesia kini justru mencoba mencetak mufassirah lewat jalur akademik.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #PendidikanIslam #Mufassirah #IslamModerat #PerempuanBerdaya #LiterasiKeagamaan
.jpg)
.jpg)